Faktor Ekonomi Pengaruhi Minat Baca (Lebih penting lagi kesadaran membaca)

Duta Baca Indonesia Tantowi Yahya mengatakan penyebab utama minat baca di kalangan masyarakat Indonesia masih rendah karena faktor ekonomi.

“Ternyata minat baca berkaitan dengan kemampuan ekonomi suatu keluarga untuk membeli buku atau koran,” katanya usai menghadiri pencanangan gerakan “Kalimantan Barat Membaca” di Pontianak, Kamis.

Tantowi mengatakan kebutuhan primer masyarakat Indonesia masih diprioritaskan untuk makan, biaya sekolah, buku pelajaran, sedangkan buku bacaan, bukan suatu prioritas.

Menurut dia, untuk menanamkan minat baca dari awal membutuhkan peran orang tua apalagi peran ibu.

“Karena itu sebagai Duta Baca Indonesia saya memiliki tugas untuk hadir dalam acara-acara yang terkait dalam minat baca. Namun yang paling penting adalah penyadaran dari ibu-ibu,” kata Tantowi.” PONTIANAK, KOMPAS.com–Jumat, 29 Oktober 2010 | 01:40 WIB

==================================================================

Selain faktor ekonomi, ada faktor kesadaran dan pemilihan prioritas. Contoh sederhana, berapa banyak orang yag memaksakan diri mengambil cicilan perabot rumah tangga seharga ratusan ribu atau jutaan rupiah. Sebaliknya, berapa banyak yang mau menyisihkan puluhan ribu untuk membeli buku bagi anak-anaknya? Lebih-lebih menginvestasikan jutaan rupiah bagi buku-buku yang mendukung pegembangan minat baca anak sejak dini?

Pengalaman dan pengamatan pribadiku membuktikan hal tersebut. Di sebuah perusahaan elektronik yang besar dengan standar gaji jauh diatas UMR ternyata hanya berapa orang yang rutin membeli buku atau majalah. Begitu juga obrolan/diskusi sehari-hari tentang buku tidak terlalu banyak. Bandingkan dengan berapa kali mereka gonta-ganti gadget. Bisa jadi mereka beganti ponsel sampai 2x setahun tetapi adakah sampai 2x dalam setahun mereka belanja buku-buku?

Orang-orang yang tidak memiliki kesadaran pentingnya aktivitas membaca, ketika tingkat ekonomi sudah membaik pun tidak akan terpikir untuk menjadikan/menaikkan buku dari kebutuhan tersier atau sekunder menjadi kebutuhan primer. Jadi peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat dalam meningkatkan minat baca harus diiringi pula oleh kampanye pentingnya kegiatan membaca bagi siapa saja.

Sinergi dengan Posyandu

Jika kini pemerintah hendak merevitalisasi Posyandu ada baiknya program peningkatan minat baca disisipkan dalam kegiatanPosyandu. Selain melayani kegiatan pengontrolan kesehatan fisik anak-anak dan ibu ditanamkan juga pentingnya memupuk minat baca anak-anak. Tidak cukup sampai di situ, perpustakaan keliling yang sudah ada bisa dimaksimalkan atau ditambah lagi unitnya untuk mengunjungi Posyandu.

Jadi tidak cukup hanya dengan kampanye tetapi ibu-ibu juga disuguhi buku-buku yang bisa mereka pinjam untuk mengaplikasikan kampanye minat baca tersebut. Ini adalah investasi awal. Setelahnya diharapkan mereka bisa menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli buku bagi anak-anak mereka.

Di mana membeli buku?

Harus disadari bahwa penyeberan toko buku diIndonesia amat sangat tidak merata. Toko-toko buku yang besar dan lengkap hanya berada di kota-kota besar saja (Pulau Jawa). Jangankan kota besar (kabupaten), ibu kota propinsi di luar Pulau Jawa yang memiliki toko buku besar saja bisa dihitung dengan jari.

Dengan demikian maka yang punya akses sampai ke daerah adalah pemerintah. Karena itu perpustakaan daerah yang bersinergi dengan Posyandu adalah solusi tersepat dan paling masuk akal untuk meningkatkan minat baca masyarakat di pelosok-pelosok.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s