MaYan – Perjuangan dan mimpi gadis kecil di pedalaman China untuk meraih pendidikan

Awalnya hanya memandang sekilas dan tidak tertarik untuk membelinya karena judul bukunya MAYAN. Aku tidak menduga bahwa buku ini bercerita tentang perjuangan seorang gadis dari etnis Hui. Jika saja judul bukunya ditulis Ma Yan maka pasti aku akan menduga kalau dia berlatar belakang Hui. Ma seringkali dipakai oleh muslim China (Hui) sebagai nama marga untuk menunjukkan identitasnya sebagai muslim. Seperti halnya Ma Xianda dan Ma Fengtu, salah satu grandmaster wushu tingkat 9 yang masih hidup sampai saat ini. Menurut sejarawan Ma diambil dari kata Muhammad..

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemerintah RRC lebih mengutamakan etnis Han dan Manchu dalam pembangunan. Sementara minoritas seperti Hui, Uighur dan Tibet sering kali diabaikan. Tidak heran jika ketiga etnis/daerah tersebut menjadi yang termiskin di China. Dan hal itu tergambar dengan jelas dalam novel ini. Rata-rata penduduk di daerah ini hanya berpenghasilan 400 yuan per tahun. Sementara di Shanghai penghasilan rata-ratanya bisa mencapai 30.000 yuan. Terlebih dengan adanya tuntutan kemerdekaan atau otonomi tingkat tinggi maka pengabaian itu masih ditambah dengan sikap represif yang makin tinggi.

Ma Yan berkisah tentang perjuangan hebat seorang gadis untuk bersekolah agar dia bisa melepaskan diri dari belenggu kemiskinan yang berlangsung turun temurun. Bahkan dia harus berpuasa dari lauk dan sayur dan hanya memakan nasi putih saja selama dua minggu agar dia bisa menyimpan uang sakunya untuk membeli sebuah pena. Sementara ibunya yang tidak ingin melihat anaknya putus sekolah harus menjadi buruh pemetik sayur facai di Mongolia Dalam sejauh 400 km dari rumahnya. Sementara dia belum mendapatkan upah dari pekerjaan tersebut dia mesti meminjam uang sejumlah 70 yuan untuk melunasi biasa sekolah Ma Yan di semester pertama.

MaYan

Ma Yan rajin menulis diarynya dan sebagian dia lakukan di kertas-kertas bekas. Karena itu ada sebagian diariynya ada yang hilang akibat ayahnya menggunakannya sebagai pelinting rokok. Ayahnya yang tidak bisa baca-tulis tidak menyadari jika kertas tersebut demikian berharga bagi putrinya sehingga dia merasa sangat bersalah.

Meski sempat gagal di sekolah dan dimarahi ayah-ibunya akhirnya Ma Yan berhasil mendapatkan peringkat dua. Ibunya merasa sangat bangga karena baru Ma Yan yang bisa melakukan hal tersebut di desanya apalagi dia seorang perempuan. Dia semakin yakin bahwa putrinya akan berhasil dengan cita-citanya untuk bersekolah dan melepaskan diri dari jerat kemiskinan. Keyakinan itu demikian tingginya sehingga ketika ada serombongan jurnalis Perancis yang sedang membuat dokumenter tentang etnis Hui dia hadang dan dia arahkan ke rumahnya. Dia ingin menunjukkan bahwa putrinya adalah anak yang pandai, dia ingin mereka (dunia) mengetahunya. Dia berikan catatan/diary Ma Yan kepada mereka dengan harapan akan ada yang mengetahui perjuangan dan prestasi putrinya.

Doa dan usaha ibu Ma Yan berbuah manis ketika diary anaknya tampil secara bersambung di harian Perancis, Le Journal. Banyak pembaca yang terketuk dan tergerak hatinya untuk memberikan donasi agar Ma Yan dan teman-temannya bisa memperoleh pendidikan lebih layak.

MaYan - edisi bahasa Inggris diterbitkan The Harper Coolins

Iklan

2 responses to “MaYan – Perjuangan dan mimpi gadis kecil di pedalaman China untuk meraih pendidikan

  1. Hui itu termasuk Han, sama seperi hokian, cantonese, hakka…cuma suku hui Muslim……wilayah china luas..terutama bagian barat…banyak desa2 kecil yg terisolasi…dimana sarana tranportasi nyaris tdk ada
    ..akibatnya secara ekonomi tertinggal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s