Pertimbangan dalam membeli alat transportasi (sepeda, motor, mobil)

Salah satu peran yang bisa kita ambil untuk mengerem pemakaian energi, material dan mengurangi emisi gas karbon adalah memilih kendaraan yang paling kecil yang masih mampu mencukupi (mengangkut) kebutuhan transportasi kita. Jika dengan 100cc, 125cc sudah bisa mengangkut dua orang kenapa mesti memilih 150cc atau 200cc?

Seringkali pemilihan kita akan benda-benda penunjang kebutuhan hidup lebih didasari oleh faktor keinginan bukan kebutuhan. Kita membutuhkan kendaraan yang bisa mengantarkan kita ke tempat kerja (100cc). Akan tetapi kendaraan 200cc kelihatan lebih keren, macho dan gahar. Akhirnya kita pun menginginkan dan memboyong yang 200cc tersebut.

Semakin besar kendaraan yang kita miliki pasti konsumsi bahan bakarnya akan semakin tinggi. Untuk diri kita sendiri ini berarti pengeluaran yang lebih banyak (termasuk pajak yg lebih mahal). Untuk tiap kilometer yang sama kendaraan besar mengemisikan gas buang lebih banyak. Artinya, kendaraan besar lebih banyak menimbulkan polusi.

Emisi CO2 dari berbagai moda transportasi

Kendaraan yang besar juga memerlukan lebih banyak material. Artinya semakin banyak tanah yang dikeruk untuk mendapatkan besi/baja. Semakin banyak energi yang dibutuhkan oleh proses produksinya.

Pertimbangan ini juga berlaku ketika kita akan membeli sepeda. Serat karbon dan titanium yang banyak dipakai oleh sepeda-sepeda premium selain mahal juga membutuhkan lebih banyak energi dalam pemrosesannya dibandingkan aluminium atau baja.

Energi yang diperlukan untuk mengolah 1kg material (sumber: Michael Ashby, Materials-engineering science processing and design, hal. 490)

Memang sudah menjadi sifat dasar manusia untuk selalu menginginkan yang “ter”. Bisa jadi itu tercepat, terkuat, terbaru atau termahal. Padahal semua “ter” itu belum tentu “ter”baik bagi kita. Apakah salah memilih semua yang “ter” tersebut? Tokh yang kita pakai adalah uang kita dan halal.

Tidak cukup hanya mengandalkan benar dan salah kita bisa memilih untuk lebih bijaksana. Kita mesti memikirkan efek dari pilihan kita bagi diri kita sendiri, orang-orang di sekeliling kita ataupun lingkungan.

Sederhana dan secukupnya adalah kunci untuk mewariskan bumi ini bagi anak cucu kita di masa depan.

Menunggu pemerintah atau kita lakukan sendiri secara swadaya?

Tidak usah beli GPS dan ikut-ikutan melakukan pemetaan. Sudah ada pemerintah dengan Bakosurtanal yang akan mengerjakannya. Begitu alasan istriku ketika menolak proposalku untuk meminjam uang guna membeli GPS. Aku berargumen bahwa selain untuk menunjang hobi bersepedaku aku bisa membantu melakukan pemetaan dengan alat yang kumiliki.

GPS impian, Garmin 60Csx

Andai saja semua bisa dilakukan dan dikerjakan oleh pemerintah tentu banyak hal akan menjadi mudah. Tanpa bermaksud menjelekkan pemerintah kita bisa melihat sendiri betapa banyak hal yang seharusnya menjadi pekerjaan pemerintah justru terbengkalai atu tidak terurus. Hal inilah yang mendasari volunteering atau kerelawanan. Bahkan di negeri yang sudah maju sekalipun kerelawanan ini bersinergi dengan pemerintah di banyak bidang.

Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Sebagian besar dari kita tentu hapal dengan bunyi dari salah satu ayat di UUD negara kita ini. Lantas berapa banyak dari fakir miskin dan anak-anak terlantar itu yang dipelihara oleh negara? Bisakah kita membayangkan bagaimana jika tidak ada yayasan, panti sosial dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang mengambil alih peran tersebut?

Atau yang nyata-nyata terlihat di depan mata adalah peran swadaya masyarakat dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Jika pemerintah hanya bisa menyediakan rumah sakit yang biasanya hanya ada satu buah per kabupaten atau kota madya maka rumah sakit swasta bisa memiliki jangkauan yang lebih luas. Begitu juga lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola masyarakat menjadi penampung siswa-siswi yang tidak tertampung oleh sekolah negeri.

