Ternyata gaji Menteri hanya 5-juta.

Semua orang menjadi ribut ketika ada wacana untuk menaikkan gaji menteri. Padahal sebagian besar dari mereka mungkin tidak tahu berapa besar gaji menteri dan seberapa besar beban tugasnya.

Dibanding dengan anggota DPR yang masih bisa berleha-leha di ruang sidang, tentu tugas menteri jauh lebih berat. Merekalah yang menjalankan roda pemerintahan. Merekalah para eksekutor sesungguhnya. Dengan jumlahnya yang lebih sedikit mereka mudah menjadi fokus sorotan atas kinerja mereka. Bandingkan dengan anggota DPR yang berjumlah 500 orang. Apakah anda/pers tahu dan peduli kemudian mempermasalahkan kinerjanya ketika seorang anggota DPR mangkir? Bagaimana jika hal sebaliknya terjadi pada seorang menteri? Sudah pasti dia akan menjadi bulan-bulanan media, didemo, dan tentu saja reshuffle. Dari koran JP, 25 Okt 2009 terungkap bahwa gaji pokok menteri hanya 5.040.000, tunjangan jabatan 13.608.000 dan dana operasional 100-200 juta. Apakah jumlah ini sangat besar? Tunggu dulu. Mari kita bandingkan. Gaji DPR yang mencapai 40 juta/bulan. Bankir-bankir alumni Bank Mandiri yang menjadi direktur Bank Pembangunan Daerah bergaji 80 juta sebulan. Bisa kita pastikan Dirut Mandiri gajinya di atas 100 juta. Contoh lain Aji Santoso mantan kapten Timnas nilai kontraknya dengan Persisam 1,2 milyar alias 120 juta perbulan padahal dia hanya me-manage paling banyak 20-an orang. Jika kita bandingkan tanggungjawab, beban kerja , kontribusi tenaga dan pikiran dari menteri tentu jauh lebih berat.

Bagaimana dengan asas keadilan? Jika buruh selalu menuntut kenaikan gaji tiap tahun dengan alasan melawan laju inflasi apakah menteri atau pegawai pemerintah yang lain tidak berhak demikian? Mungkin anda berkilah gaji mereka kan besar. Tapi kalau kita berpikir lebih jauh dengan gaji yang tetap artinya mereka digaji lebih sedikit dibanding menteri sebelumnya karena nilai uang dimakan oleh inflasi tadi. Padahal semakin hari beban tugas dan tantangan yang dihadapi semakin berat. Apakah mereka tidak berhak mengajukan kenaikan gaji. Apakah adil jika mereka digaji lebih sedikit dari menteri sebelumnya sedangkan mereka menghadapi tantangan yang lebih berat?

Jangan lupa dengan peribahasa ada gula ada semut. Bisa dipastikan bahwa sekarang semut-semut itu sedang mengantri untuk mencicipi manisnya gula. Siapa saja semut-semut itu, adik-adik kelas dari almamater, panitia peringatan hari kemerdekaan, panitia pembangunan tempat ibadah, LSM, yayasan sosial. Juga kita menganut pajak penghasilan progresif artinya pesentase pajak semakin tinggi jika seseorang penghasilannya semakin besar. Anggap saja dalam sebulan seorang menteri menerima gaji bersih 100 juta, jumlah ini masih kalah dengan gaji Dirut bankir-bankir papan atas atau Dirut perusahaan swasta lainnya.

Barangkali pameo bahwa jika ingin kaya jangan menjadi PNS ada benarnya. Gajinya kecil tetapi begitu ada wacana kenaikan gaji langsung dihujat habis-habisan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s