Funbike but also hardbike

Main bola dan badminton bersama sudah biasa bagi sebagian karyawan dan ekspat Korea. Bagaimana jika bersepeda bersama?

Well, ternyata ketika ide ini digulirkan banyak cerita mengejutkan bahwa sebagian besar dari mereka sudah bertahun-tahun tidak naik sepeda. Yang lebih aneh lagi ada yang bilang kalau dia tidak bisa naik sepeda. Jawaban Vice President tidak kalah lucu, “Semua orang harus ikut acara ini. Kalau tidak bisa naik sepeda, dorong saja sepedanya sepanjang jalan.” Ha..ha.ha…!  Belive me, it will be nice experience for them.

Kabar bahwa ada orang Korea yang tidak bisa naik sepeda rupanya bukan isapan jempol belaka. Ternyata dia ada di dalam grupku. Waktu kukumpulkan anggota grupku dia mendekatiku sambil berkata, “Sssttt… saya tidak bisa naik sepeda. Saya naik mobil (rescue car) saja.” Wadaow!! Hari gini ada orang tidak bisa naik sepeda? Bagaimana masa kecilnya dulu?

Sesuai jadual 7:30 kami berangkat dari pabrik. Tiap grup diberi interval 5 menit agar jaraknya berjauhan dan tidak bergerombol. Grupku berada di urutan keempat.

Lima menit setelah grup ketiga berangkat kami pun mulai start. He… la dalah! 500 meter dari pabrik kok grup di depanku sudah tersusul. What are you doing guys? Mungkin mereka benar-benar melakukan fun&santai bike. Tanpa curiga kami menguntit mereka sambil menjaga jarak.

Akhirnya pertanyaan kami terjawab. Ketika sampai di perkampungan jarak semakin rapat. Salah seorang dari rombogan di depan kami tampak kesulitan mengoper gigi saat melalui sebuah tanjakan kecil. Meski demikian dengan terhuyung-huyung dan hampir keluar lintasan dia berhasil melewatinya.

Lalu rombongan di depan kami tiba-tiba berhenti. Salah seorang dari mereka turun dari sepeda dengan terhuyung-huyung, kaki gemetar dan peluh bercucuran di kepalanya.”Haaa, it’s dangerous!…Dangerous! I give up!” Satu orang tumbang dan harus di-rescue dengan motorcycle taxi alias ojek.

LGEIN - Sport Integration Program

Penggemar LG

Di salah satu perkampungan rombongan kami rupanya menarik perhatian seorang bapak yang sedang mencuci motor. Rombongan kami yang berjumlah cukup banyak dan memakai kaos berwarna-warni rupanya menggodanya. “Pak, bagi kaosnya dong!” Aku hanya menoleh tersenyum ke arahnya sambil membunyikan bel, “Kring..kring!”

Rupanya dia tidak menyerah begitu saja, ternyata dia menyusul rombongan di belakangku. “Pak, Pak! Kaosnya dong buat saya.” Temanku menjawab, “Wahh ini kaos langka, Pak. Edisi khusus.” Aku yakin jawaban temanku itu justru membuatnya makin mupeng. Andai saja jatah kaosku tadi kubawa dan tidak kutitipkan ke panitia pasti akan kuberikan. Usahanya boleh juga untuk mendapatkan kaos. Sampai mengejar rombongan kami dengan motor.

Tekanan = gaya / area (P = F/A)

Kabanyakan dari mereka yang berbadan besar dan baru pertama kali naik sepeda setelah sekian lama mengeluh sakit di bagian pantat. Beberapa orang malah menyombongkan diri tidak masalah dengan jauhnya rute, kaki masih kuat, hanya saja pantat sudah terasa panas.

Salah satu peserta yang berpikiran jauh kedepan rupanya sudah memperkirakan hal tersebut. Dia mengambil lami bag pembungkus set televisi lalu melipat-lipatnya sehingga menjadi tebal lalu menaruhnya diatas sadel dengan dilakban. Tentu saja sadel menjadi lebih lebar dan empuk walaupun jadi licin. It’s oversized saddle for oversized people. 🙂 Good idea!

Sepanjang jalan seringkali aku berada di belakang mereka yang berbadan besar. Selain menggenjot sepeda mereka juga sibuk merubah-rubah posisi duduknya di atas sadel. Salah seorang yang tidak tahan memilih menggenjot sambil berdiri. Itupun tidak bertahan lama karena dengan begitu kakinya menjadi cepat pegal. Jadilah sepanjang jalan mereka miring ke kanan-miring ke kiri. Ketika finish di pabrik dan turun dari sepeda jalannya pun jadi sedikit tertatih-tatih (yang banyak juga ada) :D.

Rute yang eksotis

Banyak peserta yang tidak menduga (termasuk diriku yang melewati rute tersebut untuk pertama kali) bahwa di sekitar kawasan industri masih ada perkampungan dengan pepohonan yang sangat rindang dan tinggi menjulang.

Pepohonan yang rapat, berbatang besar dan tinggi seolah-olah hutan hujan tropis (tropical rainforest). Lebih-lebih ekspat Korea yang tiap hari lebih banyak hidup di apartemen dan jalan tol mereka mengakui pemandangan tersebut mengesankan. Apalagi ketika pemandangan tersebut dirasakan dengan bersepeda pengalamannya menjadi lebih dekat dan menyatu. Sensasinya tentu beda sekali dengan saat mereka melihatnya dari dalam mobil.

Bisa jadi ini adalah pengalaman mereka untuk pertama kalinya blusukan di kampung.. Melintas di jalan berbatu, becek, berkotor-kotor dengan lumpur. Menghirup (sedikit) aroma comberan, kandang ayam, harumnya rumput, sangitnya asap pembakaran. Inilah Indonesia yang tidak selalu serapi jalan-jalan protokol Jakarta

Iklan

3 responses to “Funbike but also hardbike

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s