Karena itu bergerak dan ambillah peran yang bisa kita lakukan masing-masing tanpa harus menunggu pemerintah.

Jika sampai saat ini pemerintah belum bisa mengurai kemacetan ataupun mengurangi polusi udara maka mulailah bersepeda ke tempat kerja. Jika pemerintah mengeluh akibat APBN tersedot untuk BBM bersubsidi maka ambillah peran mengurangi subsidi BBM dengan bersepeda ke tempat kerja atau mengisi bahan bakar kendaraan anda dengan Pertamax atau Pertamax Plus (mobil-mobil keluaran tahun 2000 ke atas memang seharusnya memakai BBM jenis ini :) ).

Jika pemerintah belum bisa menyediakan pengetahuan yang murah dan mudah bagi warganya maka berkontribusilah untuk mengembangkan dan menyempurnakan Wikipedia berbahasa Indonesia.

Jika Bakosurtanal sampai saat ini belum bisa memetakan seluruh wilayah indonesia dengan detail maka manfaatkan GPS anda untuk mengunci koordinat dari tempat-tempat penting dan menarik atau justru tempat-tempat terpencil yang mungkin tidak pernah dilirik oleh pemerintah. Bisa jadi koordinat yang anda tambahkan untuk melengkapi peta Indonesia itu suatu saat sangat diperlukan misalnya ketika terjadi bencana alam. Berbekal koordinat yang sudah ada maka helikopter atau tim penolong bisa menjangkau lokasi dengan cepat dan tepat.

Gowes|Situ Wanayasa – Margaluyu – Sate Maranggi

Berbekal peta dari Om Hanif Marga maka dimulailah penelusuran trek Situ Wanayasa-Sate Maranggi. Mobil diparkir di Sate Maranggi lalu kami berlima naik ke Wanayasa dengan mobil pikap. Tarif sewa 250 ribu.

Situ Wanayasa - Purwakarta

Survey ini merupakan penjajagan trek untuk acara gowes akbar LGEIN Gowess (Klub Gowes PT LG Electronics Indonesia) yang rencananya akan dilaksanakan ada 19 November. Dari peta, secara keseluruhan  treknya memang berupa turunan tetapi kami harus mengetahui kondisi aktual treknya.

Tanjakan 2 di Wanayasa

Benar dugaan kami. Turunan itu tidak semulus di peta. Setidaknya kami mencatat ada delapan tanjakan yang cukup ngehe. Tanjakan terakhir sekaligus merupakan tanjakan yang terpanjang. Dari kejauhan terlihat berkelak-kelok mengular.

Single track @ hutan pinus

Trek ini merupakan gabungan dari trek onroad, makadam, jalan tanah, jalan beton dan gravel. Sepanjang perjalanan terdapat hutan pinus, hutan jati, hutan mahoni, hutan sengon, hutan karet dan sedikit perkebunan teh. Sebagian besar trek ini memang melintasi areal Perhutani dan PT Perkebunan Nusantara VIII.

The surveyors (Eka, Harun, Freski, Irawan, Tjipto)

Walaupun panjang trek hanya 36 km tetapi trek ini cukup menguras energi dan cairan tubuh. Selain beberapa tanjakan yang bisa membuat dengkul kesemutan juga udaranya cukup panas. Panasnya udara terutama sangat terasa ketika memasuki area hutan jati berbukit-bukit yang ketinggiannya berkisar antara 100 – 300 mdpl tetapi memiliki banyak tanjakan.

Turunan hutan jati

Tanjakan hutan jati

Tanjakan hutan jati

Pentingnya membawa ban dalam cadangan. Bisa jadi ini salah satu gowes terboros. Walaupun hanya berlima tetapi gowes kali ini menghabiskan tiga ban dalam. Uniknya itu semua untuk satu sepeda. Yang lebih mengherankan kempesnya ban dalam itu justru terjadi pada trek mulus jalan tanah. Padahal biasanya ban dalam menjadi kempes/bocor akibat terkena snake bite saat melibas makadam runcing.

