Keributan di dalam masjid

Jika anak-anak bertemu area lapang dan teman-teman sebaya maka yang akan terjadi adalah “keributan” :).
Kita tahu bahwa anak-anak memiliki energi yang tiada habisnya. Lihatlah betapa mereka tidak mempunyai rasa capek ketika bermain. Dan itu bukan permainan pasif di depan layar komputer atau televisi. Tetapi permainan yang penuh dengan aktivitas motorik, melompat, berlari, berguling, memanjat, dan sebagainya. Dunia anak memang dunia bermain.

Fitrah anak-anak adalah bermain (sumber: kutilpulas.blogspot.com)

Begitu juga yang sering terjadi di dalam masjid. Ketika anak-anak sebaya bertemu dalam area lapang di tengah ruangan masjid yang tidak terisi jamaah sholat maka mereka akan saling menggoda, mengganggu dan menjerit-jerit kegirangan atau ketakutan. Kali ini cobaan bagi kekhusuan sholat bukan dari dering ponsel yang biasanya lupa dimatikan.

Tentu kita ingin agar anak-anak kita menjadi generasi yang memakmurkan masjid, yang tidak pernah meninggalkan solat berjamaah di masjid yang hatinya selalu terpaut dengan masjid. Karena itu sebisa mungkin sejak kecil kita biasakan mereka akrab dengan masjid. Maka tidak bijak juga jika serta merta kita langsung menghardik mereka ketika berbuat kenakalan di dalam masjid. Jangan sampai hal tersebut menjadikan mereka trauma dan akhirnya menjauhi masjid. Kesabaran kita diuji dalam hal ini. Hendaknya teguran atau peringatan itu disampaikan dengan lembut namun tegas dan berwibawa. Kita tidak boleh melupakan kaidah bahwa kebaikan harus disampaikan dengan cara-cara yang baik pula.

Sebaliknya kita sebagai orang tua wajib untuk selalu mendidik dan mengingatkan anak-anak kita tentang etika di dalam masjid. Sejak awal mereka harus diajarkan agar tidak lewat di depan orang sholat, tidak mengganggu orang sholat, tidak berisik dan ramai diwaktu sholat. Alternatif lain adalah menitipkan anak-anak kita yang masih terlalu kecil dan belum bisa membedakan baik buruk itu ke bundanya di rumah. Mengingat kewajiban berjamaah di masjid hanya bagi laki-laki maka jika kita mengkhawatirkan perilaku anak kita nantinya akan mengganggu kekhusuan sholat maka sebaiknya ia tinggal di rumah saja bersama bundanya.

Dalam prakteknya tentu semua itu tidak semudah seperti dalam tulisan ini. Apalagi untuk anak-anak kita yang masih kecil yang berusia di bawah 4 tahun. Benar-benar membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Tapi sepertinya hal-hal tersebut yang harus kita lakukan agar “rambut tidak terputus dan tepung tidak terserak”.

* Teringat dengan Rasulullah ketika memperpanjang sujudnya karena cucunya naik ke atas punggungnya ketika beliau sedang sholat.

** Rupanya fenomena keributan anak-anak ini juga terjadi di negeri tetangga. Kini mereka menyesali sikap represif mereka terhadap anak-anak di masjid karena masjid mereka kini makin sepi dari jamaah. Lebih lengkapnya silahkan baca di kutilpulas.blogspot.com

Iklan

2 responses to “Keributan di dalam masjid

    • Jika demikian maka tujuan utama kita untuk memberi pengertian kepada anak-anak agar santun di dalam masjid tidak akan tercapai. Mereka berhenti ribut karena takut, bukan karena mengerti atau paham.

      Rasulullah memberi contoh kepada kita agar tidak mudah menghardik anak-anak. Ketika beliau sedang menggendong anak kecil, tiba-tiba anak tersebut pipis dan mengenai bajunya sehingga najis. Ibu anak tersebut serta-merta mengambil anaknya seraya menghardiknya karena telah mempipisi manusia paling agung di muka bumi. Namun sikap ibu tersebut tidak dibenarkan Rasulullah seraya mengingatkan bahwa noda di bajunya mudah dihilangkan tetapi luka hati anak tersebut karena hardikan ibunya akan susah disembuhkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s