Interfada: Konflik Palestina-Israel di dunia maya

Pada bulan Oktober 2004, kementrian Luar Negeri Rusia mengeluarkan protes resmi ke Pemerintah Finlandia. Penyebab protes adalah kehadiran sebuah situs web yang bernama Kavkaz Center pada sebuah server utama di Finlandia. Selama beberapa tahun situs web ini merupakan salah satu alat komunikasi terpenting dari gerakan separatis Chechen, dan telah berpindah-pindah server dari beberapa negara selama beberapa kali karena ditutup oleh pemerintah dari negara-negara tersebut. Kemarahan berkobar di Parlemen dan Kementrian Luar Negeri Rusia sehingga mereka menuntut pemerintah Finlandia untuk menutup situs web tersebut.

Pemilik server tersebut, salah satu ISP terbesar di Finlandia, Teliasonera, beralasan bahwa tidak ada landasan hukum untuk menutup server tersebut selama tidak mengandung materi pornografi anak atau kebencian ras. Meskipun demikian, Polisi Finladia mengunjungi pengelola situs tersebut sebanyak dua kali untuk memperingatkan dia akan bahaya yang mengancam dirinya dan juga kepentingan nasional Finlandia apabila dia tidak menutup situs pejuang Chechen. Akhirnya administrator situs tersebut menutup situs pejuang chechen dengan sukarela. Kedua pemerintah, Finlandia dan Rusia, meyatakan kepuasannya dengan hasil tersebut. Meski demikian pejuang Chechen juga gembira dengan penutupan situs internet-nya. Setelah protes dari pemerintah Rusia, isu tersebut menjadi headline di Finlandia, akibatnya pengunjung situs tersebut di Finlandia meningkat dengan tajam selama beberapa hari sebelum akhirnya situs tersebut di tutup. Tanpa adanya protes dari Pemerintah Rusia, sepertinya situs tersebut tidak akan mendapat perhatian yang begitu besar.

Cyber-insurgencies

Internet menyediakan forum baru untuk protes dan alat baru untuk melakukan pemberontakan di dunia maya (cyber-insurgencies) bagi para aktivis. Ada banyak contoh spekatakuler atas dinamika ini selama beberapa tahun terakhir. Pada saat kampanye kemerdekaan Kosovo 1999, tentara NATO menerima serangan di dunia maya dari peretas Rusia, Yugoslavia dan China. Pada tahun 2001, peretas China melancarkan serangan terhadap Amerika dan internet digunakan oleh para aktivis di Philipina untuk mengkoordinasikan demonstrasi menentang pemerintahan Joseph Estrada. Bahkan sebelum semua peristiwa itu, dunia telah belajar dari gerakan kemerdekaan Zapatista di Meksiko dan pemimpin legenadrisnya, Subcomanadante Marcos, yang menggunakan internet sebagai alat utama untuk menyebarkan poengaruh dan pesannya dan merekrut dukungan dari dunia.

Internet telah memberikan individu keseimbangan kekuatan politik dimana negara menjadi berkurang kemampuannya dalam mengontrol warganya. Akibatnya, struktur negara lebih terbuka terhadap oposisi, protes dan aksi-aksi penentangan. World Wide Web telah memupuk proses demokratisasi. Bahkan para pendukung kebebasan berpendapat memuja internet sebagai demokrasi global online. Meskipun demikian, pada saat yang sama orang juga mulai waspada atas variasi ancaman, banyak diantaranya sangat jahat/merugikan, akibat dari perkembangan internet yang memungkinkan hal itu terjadi. Salah satu yang paling menggelisahkan dari ancaman ini adalah cyber terorism, yaitu penggunaan jaringan elektronik oleh kelompok-kelompok teroris untuk mengakibatkan kerusakan fisik.

