Novel Biografi Muhammad Hatta – Hatta Hikayat Cinta & Kemerdekaan*

Muhammad Hatta adalah salah satu tokoh yang kukagumi dan kusenangi terutama sekali karena beliau menurutku “seolah-olah” antitesis dari Sukarno yang flamboyan, berselera tinggi dan sangat sekuler. Kecintaanya begitu tinggi terhadap buku (ilmu pengetahuan) sehingga koleksi perpustakaan pribadinya seolah-olah mengalahkan perpustakaan universitas pada masa itu. Beliau tidak pernah lelah untuk memberdayakan ekonomi rakyat jelata melalui koperasi. Kesantunan dan kesederhanaanya sungguh menawan. Siapa sangka jika semua itu dilandasi oleh kuatnya pendidikan dan pemahaman Islam yang ditanamkan oleh keluarganya.

“Jalan hidupmu sudah ditentukan Allah, kata Ayah Gaek  Arsyad saat hendak melepas kepergian Hatta ke Batavia, tetapi keyakinanku cukup kuat bahwa kau tidak akan menyimpang dari jalan agama Islam, dan jalan Allah. Mungkin pula kelak pengetahuanmu tentang agama tidak begitu luas seperti yang dimiliki seorang alim ulama, tetapi perasaan Islam telah tertanam dalam jiwamu dan itu tidak akan hilang”. Inilah bukti kebesaran hati pamannya yang menginginkan Hatta agar mendalami ilmu agama Islam seperti ayahnya bukannya melanjutkan sekolah dagang di Batavia. Bahkan pamannya sudah bisa menebak maksud kedatangan Hatta dan ibunya walaupun mereka belum mengucapkan sepatah katapun akibat takut mengecewakan pamannya yang sangat menginginkan Hatta menuntut ilmu di Makkah. Terlebih lagi pamannya yang selalu lemah lembut  inilah yang menjadi ayah kedua baginya setelah ayahnya meninggal ketika dia berusia 8 bulan.

Sampul buku Hatta Hikayat Cinta & Kemerdekaan (sumber: bukabuku.com)

Di bagian awal novel ini kita akan disuguhi keindahan alam Minangkabau, kondisi sosio kultural masyarakatnya di awal abad keduapuluh. Bagaimana Perang Padri dan sistim Tanam Paksa serta hembusan angin pemikiran dari para intelektual Syarikat Islam di Pulau Jawa perlahan-lahan mengubah pandangan sebagian besar masyarakat Minangkabau tentang perlawanan tehadap Belanda. Mereka mulai menyadari pentingnya pendidikan umum selain pendidikan agama untuk melawan penjajahan Belanda. Atas desakan beberapa tokoh Minangkabau pula pada tahun 1918 Belanda mengijinkan dimasukkanya pendidikan agama Islam (juga Katolik dan Protestan) di MULO (Meer Uirgebreid Lagere School).

Bagian novel yang bercerita di lingkungan kehidupan surau mengingatkanku pada hal yang sama pada sebuah novel biografi lain, “Pengalaman Masa Kecil” masa kecil karya Nur Sutan Iskandar si Raja Angkatan Balai Pustaka. Cerita kehidupan seputar surau benar-benar memberikan efek nostalgia bagi kita yang ketika kecil akrab dengan kegiatan mengaji di surau atau langgar. Inilah tempat dimana benih-benih pemahaman kita tentang Islam disemaikan. Bukan karena orang tua kita tidak peduli untuk mengajarkannya di rumah kita akan tetapi ilmu mereka yang tidak seberapa luas lah yang membat mereka menitipkan kita ke ustad di surau.

Novel biografi sejarah semacam ini layak untuk dijadikan alternatif pengajaran sejarah di sekolah-sekolah. Lewat novel semacam ini pelaku-pelaku sejarah dimanusiakan, seolah-olah dihidupkan lagi sehingga terasa dekat dengan kita. Lebih daripada sekedar penyajian fakta-fakta sejarah, novel semacam ini justru akan memberikan kesan mendalam sehingga substansi dari pelajaran sejarah tentang nilai-nilai perjuangan dan humanisme akan tersampaikan.

*Tidak tahan untuk segera menuliskan komentar tentang buku ini walaupun baru sampai di halaman 129

Cuplikan dari sampul belakang buku

“Anak-anak Banda Neira menyebutnya “Om Kacamata” sebutan yang menggambarkan keseriusan, keheningan, dan keluasan pengetahuannya. Pers Jepang menjulukinya “Gandhi of Java”, karena ketulusannya menempuh perjuangan, perlawannya yang tanpa jeda, dan sikapnya yang anti kekerasan. Rakyat banyak menyebutnya kekasih Indonesia karena cintanya yang utuh bagi Indonesia, karena kasihnya yang murni bagi anak negeri, dan karena sumpah setianya untuk tidak menikah hingga Indonesia merdeka. Iwan Fals menyebutnya “Sahabat”, karena ia menjadi sahabat saja siapa saja tanpa pernah memedulikan sekat-sekat geografis, budaya, ataupun agama. Mavin Rose menyebutnya “Muslim Sejati” karena beristri empat: Indonesia, rakyat Indonesia, buku dan Rahmi Rachim.

Buku ini memutar kembali fragmen panjang perjuangan Hatta, masa kecil, masa muda yang penuh gelora, dan kisahnya dalam narasi sinematik yang mempesona.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s