Susahnya lagi sepeda yang yang kempes ternyata memakai rim yang tebal dimana valve-nya ternyata 1 cm lebih panjang. Beruntung salah satu sepeda memakai valve model tersebut. Jadilah kami memindahkannya ke sepeda yang kempes lalu ia kami pasangkan ban cadangan yang baru. Baru dipompa cukup keras tiba-tiba saja bannya meletus. Akhirnya dengan bersusah payang kami memaksakan ban dalam dengan valve pendek tersebut. Ujung valve yang hanya muncul 1,5 cm dari rim membuat kami sulit memompanya.

Dari beberapa trek gowes yang pernah kucoba, bisa jadi ini adalah salah satu trek yang paling komplit lintasannya. Jangan meremehkan panjang treknya yang hanya 36 km sebelum anda mencobanya. :)

Tanjakan terakhir di hutan jati. Mengular di kejauhan

Perkebunan karet

Baca peta. Belok kanan atau belok kiri ya?

Warung sate Maranggi - teh hangat nikmat

Warung sate Maranggi selalu ramai di jam makan siang

Jalur gowes Situ Wanayasa-Sate Maranggi (sumber: http://www.bikemap.net/user/hmarga)

Gowes | KM 0 Sentul nanjak sepanjang 11 km

Dimulai dari SPBU Petronas di Sentul City, trek sepanjang 11 km ini amat sangat populer bagi penggemar sepeda gunung maupun sepeda jalan raya. Apa daya tarik trek ini?

Pertama adalah pemandangan sepanjang Sentul City yang amat sangat rindang dengan jajaran pepohonan tinggi yang rapat mirip hutan hujan tropis. Ademnya lintasan ini bukan karena udaranya yang dingin/sejuk tetapi karena rimbunnya pepohonan tersebut.

Ademnya jalur sepeda Sentul City

Kedua karena lintasannya onroad maka anda bisa dengan leluasa menyalip goweser lain. Berbeda dengan beberapa single track yang sangat populer dimana sering terjadi antrian karena ada insiden atau goweser yang kesulitan di lintasan, misalnya RA-Gadog.

Ketiga full of tanjakan. Kecuali anda adalah atlit profesional atau pembalap amatir dijamin akan bermain di gigi 1-8, 1-9 atau malah 1-10. Beberapa goweser yang baru pertama kali melibas tanjakan panjang ataupun yang bermain XC datar mengakui kemiringan trek ini. Bahkan ketika gigi teringan sudah mentok denyut jantung ternyata tidak bisa direm sehingga mengharuskan mereka beristirahat.

The last attack menjelang KM 0

Keempat inilah trek yang membuktikan bahwa dengkul nomer satu setelah itu sepeda. Jangan heran jika anda akan menemukan banyak sepeda anjrit di lintasan ini. Sebagian memang sesuai dengan performa gowesernya bahkan ada yang bikin geleng-geleng kepala. Tetapi tidak sedikit juga yang dengkulnya tidak sebagus sepedanya.

Kelima sajian pisang sunpride yang super duper lezat. Setelah dengkul digeber habis sampai ngebul dan nafas kembang-kempis saatnya didinginkan dengan sajian pisang ranum ataupun minuman dingin di Warung KM 0. Di kalangan goweser pisang memang salah satu buah yang sangat direkomendasikan karena kalorinya cepat diserap tubuh, mengurangi rasa capek, dan mengandung provitamin A dan vitamin B6. Jangan heran jika warung KM0 bisa menghabiskan beberapa tandan pisang di hari Sabtu dan Minggu. Sayang warung ini minim tempat berteduh atau pepohonan.

@ KM 0 yang minim pepohonan
@ KM 0 yang minim pepohonan

 

Keenam, tergantung dari stamina kita maka dari KM 0 kita memiliki banyak alternatif bonus trek. Ke kanan bisa ke arah Megamendung. Ke kiri bisa ke arah Pondok Pemburu lalu bisa dilanjutkan ke Gunung Pancar. Atau anda bisa turun lagi di lintasan yang sama lalu mengarah ke Curug Luhur.

Lintasan di lereng bukit
Bonus lintasan XC di lereng bukit

 

Salah satu trek ke Curug Luhur ini melewati jalan setapak sempit di antara rumah-rumah penduduk lalu berlanjut ke lereng bukit yang sangat curam dan ladang-ladang dengan banyak bebatuan yang hanya cocok dilewati di musim kemarau. Lintasannya cukup sulit karena berupa pematang sempit  berbatu-batu. Jika ingin berlatih handling dan shifting bisa jadi ini salah satu tempat paling cocok. It’s a real XC track.