Kebutuhan untuk mengembangkan perangkat hukum yang mengatur penggunaan internet adalah salah satu isu yang paling mendesak dan sulit yang timbul sebagai akibat dari revolusi teknologi informasi selama satu dekade terakhir ini. Dengan aktor-aktor setara yang tanpa batas dan jaringan tanpa nama, internet berada di daerah tak bertuan yang sah (legal no man’s land), dimana perangkat hukum tradisional dari negara kurang berdaya. Di sisi lain ada resiko besar dari kekuatan hukum legal yang berlebihan dan tidak perlu yang membatasi debat, protes dan aktivitas online. Seperti yang dilaporkan Reporter Tanpa Batas, lebih dari 20 negara di dunia membatasi aktivitas internet secara ketat.

Situs web pejuang Chechen adalah salah satu contoh jitu yang menunjukkan pentingnya internet disamping konflik militer tradisional antara Rusia dan pejuang Chechen. Internet adalah alat yang sering dipakai dan terbukti sukses dalam apa yang disebut karakteristik perang tidak simetris dalam berbagai konflik di abad 21. Internet memberikan peluang bagi pihak yang lemah-apakah itu kelompok teroris, negara yang jahat, atau peretas individu dengan motif politik atau sekedar menebar ancaman-kesempatan untuk melawan negara yang unggul secara militer dan ekonomi.

Kombinasi dari keterbukaan dan keterkoneksian masyarakat berteknologi tinggi membuka berbagai macam kemungkinan terhadap serangan dunia maya baik itu akibat motif politik atau kejahatan. Akses terhadap informasi sekarang ini sama krusialnya dengan akses terhadap bahan bakar atau peralatan militer. Sebagai contoh, kelompok pejuang menggunakan internet sebagai alat komunikasi dan koordinasi, untuk mengumpulkan dan bertukar informasi tentang sasaran potensial, juga sebagai sumber informasi bagi diri mereka sendiri. Lebih jauh lagi, mereka menggunakannya untuk mengkampanyekan agenda mereka, menebarkan propaganda, merekrut anggota dan pendukung baru dan menggalan dana. Selain itu internet merupakan sasaran yang bisa mereka serang.

Kemungkinan bagi serangan dunia maya terhadap infrastruktur nasional yang vital telah menjadi subyek perdebatan selama beberapa tahun terutama setelah peristiwa 9/11. beberapa pakar militer dari Barat mempresentasikan skenario mematikan serangan dunia maya terhadap perbankan, jaringan listrik, jaringan kereta api dan kontrol lalu lintas udara, keuangan dan perbankan, suplai minyak dan gas, layanan gawat darurat, fungsi pemerintahan dll. Meskipun skenario ini sangat berlebihan, semakin nyata bahwa serangan dunia maya dengan motif politik meningkat dengan tajam selama dekade terakhir ini. Juga ada kecenderungan yang tak terbantahkan tentang penyebaran instrumen-instrumen perang dunia maya, sebagaimana halnya perangkat digital untuk serangan semacam itu telah menyebar ke penjuru dunia ketika peretas yang berpartisipasi di konflik regional menjadi lebih internasional.

Contoh halaman yang di=deface (sumber: zone-h.org)

Perang informasi, biasa disebut infowar atau netwar, berarti penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk mempengaruhi, merubah, mengganggu atau menghancurkan negara, institusi atau populasinya dengan mempengaruhi media atau subversi. Perang cyber adalah seperangkat perang informasi yang melibatkan aksi yang dilakukan pada jaringan komputer, terutama internet. Salah satu hukum dasar dari perang cyber adalah masing-masing dari tiap bagian di dunia maya dikontrol oleh seseorang. Karena itu akan selalu ada seseorang atau sesuatu yang mempunyai kemampuan untuk melakukan aksi tertentu yang diinginkan oleh tentara cyber.

