Resensi The Geograpgy of Bliss|Kisah seorang penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara paling membahagiakan

Apakah orang-orang di Swiss lebih bahagia karena negara mereka paling demokratis di dunia? Apakah penduduk Qatar menemukan kebahagiaan di tengah gelimang dolar dari minyak mereka? Apakah raja Bhutan seorang pengkhayal karena berinisiatif memakai indikator kebahagiaan rakyat yang disebut Gross National Happiness sebagai prioritas nasional? Kenapa penduduk di Islandia yang suhunya sangat dingin dan jauh dari mana-mana, termasuk negara yang warganya paling bahagia di dunia? Kenapa di India kebahagiaan dan kesengsaraan bisa hidup berdampingan?

Ditulis dengan wawasan yang dalam dan kocak, buku ini membawa pembaca ke tempat-tempat yang unik dan bertemu dengan orang-orang yang, anehnya, tampak akrab. Sebuah bacaan ringan yang sekaligus memancing intelektualitas pembaca.

=========================================================================

Semua hal yang ditulis di atas adalah benar kecuali satu hal yaitu “sebuah bacaan ringan”. Sebenarnya buku ini tidak benar-benar bacaan ringan kecuali bagi mereka yang selama ini berkutat di bidang ilmu sosial. Justru wawasan mendalam yang dimiliki oleh penulisnya membuat ia mampu menyajikan berbagai macam teori maupun konsep dari banyak pemikir besar untuk menerangkan ataupun mengupas fenomena yang banyak ia temui selama perjalanannya ke beberapa negara.

Yang pasti buku ini benar-benar mendorong intelektualitas kita. Buku ini mengajak kita untuk berhenti sejenak untuk memikirkan konsep kebahagiaan yang kita miliki lalu membandingkan dengan konsep-konsep kebhagiaan dari orang (negara) lain. Ataupun sekedar mentertawakan keanehan, ironi ataupun keabsurdan konsep kebahagiaan lain tanpa bermaksud merendahkan ataupun melecehkan.

Sebuah memoar perjalanan yang banyak berbicara tentang orang-orang dan pemikirannya dari tempat-tempat yang disinggahi penulisnya ternyata bisa sangat menarik dan (sekali lagi) memancing intelektualitas kita.

The Geography of Bl.iss

Ketika aku selesai membaca satu bab tentang Qatar, tiba-tiba saja aku teringat dengan lirik dari salah satu lagu Maher Zain, Awaken.

We were given so many prizes
We changed the desert into oasis
We built buildings of different lengths and sizes
And we felt so very satisfied
We bought and bought
We couldn’t stop buying
We gave charity to the poor ’cause
We couldn’t stand their crying
We thought we paid our dues
But in fact
To ourselves we’re just lying

We felt our money gave us infinite power
We forgot to teach our children about history and honor
We didn’t have any time to lose
When we were.. (were)
So busy feeling so satisfied

Toko Buku Salemba – Mall Lippo Cikarang

Well, I’m a little bit surprised. Berhentinya operasi Book City di Mall Lippo Cikarang sebulan yang lalu ternyata segera diisi oleh toko buku baru yakni Toko Buku Salemba. Meski berganti toko buku tetapi aroma Book City masih tercium kuat karena properti dan layout-nya masih menggunakan yang lama. Seolah-olah hanya berganti nama dan isi saja.

Toko Buku Salemba - Mall Lippo Cikarang

Dari segi koleksi, macam dan ragamnya justru terasa lebih sedikit. Semoga saja karena toko buku ini masih baru di Cikarang.

Kemarin aku sudah terasa betapa tidak enak dan tidak nyamannya jika di lingkungan kita tidak memiliki toko buku. Walaupun belum tentu selalu membeli buku ketika ke toko buku akan tetapi setidaknya kita mengetahui perkembangan pengetahuan melalui koleksi buku-buku disuatu toko buku. Begitu juga orangtua yang hendak membelikan bahan-bahan bacaan ataupun buku-buku suplemen selain buku-buku resmi dari sekolah pasti akan kesulitan. Selain itu toko buku adalah salah satu alasan bagi sebagian orang tetap mengunjungi mall.

