Tahun tanpa sinar matahari|Year without summer

“the bright sun was extinguish’d… morn came and went–and came, and brought no day”
Darkness by George Gordon, Lord Byron

Jika anda peka terhadap siklus musim dan kini sedang tinggal di Jawa Barat anda akan tahu bahwa dalam beberapa bulan ini cuaca sedang tidak normal. Curah hujan sangat tinggi dan mendung sepanjang hari. Hujan bisa datang dan pergi dalam hitungan menit. Boleh jadi anda merasa senang ketika sore hari matahari bersinar cerah tetapi beberapa menit kemudian anda terperangkap hujan deras di tengah jalan saat pulang ke rumah.

Dalam skala kecil kita sedang mengalami apa yang disebut “Tahun tanpa musim panas-Year without summer. Tahun tanpa musim panas yang pernah melanda belahan bumi utara pada tahun 1816 disebabkan oleh letusan Gunung Tambora dari Pulau Sumbawa yang menyemburkan jutaan ton abu vulkanik dan sulfurdioksida ke atmosfer sehingga menghalangi sinar matahari.

Kaldera Gunung Tambora - terbentuk setelah letusan tahun 1815. Ketinggiannya terpangkas dari 4300 menjadi 2800 dpl (Sumber: http://voices.washingtonpost.com/capitalweathergang/2009/07/cool_summer_is_not_a_global_ph.html)

Hilangnya sinar matahari mengakibatkan kegagalan panen di Eropa dan Amerika Utara. Irlandia menderita kegagalan panen kentang terbesar sehingga memicu emigrasi besar-besaran ke Amerika Utara. Sementara itu penyakit tifus dan kolera mewabah di sana.

Kini letusam gunung berapi yang mematikan itu digantikan oleh jutaan cerobong. Cerobong pabrik, cerobong hutan, cerobong mobil, cerobong kapal, cerobong pesawat udara, cerobong tambang yang menyemburkan jutaan ton karbondioksida ke udara. Walaupun efeknya tidak serta merta terasa, terbukti bahwa emisi karbondiksida berperan dalam pemanasan global dan perubahan iklim dunia.

Kini kita tidak bisa menjemur baju dengan leluasa. Anda harus senantiasa sigap mengangkati jemuran karena hujan bisa turun sewaktu-waktu dengan cepatnya. Bagi anda yang tinggal sendiri maka anda harus bersabar dengan proses pengeringan yang lama dan barangkali bau yang tidak sedap karena anda tidak bisa menjemur di bawah sinar matahari langsung. Hujan yang turun sewaktu-waktu dan tidak bisa diprediksi membuat kita (yang tidak punya mesin cuci) harus menjemur di emperan.

Yang paling terpukul tentu saja sektor pertanian yang sangat mengandalkan sinar matahari untuk keberhasilan panennya. Bisa dipastikan walaupun tidak lagi kekurangan air sawah-sawah akan menurun produktivitasnya. Bawang merah dan tembakau membusuk. Cabai sedikit berbuah dan ukurannya menjadi lebih kecil. Karena berkurangnya aktivitas fotosintesis tanaman bisa dipastikan semua produk pertanian akan menurun.

Baca juga:

“Lost Kingdom” discovered on volcanic island in Indonesia

Tambora – The year without a summer

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s