Shaf terdepan | Mental inferior bangsa Indonesia

Ketika anda memasuki masjid untuk melakukan sholat fardu berjamaah cobalah amati bagaimana jamaah masjid tersebut menyusun atau menempati shaf-shaf. Jika mereka langsung menata diri memenuhi shaf-shaf terdepan kita patut bersyukur karena mereka telah mengamalkan sunah Rasul.

Shaf lurus dan rapat (sumber: ptdi.info)
Shaf lurus dan rapat (sumber: ptdi.info)

Yang sering terjadi adalah jarang sekali jamaah sholat fardu mengisi shaf-shaf terdepan. Mereka justeru menempati shaf-shaf kedua dan ketiga. Sangat disayangkan bahwa mereka menyiak-nyiakan salah satu keutamaan sholat berjamaah dengan tidak mengisi shaf terdepan. Selain itu ada kemungkinan mereka akan menghalangi saudara-saudaranya untuk mengisi shaf terdepan akibat jamaah pada shaf-shaf kedua dan ketiga itu melakukan sholat sunah sehingga tidak bisa dilewati.

Dari Abu Huroiroh Rodhiallahu ‘anhu, Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Andaikan orang-orang mengetahui pahala dalam adzan dan shaf pertama, kemudian untuk mendapatkan itu harus berundi, pasti mereka akan berundi, dan andaikan mereka mengetahui pahala datang lebih dahulu untuk sholat berjama’ah, pasti mereka akan berlomba (untuk mendapatkannya), dan andaikan mereka mengetahui pahala (dalam) shalat ‘Isya’ dan Shubuh (berjama’ah di masjid) pasti mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak-rangkak.”
(H.R. Muttafaqun ‘Alaih)

Fenomena kosongnya shaf/baris terdepan ini rupanya tidak hanya terjadi dalam sholat. Dalam berbagai pertemuan, meeting atau acara-acara yang melibatkan banyak orang barisan terdepan justeru menjadi barisan paling akhir yang penuh terisi.

Aku khawatir jika ini adalah sisa-sisa penjajahan Belanda ketika segregasi/kelas sosial diaplikasikan dalam ruang dan acara-acara publik. Baris terdepan adalah milik penguasa Belanda dan orang-orang Eropa, baris kedua adalah bangsa-sangsa perantau yang menetap di Indonesia seperti Arab, India dan Tionghoa barulah baris ketiga dan seterusnya milik orang-orang pribumi.

Begitu melekatnya pengkelasan status sosial ini sehingga secara tidak sadar kakek-kakek kita mewariskan keengganan (ketakutan) untuk menempati baris terdepan kepada bapak-bapak kita. Dan kita pun secara tidak sadar mewarisi keengganan mengisi baris terdepan dari bapak-bapak kita karena kita melihat beliau-beliau enggan menempati baris terdepan dalam acara musyawarah RT/RW, pengambilan rapor/ijazah, bahkan dalam sholat berjamaah di masjid.

Kembali kepada hadits di atas kita bisa melihat betapa cerdasnya Rasulullah mendidik para sahabat menjadi pribadi-pribadi unggulan yang kompetitif dengan menjelaskan keutamaan shaf terdepan. Para sahabat adalah orang-orang yang selalu berlomba menjadi yang pertama dalam sholat berjamaah dengan menempati shaf terdepan dan yang lebih utama lagi adalah di sebelah kanan imam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s