Film dokumenter Indonesia dan Eagle awards

Setelah kasus intervensi Surya Paloh dalam liputan Lapindo yang bertujuan untuk menjatuhkan rivalnya–Aburizal Bakrie–dalam kampanye pemilihan ketua umum Golkar, proyek idealis yang bertajuk Eagle Awards Documentary Competition dari MetroTV cukup mengobati kekecewaan saya terhadap stasiun televisi ini. Kebetulan pula sejak pertama kali digelar pada tahun 2005 saya hanya melewatkan sekali, selebihnya saya selalu berkesempatan menonton film dokumenter dari para pemenangnya a.l, Suster Apung, Kepala Sekolahku Pemulung, dan Prahara Tsunami berbuah Hutan Bakau dan yang terakhir kali ini Gorila dari Gang Buntu.

Ketika menonton film-film dokumenter dari luar negeri (BBC, Deutsche Welle, Discovery Channel, National Geographic), terbersit angan-angan kapan film dokumenter serupa bisa dihasilkan oleh anak negeri ini. Dengan kekayaan alam dan budaya yang terbentang dari Aceh sampai Papua, kita tidak akan kehabisan sumber inspirasi untuk menghasilkan karya-karya dokumenter yang bermutu. Juga kompleksitas permasalahan yang dihadapi bangsa ini ataupun geliat masyarakat di akar rumput bisa menjadi ide cerita kreatif yang bertujuan untuk menciptakan optimisme agar kita bisa keluar darinya dan mengejar ketertinggalan negara kita dibanding negara-negara Simata (Singapura, Malaysia, Thailand).

Setelah film Suster Apung yang memotret kehidupan suster yang bertugas di pulau-pulau yang terletak di Selat Makassar dan Laut Folres, saya berharap akan ada lagi sebuah film dokumenter yang memotret kehebatan perahu Sandeq dan pelaut suku Mandar dari Sulawesi Barat. Perahu Sandek adalah jenis perahu layar bercadik (trimaran) yang tercepat di kawasan Austronesia. Setelah populasi dan popularitasnya menyusut akibat para nelayan Mandar beralih ke perahu bermesin diesel, seorang antropolog dari Perancis (Christian Pelras) kembali menghidupkan jenis perahu ini dan memprakarsai kegiatan lomba perahu layar tahunan Sandeq Race dari Mamuju (Sulbar) ke Pantai Losari, Makassar (Sulsel). Sandeq ini menjadi sangat menarik jika anda berkesempatan menyaksikan aksi pattimbang dari awak perahu. Pattimbang adalah aksi awak perahu yang berloncatan di atas cadik yang licin karena dilapisi minyak untuk menyeimbangkan perahu ketika bermanuver tanpa terjatuh ke laut.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s