Yang menarik dari Toko Buku Salemba adalah koleksi dari roman, buku-buku cerita rakyat maupun terjemahan dari masa-masa keemasan Balai Pustaka dan Dian Rakyat. Di toko buku ini aku menjumpai Belenggu karya Armin Pane, Atheis karya Achdiat Kartamiharja, Anak Perempuan di Sarang Penyamun karya St Takdir Alisyahbana dan beberapa roman lain dari Balai Pustaka misalnya Salah Pilih karya Nur St Iskandar.

Sambil menunggu kepastian Gramedia membuka toko bukunya di CityWalk, kehadiran Toko Buku Salemba ini cukup menghibur.

Roman angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru di Toko Buku Salemba, Mall Lippo Cikarang

Islamic Book Fair 2012|Kuat dan Mandiri dengan Pendidikan Qurani

Dari tahun ke tahun perhelatan Islamic Book Fair menujukkan perkembangan yang menggembirakan. Jumlah pengunjung meningkat pesat begitu pula nilai transaksi atau penjualan selama pekan buku ini berlangsung.

Jumlah pengunjung Islamic Book Fair

Pada Islamic Book Fair 2012 ini diperkirakan jumlah pengunjung akan mencapai 395 ribu orang. Sepertinya tidak lama lagi jumlah pengunjung IBF akan menembus angka 500 ribu. Tidak heran jika dari tahun ke tahun Istora terasa sesak selama pekan buku berlangsung. Dalam beberapa tahun ke depan harus dicari tempat yang lebih representatif agar pengunjung merasa nyaman.

Buku-buku Islam yang dalam beberapa dekade lalu hanya menjadi pelengkap pasar buku nasional kini justru menjadi salah satu segmen utama. Populasi umat Islam yang besar, meningkatnya pendapatan masyarakat dan budaya baca turut mendorong semaraknya buku-buku Islam. Tidak boleh dilupakan juga maraknya gerakan dakwah dari berbagai organisasi Islam yang membuat anggotanya membutuhkan buku-buku referensi keIslaman. Bukan tidak mungkin jika suatu saat Indonesia Islamic Book Fair ini akan menjadi kiblat bagi pekan buku semacam Frankfurt Book Fair.

Bagi anda penggemar buku jangan lewatkan IBF 2012 yang akan berlangsung pada 9-18 Maret 2012. Selain buku-buku Islam pada pekan buku ini juga hadir buku-buku umum dari penerbit buku umum sendiri maupun penerbit buku-buku Islam yang kini melebarkan sayapnya. Jangan heran jika novel-novel terjemahan dari luar negeri banyak dijumpai pada pekan buku ini.

Nilai penjualan Islamic Book Fair

Sumber data : IKAPI (diolah kembali dari Republika, 9 Februari 2012)

(Resensi) buku Relawan Dunia karya Firman Venayaksa, Langlang Randhawa dkk dari Rumah Dunia

Walaupun sudah lama mendengar nama Gol A Gong (dulu Gola Gong) tetapi aku jarang menikmati karya-karyanya. Meski begitu kiprahnya di Rumah Dunia pernah kubaca di majalah.

Tak disangka pada IBF 2011 di hari Sabtu 3 Desember aku bertemu dengan pengarang multitalenta ini. Awalnya aku tertarik dengan adanya “keributan” di stand KPG. Rupanya di situ ada peluncuran buku baru. Si pengarang beserta bala tentaranya berkoar-koar mempromosikan buku-bukunya yang baru terbit yang berjumlah tiga buah.

Buku Relawan Dunia dan tanda tangan pengarangnya

“Pak, Bu! Kenal dengan Gol A Gong tidak?!” Emangnya ente artis yang tiap hari muncul di layar kaca? Beberapa orang yang gemar mengikuti dunia perbukuan, pernovelan atau pembaca majalah Hai di tahun 80-90an mungkin masih kenal.

“Oh, yang tadi muncul di TV ya?”, beberapa orang mengenali dirinya. Sayang aku tidak punya televisi jadi aku tidak tahu kemunculan si Gol A Gong ini dalam acara bertajuk apa.

Ohh, ini ya si Gol A Gong. Pengarang yang identik dengan Balada Si Roy ini sudah kelihatan berumur. Rambutnya yang panjang sebahu mulai ditumbuhi uban. Posturnya yang tegap dan tinggi masih nampak gagah. Gayanya masih seperti anak muda dengan celana dan jaket jeans dan sepatu trekking. (Memangnya kalau sudah tua tidak boleh bergaya seperti itu :P ).

