Teknologi memang harus dicuri | Pencurian teknologi tinggi

Beberapa waktu lalu sebuah departemen riset dan pengembangan di suatu perusahaan membutuhkan Carbon Fiber Caliper merek Mitutoyo dengan range 0-1500 mm. Kebutuhan sangat mendesak sehingga itu alat ukur tersebut mesti datang segera. Tetapi hal itu terkendala oleh proses verifikasi yang lama di Jepang. Rupanya untuk pembelian alat-alat ukur yang presisi dan berteknologi tinggi membutuhkan proses yang rumit. Perusahaan atau badan hukum yang ingin membeli alat tersebut mesti dilacak terlebih dahulu siapa pemiliknya, berapa besar modalnya , siapa saja pemegang sahamnya dll.

Ini terjadi setelah sebuah CMM (Coordinate Measuring Machine) ditemukan di Libya (seteru berat Amerika Serikat) pada saat inspeksi fasilitas eraktor nuklir Libya oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Polisi Metropolitan Tokyo menduga Mitutoyo Jepang mengekspor secara ilegal enam mesin CMM ke Mitutoyo Thailand dimana Mitutoyo Thailand menjualnya ke sebuah perusahaan Malaysia, Scomi Precision Engineering Sdn Bhd (SCOPE). SCOPE yang berlokasi di Shah Alam Malaysia diduga merupakan bagian dari mata rantai perdagangan gelap komponen-komponen fasilitas nuklir yang diorganisasikan oleh Dr. A. Q. Khan dari Pakistan. Pencatatan nomer seri CMM di fasilitas nuklir Libya oleh IAEA ini yang mebuat alur pembelian CMM tersebut bisa dilacak.

CMM - Mitutoyo Crysta Apec

Hanya terdapat 27 negara dimana perusahaan Jepang bisa mengekspor mesin-mesin berpresisi tinggi yang sensitif secara mudah dengan prosedur minimal. Polisi Tokyo menduga Mitutoyo gagal mendapatkan persetujuan dari Kementrian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang. Mitutoyo mengendorkan kehati-hatiannya dalam mengekspor mesin presisi tinggi karena mengejar target penjualan sebesar 847 juta dolar dimana 60% didapatkan dari pasar ekspor

MTCR
Missile Transfer Control Regime adalah sebuah aliansi beberapa negara maju yang berusaha membatasi penyebaran teknologi roket. Karena itu LAPAN sangat kesulitan mendapatkan bahan propelan untuk roket RX series. Meski demikian kini mereka sudah bisa membuat bahan propelan sendiri dengan bahan dasar Amonium Perklorat. Tidak hanya bahan propelan yang sulit didapat, logam khusus yang diperlukan untuk nozzle roket pun sulit didapatkan sehingga harus dibeli dari pasar gelap.

teknologi roket ini adalah dasar dari teknologi missile atau peluru kendali. Jika suatu negara bisa membuat roket dengan jangkauan di atas 300 km maka dia tinggal mengembangkan teknologi pengendali roket dan menambahkan hulu ledak maka akan menjadi sebuah senjata yang memiliki efek penggentar tinggi.

Tidak tertutup kemungkinan susahnya pembelian alat-alat ukur berteknologi tinggi tersebut adalah bagian dari kebijakan negara-negara yang tergabung dalam MTCR agar tidak digunakan untuk pegembangan senjata. Seperti yang kita ketahui Jepang adalah sekutu dekat Amerika Serikat. Menurut informasi dari salah seorang teknisi Mitutoyo Indonesia, bahkan ada sebuah perusahaan dari Indonesia yang inden sebuah CMM selama setahun tetapi sampai saat ini belum mendapatkan persetujuan dari Jepang.