Curam kan?

Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Jakarta membuat trek KM 0 ini sangat ideal bagi mereka yang ingin menghabiskan akhir pekan dengan bersepeda. Banyak juga goweser yang menggowesnya sebotol penuh dari Depok, Bogor bahkan Serpong.

Gowes Tour d’ Celebes|melibas trek Kalosi-Kalola-Bila

Xtrada 4.0 sudah kusiapkan sejak kemarin sore. Toolkit, botol air minum dan kamera sudah masuk ke dalam tas. Pagi yang sejuk setelah semalam sempat turun hujan.

Kukayuh sepedaku menyusuri Jl. Poros Pare-Sengkang yang masih sepi dari kendaraan. Hamparan sawah dengan padi yang sudah menguning berada di kanan-kiri jalan. Beberapa segmen jalan bergelombang dan berlubang akibat tanah labil tidak mampu menahan beban kendaraan yang lalu-lalang di Trans Sulawesi ini.

Sesampainya di pintu air sepeda kuarahkan ke kiri menyusuri saluran irigasi sekunder Kalola. Aku pernah terpesona oleh derasnya air irigasi Cipamingkis yang berada di sepanjang jalan Sukakmakmur yang ternyata jauh lebih kecil daripada debit irigasi Kalola ini. Padahal sekarang sedang musim kemarau.

Hamparan sawah berlatar belakang rumah tradisional Bugis

Jalanan bergelombang, campuran kerikil dan tanah dengan rintangan berupa ranting dan semak-semak di sepanjang jalan. Deretan akasia berdiameter besar menaungi trek sepanjang saluran irigasi ini. What a perfect XC track. Kenda Kharisma 2.1 terbukti cukup mumpuni melibas trek ini. Walaupun trek banyak yang berpasir dan berkerikil tetapi jarang sekali ia selip.

Trek sepanjang 6 km ini berkategori low-medium tergantung dari kecepatan kita. Jika kita memacu sepeda di trek ini maka ia akan naik tingkat menjadi medium karena butuh handling hati-hati agar tidak terperosok ke lubang—lubang atau menyasar semak dan perdu. Andai saja sebelumnya hujan deras turun maka trek ini akan memiliki banyak kubangan. Mereka yang gemar ber-offroad pasti akan menyukainya.

Lepas dari 6 km trek tanah maka kita akan menyusuri trek beraspal sepanjang 3 km sebelum tiba di kaki bendungan. Di sepanjang trek ini akan kita jumpai rumpun-rumpun pepohonan yang lebat sekali yang bersaing dengan berbagai macam liana dan epifit untuk mendapatkan sinar matahari. Mungkin ini sisa-sisa hutan yang belum ditebang dan dijadikan ladang.

Rute gowes Kalosi-Kalola-Bila

Setelah menanjak tidak terlalu tinggi maka kita akan sampai di puncak bendungan. Mungkin karena beda muka air yang tidak terlalu tinggi maka bendungan ini tidak digunakan sebagai pembangkit listrik. Meskipun demikian jika diinstall pembangkit mikrohidro pasti masih bisa.

Jerseyku mulai basah oleh keringat ketika aku sampai di puncak bendungan. Segar sekali udara di bendungan ini. Menghirup udara pagi sambil menatap hamparan air dan hijau pepohonan yang tumbuh rapat di sisi bendungan sungguh menyenangkan. Apalagi tidak ada lalu lalang kendaraan bermotor di tempat ini membuat udaranya bebas dari polusi.

Suasananya sangat cocok untuk mencuci mata ataupun menghilangkan kepenatannya akibat terlalu sering dipakai memelototi computer ataupun berkas-berkas. Bagi mereka yang tiap hari bekerja di sekitarnya mungkin pemandangan ini terasa biasa-biasa saja. Tetapi bagi mereka yang biasa bekerja di kantor ataupun pabrik, pemandangan seperti ini bagaikan oase di tengah padang pasir.

Sayang bendungan ini kurang terawat. Tidak ada fasilitas atau permainan yang bisa dinikmati pengunjung. Jika saja bendungan ini berada di Jawa pasti akan menjadi obyek menarik seperti halnya bendungan Selorejo atau Karangkates. Meski demikian bagi goweser hal ini tidak menjadi masalah karena tujuan utamanya adalah menaklukkan lintasan.

