Lima Sekawan meracuni kami

Buku-buku Lima Sekawan (Sumber: http://www.toluu.com)

Sekolah kami (SD)  berada di ujung kampung yang langsung berbatasan dengan persawahan di sebelah kiri gedung sekolah. Ketika aku masuk kelas 1 di tahun 1984 gedungnya masih dalam proses renovasi sehingga kami harus menumpang ke sekolah lain. Setelah beberapa bulan gedung sekolah sudah jadi tetapi meja kursi belum ada sehingga kami sempat mengalami proses belajar sambil lesehan di atas tikar selama beberapa minggu.

Ketika meja kursi datang ternyata ada hal lain yang datangnya hampir bersamaan yaitu perpustakaan. OMG, it’s abig gift for us. Sekolah udik di pinggir sawah yang jalanannya becek di musim hujan dan jembatan bambunya sering terbawa arus sungai yang meluap mendapatkan paket jendela pengetahuan yang akan membuka cakrawala pengetahuan kami.

Aku ingat sekali dua buku yang pertama kali kupinjam, yaitu Androleks dan Singa, dan Raden Wijaya. Hari-hari selanjutnya buku-buku perpustakaan benar-benar menghanyutkanku sehingga seringkali aku membacanya disaat pelajaran sedang berlangsung dan sekali pernah ketahuan guruku sehingga beliau mengambil bukuku dan menaruhnya di atas lemari sampai pelajaran berakhir. Pernah juga ibuku memarahiku karena aku lalai menghalau ayam-ayam yang memakan padi yang sedang dijemur karena aku keasyikkan membaca bulu.

Buku-buku di perpustakaan SD-ku benar-benar membuat aku dan teman-temanku serasa menjelajahi Indonesia dan belahan lain didunia. Di tambah dengan pengenalan peta di kelas 4 SD maka semakin lengkaplah kesadaran kami tentang luasnya negeri dan dunia ini. Sehingga ketika kami membaca Serial Transportasi dari Masa ke Masa atau Winnetou Ketua Suku Apache kami merasa seolah berada di dalam alur cerita kedua buku tersebut. Seolah-olah kami bisa melihat George Stephenson sedang membuat lokomotif kereta api (Rocket) atau Old Shatterhand sedang menjelajah prairie. Meskipun kami belum pernah ke Inggris atau Amerika Serikat tetapi imajinasi kami telah mengunjunginya ketika kami masih di Sekolah Dasar.

Sekolahku - SDN Purwoasri 01

Sekolahku – SDN Purwoasri 01

Dan ketika kelas 5 sebuah buku yang berjudul Lima Sekawan Mengejar Kereta Api Hantu ditambah dengan beberapa buku lain seperti Petualangan Mencari Jejak, Detektif Bintang, Regu Garuda Berkemah, benar-benar meracuni kami. Kamipun mulai berlagak menjadi seorang detektif. Markas kami berada di bawah sebuah pohon akasia besar yang berjarak 200 meter dari sekolah kami. Meskipun demikian bukannya mencari kasus dan memecahkannya klub detektif kami malah mencari udang di sungai waktu istirahat. Hal ini dimungkinkan karena jam istirahat di SD kami digabung sehingga kami mempunyai waktu istirahat selama 30 menit.

Kami merasa beruntung sekali karena pada saat itu pesawat televisi dan aneka permainan elektronik masih jarang dan sangat mahal untuk ukuran orang tua kami sehingga buku benar-benar menemani dan membentuk masa kecil kami.

2 responses to “Lima Sekawan meracuni kami

  1. hhh..critanay koq mirip sama yang pernah saya alami…tapi ketika itu saya sudah SMP. Anda cukup beruntung sekolah SD sudah ada buku selengkap itu

    • Memang kami sangat beruntung sekali mendapatkan paket perpustakaan yang cukup lengkap waktu itu. Ketika SMP bacaan detektif sudah beralih ke serial STOP (sporty, thomas, oscar dan petra). Lima Sekawan berasal dari Inggris, sedangkan STOP kalau tidak salah dari Jerman. Dan menginjak SMA sempat menyukai serial Alfred Hitchcock

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s