Dukungan moral (psikologis) lebih berarti daripada dukungan secara fisik

“Waduhhh! Dengkul gue udah linu sekali!”

Seorang goweser rupanya sudah amat sangat kecapekan. Aku bilang “amat sangat” karena jika seorang goweser merasa “sangat capek” saja biasanya dia tidak bersuara. Maka ketika seorang goweser sampai berkata “dengkulnya linu”, “dengkulnya mau copot” dan sejenisnya berarti memang dia sudah mencapai limit.

 

Seorang goweser yang sudah mencapai endurance limit memerlukan dukungan dari goweser lain yang masih kuat. Sebagai teman seperjalanan kita harus memahami kondisinya dan tidak boleh egois. Ritme kayuhan harus kita sesuaikan dengannya. Sebaiknya ada seorang goweser yang berada di belakangnya. Ini untuk memberikan dorongan psikologis dan agar dia tidak merasa ditinggalkan.

 

Hasilnya walaupun beberapa tanjakan dilalui dengan menuntun sepeda, goweser tersebut bisa menyelesaikan rute sepanjang 60 km tanpa harus direscue dengan ojek atau mobil.

 

Pelajaran yang dapat kita ambil adalah seringkali dukungan psikologis jika diberikan dengan tulus dan sungguh-sungguh melebihi dukungan fisik. Walaupun goweser tersebut dengkulnya sudah mau copot, tanpa ditarik ataupun didorong oleh goweser lain dia bisa juga menyelesaikan rute tersebut.

 

Meski demikian ada syarat agar dukungan psikologis tersebut berhasil. Yaitu sikap pantang menyerah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s