Meski memiliki curah hujan tinggi tetapi Sidenreng Rappang dan Wajo memiliki padang rumput yang cukup luas. Padang rumput ini justru terdapat pada perbukitan sehingga seringkali nampak seperti bukit Telettubbies. Ada dua peternakan yang memanfaatkan padang rumput tersebut yaitu PT Berdikari United Livestock dan Kalola Ranch. Mengingat elevasinya yang tidak terlalu tinggi udaranya terasa panas. Mirip dengan udara Cikarang.

Kawanan sapi di area PT Berdikari United Livestock

Aku mulai mencari jalan tembus menuju Bila melalui punggung-punggung bukit. Dan sesekali menerobos ladang penduduk. Musim kemarau membantuku melibas rute yang 100% berupa tanah. Andai saja dilibas saat musim hujan pasti akan memerlukan energi ekstra. Bisa-bisa malah terperangkap di tengah padang rumput atau ladang. Pemandangannya sungguh mempesona. Jika aku pernah terkagum-kagum dengan pemandangan saat melibas trek Cibening-Nawit maka pemandangan kali ini jauh lebih bagus daripada trek tersebut.

Akhirnya aku berhasil mendapatkan jalan poros Bila-Baruku. Langsung saja kuarahkan sepedaku menuju tujuan akhir yakni Bendungan Bila. Bendungan ini hanya membendung Salo Bila dan mengalihkan alirannya menuju 6000 hektar sawah yang berada di Sidenreng Rappang maupun Wajo. Sebuah celah sempit di tepi saluran irigasi menantangku untuk melewatinya. Sreett…! Xtrada berhasil melibas celah tersebut. Aku  semakin tergoda untuk melibas lintasan sempit tersebut. Dukk..!! Bongkahan batu yang tersembunyi di balik rumput membuat sepedaku oleng dan .. Byuuurr!! Aku terlempar ke saluran irigasi.

“Yah! Ayah! Sudah jam lima seperempat. Buruan sholat subuh.” Istriku membangunkan diriku yang tidak terbangun oleh adzan subuh.

Rupanya tiga minggu berhenti menggowes membuat aktivitas ini terbawa-bawa sampai mimpi. Aku berjanji akan melibasnya di dunia nyata suatu saat nanti. Bukan hanya dalam mimpi :)

Resensi buku|Melihat Indonesia dari Sepeda

Buku ini layak dimiliki oleh mereka yang hobi bersepeda. Merunut jejak sepeda di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah Indonesia itu sendiri. Dimulai dari letusan mahadahsyat gunung Tambora yang mengakibatkan musim dingin berkepanjangan di Eropa sehingga orang-orang tidak bisa memberikan makan kudanya. Indonesia sedikit banyak berperan bagi terciptanya alat tranportasi yang memakai tenaga manusia ini.

Buku Melihat Indonesia dari Sepeda

Sejarah bersepeda di Indonesia hampir sama tuanya dengan sejarah bersepeda di Belanda. Begitu sepeda moderen diproduksi massal pada awal tahun 1900-an maka mereka membawa sepeda ke wilayah jajahannya. Namun sayang, jika kini di negara Belanda sepeda merajai jalanan di Indonesi justru sebaliknya. Sepeda semakin terpinggirkan dan infrastrukturnya semakin tergusur.

Di buku ini diulas dengan gamblang kondisi persepedaan di tanah air khususnya di beberapa kota besar dari masa kolonial hingga sekarang.

Sepeda yang dalam beberapa dekade lalu terpinggirkan oleh motorisasi kini mengalami kebangkitan. Mulai dari maraknya perburuan dan perkumpulan sepeda tua (onthel), demam fixie hingga suksesnya gerakan bike to work dalam menyadarkan pemerintah untuk memberikan ruang bagi sepeda (setidaknya dalam UU Transportasi). Dan yang paling fenomenal tentunya di Pekalongan. Kota ini layak dijuluki kota sepeda yang sesungguhnya mengingat begitu populer dan masifnya aktivitas bepergian dengan menggunakan sepeda.

Bersepeda sambil belajar navigasi dan geografi

Di tahun 90-an navigasi satelit (GPS) merupakan barang mahal dan langka. Hanya segelintir orang (sipil)yang bisa mengaksesnya terutama mereka yang bekerja di bidang survey dan pemetaan atau mereka yang bekerja di bidang eksplorasi bahan-bahan tambang. Navigasi satelit awalnya memang untuk kebutuhan militer yang kemudian diaplikasikan bagi bidang tranportasi dan pertambangan.