Awalnya aku kurang tertarik dengan buku-buku mereka. Tetapi embel-embel bahwa royaltinya akan disumbangkan untuk kegiatan Rumah Dunia meluluhkan ketidaktertarikanku. Plus bonus tandatangan dari pengarang-pengarangnya akhirnya mendorongku untuk memungut dua buah buku dan berjalan ke kasir.

Relawan Dunia dan Mother Bukan Monster akhirnya mengisi keranjangku. Di buku Relawan Dunia aku mendapatkan tanda tangan dari tiga pengarangnya. Untuk buku Mother Bukan Monster aku mendapatkan tanda tangan dari Gol A Gong dan istrinya, Tias Tatanka. Buku ini sengaja kuhadiahkan untuk istriku sehingga aku minta disertakan nama istriku pada pengantar tanda tangannya.

Mother Bukan Monster

Semalam aku menjadikan buku Relawan Dunia sebagai pengantar tidur. Alih-alih membuatku terlelap buku ini justru mencegahku untuk tertidur dan mendorongku untuk terus melahap halaman demi halamannya. Kisah-kisah dari relawan sekaligus cantrik (kuanggap Rumah Dunia semacam padepokan) ini sungguh-sungguh memikat.

Jika di majalah aku hanya mendapat gambaran sekilas tentang aktivitas Rumah Dunia maka di buku ini aku mendapatkan gambaran secara gamblang betapa seru, padat, meriah, kreatif dan bermanfaatnya kegiatan-kegiatan mereka dalam menumbuhkan budaya dan ketrampilan literasi serta menyemaikan mimpi-mimpi dari anak-anak pinggiran.

Jerih payah tak kenal lelah dan tanpa pamrih dari Rumah Dunia berjasil menumbuhkan minat baca, ketrampilan menulis, keahlian berpidato, ketrampilan reportase dll dari anak-anak yang kebanyakan kurang beruntung secara ekonomi.

Ini tergambar dari beragamnya latar belakang relawan-relawan Rumah Dunia yang kini berhasil mengentaskan diri dari belenggu kemiskinan dan kebodohan. Ada pemulung, buruh pabrik, pembantu, penjual gorengan, dll yang berasal dari lingkungan sekitar yang berhasil menyemai, memupuk dan merawat impiannya hingga berbuah saat ini.

Oleh Gol A Gong anak-anak yang terbiasa dengan kehidupan yang liat dan keras itu digembleng dan ditempa di padepokannya. Awalnya mereka diperkenalkan dulu dengan belantara buku-buku dan diajak bersenang-senang dengan berbagai macam mainan yang jarang dimiliki oleh anak-anak pelosok. Mereka yang ingin mengikuti latihan menulis diwajibkan membawa karya mereka berupa puisi ataupun prosa.

Beberapa orang yang menonjol dan militan akhirnya dijadikan relawan dan diperbolehkan tinggal di Rumah Dunia. Tinggal di Rumah Dunia berarti mereka menjadi bagian dari keluarga Gol A Gong sehingga mereka makan dan minum dengan menu yang sama. Yang menggelitik, awalnya mereka malu-malu dan segan untuk makan bersama. Beberapa diantaranya malah mengendap-endap dan menunggu Gol A Gong dan keluarganya makan dulu. Meski mengendap-endap beberapa diantaranya justru menghabiskan makanan di dapur :)

Rumah Dunia dan relawannya (sumber: rumahdunia.com)

 

Relawan-relawan tersebut diajar untuk memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Saat ada satrawan besar yang mampir ke Rumah Dunia mereka selalu diperkenalkan agar tidak merasa canggung. Mereka diajar berpidato, mewawancarai orang-orang penting dan menulis berita bagi koran-koran lokal di Banten.

Banyak dari relawan-relawan tersebut akhirnya bisa bersekolah sampai perguruan tinggi dengan royalti dari buku/novel yang terinspirasi dari kisah mereka sendiri ataupun sumbangan dari donatur. Tidak sedikit pula yang membiayai pendidikannya dengan jerih payah sendiri berbekal pengetahuan, keterampilan dan jaringan yang dibangunnya melalui Rumah Dunia.