Bentuk umum dari perang cyber meliputi website defacement, denial of service attack, domain name service attack, penggunaan worm, virus dan trojan horse, eksploitasi lubang kemanan komputer yang saling bertautan dan penerobosan ke dalam jaringan dari sistem komputer lawan. Deface berarti mengganggu sebuah situs web sehingga ia tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hal itu biasanya meliputi, merubah isi halaman situs web dengan propaganda atau materi pornografi. Serangan terhadap domain name service bertujuan untuk mengalihkan lalulintas web dari suatu situs web ke situs web lainnya secara tersembunyi. Hal ini memungkinkan si penyerang untuk menyebarkan informasi palsu atau menyesatkan pengguna web. Serangan denial of service dengan cara membanjiri sistem korban dengan permintaan informasi yang melebihi kemampuan sistem sehingga tidak bisa beroperasi. Pada bulan Februari 2000, serangan ini mengakibatkan meruntuhkan beberapa situs komersial terkemuka termasuk Amazon.com, CNN.com, Yahoo.com. Worm, virus dan Trojan adalah program komputer otonom yang berbahaya, yang bertujuan untuk mengganggu bahkan menghanucurkan sistem sasaran atau menciptakan pintu belakang untuk akses di kemudian hari.

Beberapa kasus

Konflik dunia maya antara Palestina-Israel diawali dari perang propaganda di dunia maya. Situs-situs utama dari kedua belah pihak berusaha untuk menampilkan informasi dan latar belakang konflik dari sudut pandang masing-masing. Sampai saat ini, situs resmi Israel tampak lebih unggul. Meski demikian pertempuran propaganda di Internet lebih berimbang dibanding konflik di dunia nyata antara Palestina-Israel. Pada bulan Februari 2001, sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang Palestina dan dua orang aktivis hak asasi manusia Pro-Palestina dari negara lain meluncurkan sebuah situs web Electronic Interfada. Dimana pada saat ini menjadi sumber elektronik yang paling diperhitungkan dalam mengikuti perkembangan konflik Palestina-Israel. Setelah tiga setengah tahun beroperasi, situs ini telah dikunjungi jutaan orang dan seringkali menjadi sumber informasi bagi jurnalis di luar negeri.

Aksi pertama konflik dunia maya antara Palestina-Israel -interfada- diawali pada tahun 1999, kemudian pecah lagi dalam skala yang lebih tinggi pada saat Intifada Kedua, Sepetember 2000. Hal ini dipicu oleh aksi Hizbullah menculik tiga serdadu Israel pada tanggal 6 Oktober 2000. Hal ini mengakibatkan reaksi keras seketika dari Israel yang mengancam akan mengebom Damaskus dan Beirut. Peristiwa penculikan ini mendorong sebuah kelompok peretas muda Israel melakukan serangan distributed denial of service terhadap situs-situs pemerintahan Palestina, Hizbullah dan Hamas. Akibatnya terjadi serangan balasan yang yang meruntuhkan beberapa situs utama Israel, yang paling penting adalah Parlemen Israel (Knesset), Departemen Pertahanan Israel (IDF), Bank of Israel dan Bursa Efek Tel Aviv.

Sedikit contoh di atas sudah cukup menggambarkan pertemputan di dunia maya. Pada gelombang pertama serangan, peretas Israel menempatkan bendera Israel pada halaman muka situs Hizbullah. Setelah itu halaman muka situs Jerusalembooks.com-toko buku online terbesar di timur tengah-halaman mukanya diganti dengan dengan tulisan „Palestine“ berikut potongan ayat dari Taurat yang memopertanyakan apakah kitab tersebut mengajari Israel untuk membunuh anak-anak tidak berdosa dan memperkosa wanita. E-mail inbox dari Kementrian Luar Negeri Israel dibanjiri 32000 email. peretas Pakistan pro-Palestina membobol kartu kredit grup lobi pro_Israel di Amerika Serikat dan membeberkannya pada sebuah situs sehingga seluruh dunia bisa melihatnya. Serangan yang lebih tersembunyi bahkan telah meruntuhkan jaringan komputer Parlemen Israel.

Pada tanggal 8 November, sebuah kelompok peretas Muslim yang berafiliasi dengan Hizbullah meletakkan empat fase strategi untuk menghancurkan infrastruktur internet Israel. Fase pertama, serangan dialamatkan ke situs-situs resmi pemerintah internet Israel. Fase kedua menggabungkan kelompok-kelompok peretas untuk menyerang situs-situs lembaga keuangan terkemuka Israel. Fase ketiga menyerang infrastruktur telekomunikasi Israel. Fase keempat menghancurkan situs e-commerce terbesar sehingga menimbulkan kerugian jutaan dolar. Keempat fase serangan terbukti pada dua bulan pertama konflik dan sebuah serangan berhasil menerobos sistem transaksi saham Bursa Efek Tel Aviv sehingga menimbulkan kerugian 8 persen.