Dengan kemajuan teknologi (internet/web) dan peralatan navigasi yang makin murah kini navigasi satelit bukan lagi barang mahal. GPS kini menjadi barang yang lumrah dijumpai pada mobil-mobil keluaran terbaru, sepeda motor bahkan sepeda (tanpa motor :) ).

Maraknya pemakaian GPS ini mengilhami hadirnya beberapa situs internet-salah satunya bikemap.net- yang pada intinya adalah GPS Log Database. Situs-situs tersebut memberi kesempatan bagi siapa saja untuk menyimpan rute perjalanannya dari log GPS.

Bahkan beberapa situs memungkinkan pemakainya membuat rute secara manual dengan menarik garis-garis menyusuri peta jalan yang sudah ada. Artinya tanpa memiliki GPS pun kini kita bisa mengabadikan rute perjalanan kita. Dengan fitur magnetik maka hal tersebut menjadi sangat mudah karena kita tinggal klik pada titik tertentu dari rute yang kita lewati selanjutnya perangkat lunak pada laman tersebut akan menghubungkannya tepat menyusuri jalan yang ada.

Rute ini kutempuh ketika masih SMP menggunakan sepeda BMX Eagle

Rute nostalgia masa SMP : Singosari - Sumber Air Panas Cangar (klik untuk memperbesar)

Hadirnya situs ini membuat kegiatan bersepeda menjadi semakin menyenangkan. Tanpa memiliki cyclocomputer kita bisa mengetahui total jarak tempuh, profil elevasi lintasan dan total tanjakan yang kita libas. Tanpa memiliki GPS kita bisa membuat sebuah peta rute perjalanan dengan sangat akurat dengan cara mengamati kondisi geografis selama perjalan kita. Misalnya kita bisa mencatat atau mengingat nama jalan, kampung, sungai, waduk/bendungan atau mengamati bentang alam (bukit, lembah, gunung dan punggung gunung).

Kalaupun kita tidak terlalu hapal dengan nama-nama geografis kita bias memanfaatkan wikimapia sebagai referensi.

Yang tidak kalah menarik adalah kita bisa menapaktilasi rute-rute bersepeda ketika kita masih SD, SMP atau SMA. Bagi sebagian besar dari kita itu adalah masa-masa di mana kita asyikdengan hobi bersepeda. Karena keterbatasan gadget saat itu kita seringkali tidak tahu berapa jauh jarak yang kita tempuh, berapa tinggi tanjakan yang kita libas.

I’m geographic and bicycle lover :) .

Silahkan mampir untuk melihat koleksi rute bersepedaku.

Lippo Cikarang Bikelane – marka jalan yang mulai luntur

Jalan Muhamad Husni Thamrin Lippo Cikarang merupakan salah satu marka tanah (landmark) di kawasan Cikarang.

Jalan yang membelah kota mandiri Lippo Cikarang ini terkenal dengan kerindangan pohonnya baik di median maupun tepi jalan. Trotoar yang lebar dan cukup jauh dari jalan utama sangat nyaman bagi pejalan kaki. Sementara halte yang cantik berbaris setiap jarak 300 meter.

Jalur sepeda di Jl MH Thamrin Lippo Cikarang

Daya tarik lain dari jalan protokol ini adalah adanya jalur khusus sepeda atau bikelane. Bikelane ini membentang dari Ruko Roxy hingga perempatan City Center lalu bersambung hingga ke kawasan EJIP.

Sayang marka jalan untuk jalur sepeda ini mulai luntur dan menghilang di beberapa segmen jalan. Bahkan gambar sepeda yang dulu pernah ada kini sudah hilang sama sekali dan tidak pernah diperbarui. Dibanding dengan fasilitas jalan lainnya nampaknya marka jalan bagi jalur sepeda ini agak dianaktirikan.  Justru marka jalan jalur sepeda di dalam kawasan EJIP sangat terawat.

Kita berharap town management Lippo Cikarang segera memperbaiki marka jalan ini untuk memberikan rasa aman bagi pengguna sepeda. Juga agar pengguna kendaraan bermotor tidak memonopoli semua lajur jalan.

