Sepeda apa yang paling cocok untuk Bike 2 Work?

Jawabannya adalah sepeda yang masih bisa dikendarai. Dalam arti masih kuat, remnya berfungsi dengan baik, bannya masih beralur, memiliki lampu belakang (minimal reflektor). Artinya aspek fungsional dan keamananlah yang menjadi penentu apakah sepeda layak untuk dibawa bike to work. Dengan demikian maka jenis, merek dan (jika ada) groupset menjadi tidak penting lagi.

Jangan sampai kita menunda aktivitas bike to work hanya karena ingin memiliki sepeda bermerek terkenal dengan harga 5 juta padahal di rumah ada sepeda jengki (Phoenix). Untuk apa menunda-nunda aktvitas bike to work padahal anda memiliki city bike United, Polygon atau merek apapun dengan alasan sepeda tersebut kurang keren/macho dibanding sepeda gunung. Di musim hujan seperti ini jenis city bike justeru sangat cocok karena akan melindungi anda dari lumpur dan genangan air. Sementara keranjang dan boncengan di bagian belakang membuat anda lebih leluasa dalam membawa perbekalan.

City Bike (sumber: polygoncycle.com)

Demikian juga dengan apparel. Anda tidak harus memakai sepatu khusus sepeda yang berharga ratusan ribu, jersey terkenal seharga 200 ribu, celana pendek seharga 150 ribu. Bukankah anda hobi bermain futsal? Pasti anda memiliki sepatu, jersey dan celana untuk untuk aktivitas tersebut kenapa tidak menggunakannya untuk bersepeda ke tempat kerja?

Jika anda berpikir bahwa aktivitas bike to work mahal karena harus membeli pernak-pernik layaknya pesepeda profesional buang jauh-jauh pemikiran tersebut. Justeru anda harus malu jika memiliki sepeda seharga 5 juta, kacamata 200 ribu dan berbagai atribut sepeda mahal lainnya tetapi hanya bersepeda di hari Minggu saja.  Itupun hanya berkeliling komplek perumahan dan payahnya sudah ngos-ngosan padahal baru menempuh 5 km.

Jangan pula anda berpikir karena tidak bisa ngebut membuat anda enggan bersepeda ke tempat kerja. Anda hanya perlu sedikit kesabaran karena waktu tempuh sedikit lebih lama. Meski demikian anda memiliki lebih banyak kesempatan untuk menikmati perjalanan ketika bersepeda dengan kecepatan normal.

Tunggu apalagi? Bukankan bersepeda ke tempat kerja tidak semahal dan serumit yang kita bayangkan?

Dengan dasar pemikiran tersebut maka aku pernah selama 5 tahun (1997 – 2002) bike to school dengan sepeda Phoenix yang ketika itu kubeli dengan harga 200 ribu. Dan dengan hanya memakai celana pendek seharga 20 ribu dan jersey untuk sepakbola aku sudah menjalani aktivitas bike to work sejak tahun 2008.

Kini aku juga menggunakan citybike untuk aktivitas b2w sejak Februari 2012 :)

Bersepeda ke kampus

Sebelum komunitas atau tren Bike to Work marak, aku sudah melakukan aktivitas B2S alias Bike to School. Jarak rumah ke kampusku sekita 10 km, tetapi jika naik angkot harus ditempuh selama 1,5 jam karena rute angkot yang memutar dan harus berjalan kaki dulu ke jalan raya. Maka kuputuskan untuk mengukur waktu tempuhnya dengan bersepeda. Karena waktu itu aku belum punya sepeda aku meminjam sepeda MTB milik tetanggaku. Ternyata hanya membutuhkan waktu 40 menit untuk mencapai kampus dari rumahku. Sangat memungkinkan untuk ditempuh dengan bersepeda apalagi jika dibandingkan dengan lamanya waktu yang dibutuhkan jika naik angkot.

Karena harga sepeda MTB sangat mahal, maka pilihanku jatuh ke sepeda Phoenix (jengki) yang pada waktu itu (1996) harganya 180 ribu. Dengan hanya satu tingkat kecepatan maka waktu tempuhnya agak lama, 50 menit. Lebih cepat 40 menit dibanding naik angkot dan aku tidak perlu berangkat terlalu pagi jika ada kuliah pagi.

Mahasiswi bule tidak gengsi bersepeda ke kampus (Sumber: cycleandstyle.com)

Dari satu angkatan yang berjumlah + 150 orang hanya ada 3 orang termasuk diriku yang menggunakan sepeda untuk berangkat kuliah. Sisanya kebanyakan berjalan kaki karena tempat kosnya dekat atau menggunakan motor. Tentu saja beberapa orang yang tajir ada yang membawa mobil.

Karena kampusku (UB) tidak terlalu luas semua tempat bisa dicapai berjalan kaki dengan waktu tempuh yang tidak terlalu lama. Mungkin karena alasan ini sedikit yang memakai sepeda ke kampus. Sebenarnya banyak juga mahasiswa bermotor yang tempat kosnya dekat sekali dengan kampus yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Mereka ini harus menempuh jarak yang lebih jauh karena harus memutar akibat kebijakan satu pintu masuk. Sebuah bentuk pemborosan.

Sebenarnya jika mereka memakai sepeda, mereka masih bisa melewati celah gerbang yang didesain hanya bisa dilewati satu orang. Meskipun ada barikade setinggi 25 cm cukup disiasati dengan sedikit mengangkat sepeda. Satu hal yang kulakukan tiap hari untuk memasuki kampus dari arah Jl. Soekarna-Hatta.

Aku iri jika melihat foto-foto kampus di Eropa yang parkirannya penuh dengan sepeda. Semoga dengan gencarnya kampanye melawan mengurangi emisi karbon dan bike to work akan semakin banyak mahasiswa yang bersepeda ke kampus.