Kini relawan-relawan itu berhasil menjadi orang-orang yang barangkali tidak pernah terbersit dalam pikiran mereka ataupun sesuatu yang musykil pada awalnya andai mereka tidak bertemu dan “nyantrik” di Rumah Dunia. Bagi kita, bisa jadi prestasi mereka biasa-biasa saja. Tapi saat kita mengetahui latar belakang mereka maka itu adalah hasil dari kerja keras dan semangat yang luar biasa dari relawan itu sendiri juga Gol A Gong.

Beruntung kampung Ciloang (juga Indonesia) memiliki orang sekaliber Gol A Gong. Kini Rumah Dunia sudah menyebarkan gerakan budaya literasi ini ke seluruh Indonesia. Bahkan salah satu bagian terdepan di Laut Cina Selatan yakni Pulau Natuna sudah mereka rambah dan garap.

Buku sebagai kebutuhan pokok?

Orang-orang rela berdesak-desakan dan antri di depan kasir untuk mendapatkan buku-buku dengan harga murah layaknya mengantri sembako murah.

Tidak setiap saat ada kesempatan seperti ini maka tiga pekan raya buku tahunan tidak pernah dilewatkan oleh para pecinta buku (murah). Indonesia Book Fair, Indonesia Islamic Book Fair dan Pesta Buku Jakarta selalu diserbu oleh penggemar buku.

Pengunjung IBF 2011 menyerbu stand buku murah Gramedia

Tingginya antusiasme masyarakat menyambut ketiga pekan raya buku tersebut menunjukkan bahwa merek sangat menantikan buku-buku murah. Minimnya angka penjualan buku tidak semata-mata rendahnya minat baca tetapi sebagian disumbang oleh rendahnya daya beli masyarakat kita.

Pemerintah pun kurang memberikan dukungan bagi iklim perbukuan dalam negeri dimana buku-buku impor masih dianggap barang mewah yang dikenai pajak tinggi. Juga harga kertas dalam negeri yang semakin tinggi membuat biaya produksi buku selalu naik tiap tahun.

Subsidi BBM yang salah sasaran itu bolehlah dialihkan untuk subsidi kertas/buku agar harga buku terjangkau oleh sebagian besar masyarakat kita.

Menyerbu diskon buku

Indonesia Book Fair 2011 | Periplus diskon 50% semua buku | Mizan diskon 40-60% untuk buku anak

Salah tempat favoritku ketika menunggu keberangkatan di bandara adalah toko buku. Walaupun belum tentu membeli buku, toko buku bandara selalu menarik untuk dikunjungi daripada bete di ruang tunggu.

Salah satu toko buku bandara yang terbaik adalah Periplus. Penerbit buku dari Singapura ini koleksinya sangat lengkap dan memiliki banyak jenis buku untuk anak-anak. Banyak diantaranya adalah buku-buku aktivitas untuk membunuh rasa bosan di perjalanan dan menghabiskan waktu menunggu dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.Sayang, karena berstatus buku impor maka harganya mahal.

Kini di Indonesia Book Fair 2011, Periplus mendiskon semua buku-bukunya 50%. Banyak orang menjadi kalap dan memborong buku dalam jumlah besar. Kualitas buku-buku Periplus yang di atas rata-rata, desain yang menarik dan kreatif serta banyak ragamnya menjadi daya tarik utama.

Indonesia Book Fair 2011 - Periplus diskon 50% semua item

Di Indonesia Book Fair 2011 ini Periplus banyak menghadirkan buku-buku anak-anak, buku manajemen, desain, arsitektur, traveling, kerajinan dan ketrampilan serta buku-buku manajemen. Tidak ketinggalam novel-novel berbahasa Inggris.

Buku-buku anak-anak yang terdiri dari buku cerita, buku aktivitas, button books, flap book, buku-buku pengenalan huruf dan angka paling banyak dibeli orang tua.

Buku-buku aktivitas anak Periplus

==================

Mizan diskon 60%

Buku-buku anak-anak terbitan Mizan juga banyak yang diskon di kisaran 40-60%. Diantaranya buku-buku dongeng balita dan buku cerita pemula. Buku-buku dongeng dengan sampul hardcover dan beberapa diantaranya readboy Talking Book dijual dengan harga sangat murah.

Beberapa orang yang sepertinya guru-guru PAUD atau TK nampak memborong buku-buku ini.

Buku dongeng balita Mizan

==================

Erlangga for Kids

Buku-buku anak terbitan Erlangga diskonnya berkisar antara 15-20%. Salah satu yang menarik adalah Kartu Bentuk dan Warna, Kartu Memori dan Buku Aktivitas Perjalanan dan buku-buku cerita berstiker.