Halte cantik di sepanjang Jl MH Thamrin Lippo Cikarang

Gowes Lippo Cikarang – Curug Ciherang

Setelah mencoba sebanyak 3x akhirnya berhasil juga melibas rute Lippo Cikarang – Curug Ciherang sebotol penuh dengan total jarak tempuh 109,8 km. Pertama gowes hanya setengah botol dari Desa Dayeuh. Lalu yang kedua hanya mencapai Batu Tumpang karena fisik tidak fit.

Meski demikian keberhasilan ini sudah menyentuh limit kemampuan menggowes. Oleh karena itu ambisi untuk melibas rute Cikarang – Cipanas harus dibarengi dengan kondisi fisik yang lebih kuat dari sekarang.

Mengolah sawah (pemandangan dari warung)

Berangkat jam 06:00 dari rumah tiba di Curug jam 12:30. Beruntung di tengah jalan bertemu dengan rombongan Cibarusah (Om Kosasih, Om Agus dan Om Martin) sehingga gowes tidak terasa sepi. Gowes kali ini memakai slogan Ranger yang terkenal “Kalau gowes bareng Ranger tidak akan ditinggal.. minimal ditunggu di tempat tujuan“. Berhubung sudah memasang target harus mencapai curug maka dengan terpaksa aku ngacir duluan dengan mengurangi frekuensi istirahat sehingga meninggalkan tiga teman dari Cibarusah.

Sukamakmur – Curug Ciherang memang tanjakannya super ngehe. Salah satu yang cukup panjang dan curam adalah tanjakan BTS menjelang Batu Tumpang. Walaupun sebelumnya sudah terdapat banyak tanjakan tetapi tanjakan ini adalah tanjakan pertama yang mewakili profil dari tanjakan-tanjakan ke Ciherang. Setelah melewati tanjakan BTS maka kita akan menemui beberapa tanjakan serupa.

Warung dengan pemandangan terbaik

Mendaki dari ketinggian 400 mdpl hingga 900 mdpl hanya dalam rentang 6 km memang benar-benar menguras tenaga dan menguras cairan tubuh. Selain itu jalanan yang minim pohon karena di kiri kanan jalan adalah persawahan membuat kita terpanggang matahari. Beruntung di rute ini banyak terdapat warung-warung di pinggir jalan terutama menjelang Curug Ciherang.

Bagi anda yang menyukai tanjakan rute ini sangat layak dicoba. Sukamakmur bisa dicapai dengan mudah dari arah Jonggol maupun Citeurep. Beberapa kali aku bertemu dengan rombongan dari Sentul, Depok dan Bogor. Begitu juga hari ini ada rombongan dari arah Jonggol yang diangkut dengan mobil pick-up. Nampaknya rute ini cukup populer.

Rute Lippo Cikarang - Curug Ciherang (klik untuk memperbesar)

Selain Curug Ciherang tujuan lain yang populer adalah Gunung Batu. Dari arah Curug Ciherang tanjakan ke lokasi ini nampak di kejauhan seperti ular. Jika kita menggowes dari Jonggol atau Cikarang maka pulangnya bisa menempuh rute yang berbeda. Bisa ke arah Mengker atau Cariu.

Jadi Curug Ciherang dan Gunung Batu bisa anda masukkan dalam bank rute gowes akhir pekan. Tetapi jangan lupa untuk selalu membawa Surat Ijin Menggowes dari pasangan kita :)

Curug Ciherang

Gunung Batu - dilihat dari arah Ciherang

 

Portugal

Sukamakmur – Kabupaten Bogor

Jonggol sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor yang berbatasan dengan Cibarusah. Wilayah ini pernah diisukan akan menjadi ibukota pengganti Jakarta. Akibat isu tersebut maka  spekulan tanah berbondong-bondong membeli tanah di sana. Tidak heran ketika kita berjalan-jalan di daerah tersebut maka akan banyak kita jumpai papan nama ataupun papan peringatan bahwa tanah ini dan itu adalah milik si A ataupun si B.

Bahkan lereng-lereng bukit yang cukup terjal pun mereka kuasai. Kondisi tersebut akan kita jumpai ketika berjalan-jalan ke Curug Ciherang.

Berikut ini adalah pemandangan indah di sepanjang rute Jonggol – Sukamakmur.

Jonggol - Sukamakmur

Jonggol - Sukamakmur

Jonggol - Sukamakmur

Jonggol - Sukamakmur

Polygon Xtrada 4.0 @ Jonggol - Sukamakmur