(Resensi) buku Relawan Dunia karya Firman Venayaksa, Langlang Randhawa dkk dari Rumah Dunia

Walaupun sudah lama mendengar nama Gol A Gong (dulu Gola Gong) tetapi aku jarang menikmati karya-karyanya. Meski begitu kiprahnya di Rumah Dunia pernah kubaca di majalah.

Tak disangka pada IBF 2011 di hari Sabtu 3 Desember aku bertemu dengan pengarang multitalenta ini. Awalnya aku tertarik dengan adanya “keributan” di stand KPG. Rupanya di situ ada peluncuran buku baru. Si pengarang beserta bala tentaranya berkoar-koar mempromosikan buku-bukunya yang baru terbit yang berjumlah tiga buah.

Buku Relawan Dunia dan tanda tangan pengarangnya

“Pak, Bu! Kenal dengan Gol A Gong tidak?!” Emangnya ente artis yang tiap hari muncul di layar kaca? Beberapa orang yang gemar mengikuti dunia perbukuan, pernovelan atau pembaca majalah Hai di tahun 80-90an mungkin masih kenal.

“Oh, yang tadi muncul di TV ya?”, beberapa orang mengenali dirinya. Sayang aku tidak punya televisi jadi aku tidak tahu kemunculan si Gol A Gong ini dalam acara bertajuk apa.

Ohh, ini ya si Gol A Gong. Pengarang yang identik dengan Balada Si Roy ini sudah kelihatan berumur. Rambutnya yang panjang sebahu mulai ditumbuhi uban. Posturnya yang tegap dan tinggi masih nampak gagah. Gayanya masih seperti anak muda dengan celana dan jaket jeans dan sepatu trekking. (Memangnya kalau sudah tua tidak boleh bergaya seperti itu :P).

Awalnya aku kurang tertarik dengan buku-buku mereka. Tetapi embel-embel bahwa royaltinya akan disumbangkan untuk kegiatan Rumah Dunia meluluhkan ketidaktertarikanku. Plus bonus tandatangan dari pengarang-pengarangnya akhirnya mendorongku untuk memungut dua buah buku dan berjalan ke kasir.

Relawan Dunia dan Mother Bukan Monster akhirnya mengisi keranjangku. Di buku Relawan Dunia aku mendapatkan tanda tangan dari tiga pengarangnya. Untuk buku Mother Bukan Monster aku mendapatkan tanda tangan dari Gol A Gong dan istrinya, Tias Tatanka. Buku ini sengaja kuhadiahkan untuk istriku sehingga aku minta disertakan nama istriku pada pengantar tanda tangannya.

Mother Bukan Monster

Semalam aku menjadikan buku Relawan Dunia sebagai pengantar tidur. Alih-alih membuatku terlelap buku ini justru mencegahku untuk tertidur dan mendorongku untuk terus melahap halaman demi halamannya. Kisah-kisah dari relawan sekaligus cantrik (kuanggap Rumah Dunia semacam padepokan) ini sungguh-sungguh memikat.

Jika di majalah aku hanya mendapat gambaran sekilas tentang aktivitas Rumah Dunia maka di buku ini aku mendapatkan gambaran secara gamblang betapa seru, padat, meriah, kreatif dan bermanfaatnya kegiatan-kegiatan mereka dalam menumbuhkan budaya dan ketrampilan literasi serta menyemaikan mimpi-mimpi dari anak-anak pinggiran.

Jerih payah tak kenal lelah dan tanpa pamrih dari Rumah Dunia berjasil menumbuhkan minat baca, ketrampilan menulis, keahlian berpidato, ketrampilan reportase dll dari anak-anak yang kebanyakan kurang beruntung secara ekonomi.

Ini tergambar dari beragamnya latar belakang relawan-relawan Rumah Dunia yang kini berhasil mengentaskan diri dari belenggu kemiskinan dan kebodohan. Ada pemulung, buruh pabrik, pembantu, penjual gorengan, dll yang berasal dari lingkungan sekitar yang berhasil menyemai, memupuk dan merawat impiannya hingga berbuah saat ini.

Oleh Gol A Gong anak-anak yang terbiasa dengan kehidupan yang liat dan keras itu digembleng dan ditempa di padepokannya. Awalnya mereka diperkenalkan dulu dengan belantara buku-buku dan diajak bersenang-senang dengan berbagai macam mainan yang jarang dimiliki oleh anak-anak pelosok. Mereka yang ingin mengikuti latihan menulis diwajibkan membawa karya mereka berupa puisi ataupun prosa.

Beberapa orang yang menonjol dan militan akhirnya dijadikan relawan dan diperbolehkan tinggal di Rumah Dunia. Tinggal di Rumah Dunia berarti mereka menjadi bagian dari keluarga Gol A Gong sehingga mereka makan dan minum dengan menu yang sama. Yang menggelitik, awalnya mereka malu-malu dan segan untuk makan bersama. Beberapa diantaranya malah mengendap-endap dan menunggu Gol A Gong dan keluarganya makan dulu. Meski mengendap-endap beberapa diantaranya justru menghabiskan makanan di dapur :)

Rumah Dunia dan relawannya (sumber: rumahdunia.com)

 

Relawan-relawan tersebut diajar untuk memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Saat ada satrawan besar yang mampir ke Rumah Dunia mereka selalu diperkenalkan agar tidak merasa canggung. Mereka diajar berpidato, mewawancarai orang-orang penting dan menulis berita bagi koran-koran lokal di Banten.

Banyak dari relawan-relawan tersebut akhirnya bisa bersekolah sampai perguruan tinggi dengan royalti dari buku/novel yang terinspirasi dari kisah mereka sendiri ataupun sumbangan dari donatur. Tidak sedikit pula yang membiayai pendidikannya dengan jerih payah sendiri berbekal pengetahuan, keterampilan dan jaringan yang dibangunnya melalui Rumah Dunia.

Kini relawan-relawan itu berhasil menjadi orang-orang yang barangkali tidak pernah terbersit dalam pikiran mereka ataupun sesuatu yang musykil pada awalnya andai mereka tidak bertemu dan “nyantrik” di Rumah Dunia. Bagi kita, bisa jadi prestasi mereka biasa-biasa saja. Tapi saat kita mengetahui latar belakang mereka maka itu adalah hasil dari kerja keras dan semangat yang luar biasa dari relawan itu sendiri juga Gol A Gong.

Beruntung kampung Ciloang (juga Indonesia) memiliki orang sekaliber Gol A Gong. Kini Rumah Dunia sudah menyebarkan gerakan budaya literasi ini ke seluruh Indonesia. Bahkan salah satu bagian terdepan di Laut Cina Selatan yakni Pulau Natuna sudah mereka rambah dan garap.