Buku dongeng dan buku aktivitas berstiker Erlangga

================

Tiga Serangkai

Penerbit buku dari Solo ini kali ini juga banyak menghadirkan buku-bukuu  anak-anak dengan harga murah terutama di stand bagian belakang. Buku-buku aktivitas anak maupun buku-buku pengenalan untuk Balita banyak yang dijual mulai harga 3000 dan 4000 saja.

Buku lain yang menarik adalah Kamus Tematik. Buku yang berisi beberapa kosakata bergambar ini dijual seharga 27.500. Sayang hanya ada dua tema yaitu Kelautan dan Pertanian.

Kamus Tematik untuk anak, Tiga Serangkai

 

Jika anda ingin mencari buku-buku untuk anak-anak anda jangan lewatkan Indonesia Book Fair 2011 (sampai 4 Desember 2011) di Istora GBK, Senayan.

Buku dongeng terbaik|365 dongeng dunia sepanjang masa

Sudah lama aku ingin memiliki sebuah buku dongeng untuk anak-anakku. Pernah kutemukan buku dongeng bagus terbitan Gramedia tetapi harganya sangat mahal, 180.000. Buku “365 Dongeng Dunia Sepanjang Masa” ini menawarkan sebuah buku dongeng berkualitas dengan harga yang terjangkau, 95.000.

365 Dongeng Dunia Sepanjang Masa

Tiga ratus enam puluh lima dongeng di dalamnya dijamin akan membuat anda tidak akan kehabisan bahan dalam mendongeng. Bisa jadi suara kita yang akan habis karena anak-anak terus meminta dibacakan dongeng lainnya.

Dihimpun dari berbagai belahan dunia, buku dongeng ini menghimpun berbagai legenda, epos, fabel maupun mitos yang sudah dipilah kandungan cerita dan pesannya. Bahasanya lugas sehingga mudah dipahami anak-anak.

Pada akhir dari tiap cerita terdapat rangkuman pesan moral dari tiap dongeng sehingga akan mempermudah kita dalam menyampaikannya tanpa harus bersusah payah merumuskan sendiri. Ilustrasi dari tiap dongeng cukup detil dan sangat menarik walaupun ukurannya cukup kecil.

Masih merasa 95.000 terlalu mahal untuk buku ini? Segera ke toko buku dan cek fisik bukunya. Lalu anda akan berkata bahwa 95.000 adalah harga yang pantas.

Rumah Seribu Malaikat|Sebuah Memoar Inspiratif

Tidak semua orang pernah ditawari merawat bayi orang lain. Tetapi itulah yang dialami Yuli. Bukan hanya sekali, tetapi lima kali. Sayangnya, kelima tawaran itu terpaksa ditolak. Kini, Yuli mendapat tawaran keenam. Apa yang harus dilakukan kali ini? Apa sebenarnya maksud Tuhan dengan semua ini?. *

Rumah Seribu Malaikat - sebuah memoar inspiratif tentang satu keluarga bersahaja yang membesarkan puluhan anak angkat

Rumah Seribu Malaikat

Rasanya kita masih sering mendengar betapa orang tua (tiri) memperlakukan secara berbeda anaknya (tiri) padahal ia sudah menjadi bagian keluarga. Bahkan perlakuan berbeda itu bisa saja terjadi pada anak kandung karena ada favoritisme, karena anak yang satu lebih pandai dari yang lain, karena yang satu lebih nakal dari yang lain, dsb.

Takjub, kagum dan mungkin masih tidak percaya itulah yang akan kita rasakan ketika membaca sinopsis pada bagian belakan buku ini. Orang tua paruh baya yang sudah memiliki empat orang anak dengan kondisi kesehatan yang tidak terlalu fit dan keuangan yang biasa-biasa saja bisa merawat dengan ikhlas, penuh amanah dan kasih sayang  puluhan bayi terlantar atau memang sengaja dititipkan oleh orang tua aslinya karena berbagai alasan

Salah satu bukti ketulusan mereka adalah mereka tidak pernah sedikitpun bermaksud memutuskan nasab/pertalian darah dengan orang tua kandung dari bayi-bayi tersebut. Semua bayi-bayi yang dititipkan pada mereka memiliki akta atas nama orang tua kandung mereka. Dan mereka berketetapan ketika bayi-bayi asuhanya sudah baligh, mereka akan diberi tahu orang tua kandung yang sebenarnya. Demikian juga mereka sudah berketetapan hati untuk tidak menceritakan kesulitan ekonomi mereka kepada orang lain ataupun meminta-minta sumbangan.

