Jakarta – Kota metropolitan yang berbau pesing

Dari dalam taksi aku bergumam andai saja sebagian besar jalan-jalan di Jakarta kondisinya seperti Jalan Muhammad Husni Thamrin, maka Jakarta layak disebut sebagai kota metropolitan yang sebenarnya. Median jalan yang hijau, trotoar yang lebar tanpa PKL, jalur lambat bagi taksi dan bus, jalur busway, gedung-gedung megah dengan taman yang menyejukkan. Dibanding dengan negara-negara maju dengan empat musim inilah kelebihan kita sebagai negara yang terletak di daerah tropis, hijau sepanjang tahun. Terbayang diriku akan pemandangan yang dingin dan muram selama musim dingin di sebuah kota di Korea Selatan karena pohon-pohon meranggas tanpa daun.

Kebersihan , kerapihan dan keteraturan serta pemadangan yang rimbun menghijau tersebut terasa bagaikan sebuah oase di tengah-tengah belantara beton yang kaku dan angkuh serta kesemrawutan dan kemacetan di jalan-jalan lain.

Kekagumanku memudar setelah aku turun dari taksi dan membaur dengan hiruk pikuk pejalan kaki di sepanjang trotoar. Bau pesing tercium di mana-mana. Terutama sekali di sekitar halte, pot-pot tanaman penghijauan, jembatan penyeberangan dan tempat-tempat yang rimbun atau agak tersembunyi. Rupanya di malam hari tepat-tempat tersebut menjadi tempat buang air kecil bagi para pejalan kaki, tukang ojek pedagang kaki lima dan sopir bajaj.

Jl. KH Wahid Hasyim di samping Sarinah - salah satu daerah paling pesing

Siapa yang salah? Yang pertama tentu saja pemerintah karena mereka tidak menyediakan sarana toilet umum yang memadai. Yang kedua tentu saja orang-orang yang memiliki kesadaran kebersihan dan keimanan (kebersihan sebagian dari iman) yang rendah.

Sebagai perbandingan di setiap stasiun subway di Korea Selatan selalu terdapat toilet yang sangat bersih dan Gratis. Pusat-pusat perbelanjaan juga menggratiskan toilet mereka yang selalu bersih dan wangi. Padahal kita tahu Korea Selatan adalah salah satu negara kapitalis besar di dunia. Tokh mereka masih memiliki kesadaran untuk menggratiskan fasilitas-fasilitas umum seperti toilet.

Di negara kita setidaknya anda harus membayar 1000 rupiah hanya untuk buang air kecil. Itupun seringkali kondisi toiletnya sangat memprihatinkan. Pemerintah kita lalai untuk menyediakan fasilitas publik yang layak. Dan para pemilik modal di negara kita demikian rakusnya sehingga orang yang ingin buang air kecil pun mereka jadikan sapi perah untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s