Seperti halnya konflik di dunia maya lainnya, perang elektronik antara Palestina dan Israel merembet ke seluruh dunia dan membuat peretas dari belasan negara bergabung pada di kedua pihak. Dan menurut peretas senior dari Palestina, Dodi, akhirnya cyberwar ini tidak hanya melawan Israel tetapi juga Amerika Serikat Salah satu kelompok peretas dari Palestina yang bergabung dalam perang ini adalah kelompok peretas dari Pakistan yang bersimpati terhadap perjuangan Palestina. Bahkan klompok peretas yang tidak ada sangkut pautnya dengan kedua belah pihak ikut meramaikan peperangan karena menganggap hal ini menarik dan menantang dan ingin mengambil bagian di dalamnya. Seperti yang dilakukan peretas Brasilia yang secara bersamaan menyerang situs Palestina dan Israel.

Konflik berintensitas tinggi berlangsung selama beberapa bulan dan selam dua tahuan ratusan situs dari kedua belah pihak mengalami berbagai macam serangan meliputi distributed denial of service, deface, kampanye mis-informasi, penetrasi ssitem keamanan, Trojan, dan bermacam-macam virus. Program komputer yang digunakan dalam serangan yang disebut dengan exploit scripts secara aktif dan luas disebarkan sehingga orang dengan sedikit pengalaman di bidang pemrograman komputer bisa berartisipasi dalam perang ini. Infrastruktur di kawasan ini berada dalam ketegangan tinggi kakibat serangan dan serangan balik dilancarkan silih berganti dan mengakibatkan berhentinya situs keuangan dan informasi yang populer selama beberapa hari atau mengakibatkan terganggunya arus informasi dari beberapa ISP.

Semua ini mengakibatkan menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap kemanan transaksi online. Dalam beberapa kasus, kerugian riil cukup besar dimana deface halaman muka situs komersial mengakibatkan terhentinya transaksi. Selama tahun 2002 konflik agak mereda tetapi terdapat beberapa insiden dimana situs Hamas diisi dengan materi pornografi dan dibobolnya situs rekrutmen dinas intelijen Israel-Mossad. Ini menimbulkan ironi karena dinas intelijen yang paling ditakuti di dunia mencari personel baru secara terbuka di internet. Di masa depan sepertinya perang dunia maya antara Israel dan Palestina akan merefleksikan peperangan di dunia nyata dan setiap insiden atau serangan akan disertai oleh serangan di dunia maya yang setara.

Implikasi Interfada

Beberapa pakar keamanan jaringan mengambil pelajaran berharga dari konflik Palestina-Israel di dunia maya dan melihatnya sebagai model konflik di dunia maya. Salah satunya adalah pengertian yang lebih mendalam tentang dinamika perang di dunia maya dan juga berarti kesempatan utuk mempersiapkan diri akan konflik dunia maya di masa depan yang tidak dapat dihindari. Peggy Weigle, mantan CEO Sanctum Incorporated sebuah perusahaan yang menyediakan perangkat keamanan jaringan, aplikasi web dan e-business berpendapat, “Serangan gencar terhadap situs-situs utama milik Israel adalah aktivitas hacking yang paling ekstensif, terkoordinasi dan mematikan dalam sejarah“. Dr. Limor Yagil, pakar internet dari Universitas Tel Aviv mengatakan, “Dunia Muslim menyadari pentingnya internet lebih awal. Mereka mengadopsi strategi baru dalam melawan aksi pendudukan Israel dengan membentuk komunitas di Internet yang bertujuan untuk menghancurkan situs-situs Israel“.

Diterjemahkan dari, Interfada: The Israeli-Palestinian Cyberconflict by Markku Jokisipilä

Paper presented in the “War and Virtual War” –conference in Salzburg, Austria, on 19 October 2004

et

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s