Membaca memoar ini anda akan melihat bagaimana mereka memperlakukan semua bayi yang dititipkan kepada mereka sama adilnya dengan anak kandung mereka. Anak-anak yang dititipkan tersebut mendapat perhatian, perawatan, makanan bahkan sekolah yang sama bagusnya. Dan ketika beberapa bayi sakit mereka sama cemasnya seperti anak kandung mereka jatuh sakit. Subhanallah!

Memoar ini secara tidak langsung juga akan mengajarkan kepada kita tips-tips dan kiat-kiat parenting. Misalnya bagaimana mereka mengatasi salah sau anak yang sangat hiperaktif dan sulit mmemusatkan perhatian dengan terapi mewarnai dan menggambar. Atau bagaimana Yuli memotivasi anak-anaknya yang tidak mau/berani menyanyi di kelas TK padahal di rumah mereka terbiasa menyanyi keras sekali.

Merawat dan membesarkan puluhan bayi tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.  Dan memoar ini seakan menjawab keraguan kita selama ini bahwa jika kita bersedekah Allah akan menggantinya dengan balasan berlipat ganda. Betapa mereka seringkali di saat kritis atau terpojok mendapatkan rejeki dan uluran tangan yang tidak terduga. Bahkan tukang sayur pun sering  memberikan harga spesial kepada mereka setelah mengetahui begitu banyaknya anak Yuli denga alasan mereka juga ingin menyantuni anak yatim.

Memoar bertabur hikmah ini sangat tepat untuk dijadikan salah satu bacaan untuk menemani hari-hari kita di bulan Romadon. Didalamnya akan banyak kita dapati kejadian kejadian lucu dari bayi-bayi mereka yang akan membuat kita tersenyum. Demikian juga banyak kejadian mengharukan yang akan membuat kita meneteskan air mata (minimal sembab :) )

Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. **

* Cuplikan dari sampul buku

** Al-Ma’un 1-3

Resensi novel|99 Cahaya di Langit Eropa

Novel yang diangkat dari kisah perjalanan ini memang banyak mengungkap jejak-jejak peradaban Islam di Eropa. Bahkan jejak-jejak peradaban itu masuk ke tempat-tempat sakral  Kristen di daratan Eropa. Diantaranya adalah berbagai macam kaligrafi bergaya Kufic pada lukisan-lukisan di Gereja, piring makan, lengkungan berbentuk ogive berjumlah ganjil pada gereja dan pada jubah raja Sisilia.

99 Cahaya di Langit Eropa

Belajar sejarah memang tidak harus kaku dan terpaku pada buku teks yang kering. Lewat novel ini kita menelusuri sejarah Islam di Eropa terutama dari masa Dinasti Umayyah dan Ustmaniyyah. Kita akan melihat jatuh bangunnya peradaban Islam yang pernah menyinari daratan Eropa. Lebih dari itu novel ini akan menggugah pemahaman dan perilaku beragama kita selama ini.

Lewat novel ini kita juga akan menyaksikan perjuangan imigran-imigran dari negara-negara muslim untuk mencari kehidupan yang lebih sebaik sekaligus menyebarkan cahaya Islam dan menghapus stereotipe negatif tentang Islam  yang sudah mengakar kuat di Eropa.

Latar belakang jurnalis yang dimiliki pengarang novel ini membuatnya sangat enak dibaca. Narasinya sangat deskriptif tetapi tidak bertele-tele. Pemilihan dialognya pun berbobot.

———————

Aku mengucek-ngucek mata. Lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus itu terlihat biasa saja. Jika sedikit lagi hidungku menyentuh permukaan lukisan, alarm di Museum Louvre akan berdering-dering. Aku menyerah aku tidak bisa menemukan apa yang aneh pada lukisan itu.
“Percaya atau tidak, pinggiran kerudung Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Illaaha Ilallah, Hanum, ” ungkap Marion akhirnya.

Virgin Mary and Child, karya Ugolino di Nerio (1280 - 1349). (sumber: en.wikipedia.org/wiki/Pseudo-Kufic)