Oleh-oleh dari Sulawesi Selatan

Jalan yang tak kunjung selesai (Dian yang tak kunjung padam)

Proyek pelebaran jalan antara Makassar-Parepare yang susah berlangsung selama dua tahun ini menyisakan banyak sekali segmen jalan terputus yang rusak dan berlubang-lubang sehingga waktu tempuh Maros-Sidrap bisa molor dari 4-5 jam. Kondisi ini yang tentu saja kontraproduktif dengan Visit Makassar 2011 atau Visit Sulsel 2012 jika tidak segera diperbaiki.

Bagi pemakai jalan kondisi ini sangat tidak nyaman karena selain waktu tempuh yang lama badan menjadi pegal-pegal karena terguncang-guncang di dalam mobil.

Semangat swasembada pangan (gerakan dua juta ton beras)

Begitu bersemangatnya mereka berswasembada pangan sampai-sampai median jalan yang baru saja dibangun bersama dengan proyek pelebaran jalan ditanami berbagai macan tanaman pangan. Jangan heran jika anda akan menemukan kacang tanah, kacang panjang, kenikir, jagung, pohon pepaya bahkan pohon turi tumbuh di median jalan.

Pemandangan ini banyak ditemui di sepanjang jalan dari Maros, Pangkep sampai Barru. Bahkan sempat ada papan peringatan di median jalan yang berbunyi ”Dilarang bercocok tanam”.

Ekstra waspada

Pengendara sepeda motor di Sulsel (Sidrap dan Parepare) sangat peduli dengan gerakan hemar energi. Sehingga amat sangat jarang (bisa jadi tidak pernah) menyalakan lampu sein (sign) sepeda motor saat akan membelok.

Jangan heran jika anda menemukan spanduk himbauan ”Nyalakan lampu sein 50 meter sebelum anda berbelok” di tepi jalan raya.

Parkir melawan arus

Kebanyakan pengendara mobil (walaupun di kota sebesar Parepare) memarkir kendaraanya dengan melawan arus saat akan menuju ke seberang jalan. Alih-alih memarkir mobilnya sesuai dengan jalurnya kemudian menyeberang jalan, mereka justeru memarkir kendaraannya di seberang jalan dengan tetap tidak merubah arah kendaraannya.

Rumah berjalan/rumah mundur

Proyek pelebaran jalan Makassar-Parepare menggusur ribuan rumah yang berada di sepanjang jalan tersebut. Meski demikian karena pemukiman belum terlalu padat di sepanjang jalan dan sebagian besar rumah di Sulsel merupakan rumah panggung kayu maka hal ini tidak terlalu banyak berpengaruh.

Rumah-rumah tersebut tidak perlu dipugar atau dirobohkan meski terkena pelebaran jalan. Pemilik rumah cukup membongkar rumahnya lalu menggesernya lagi ke belakang menjauhi jalan raya.

Jangan heran jika anda menemukan orang-orang yang memiliki rumah tetapi tidak memiliki tanah. Karena rumahnya bisa dibongkar pasang maka mereka bisa menyewa tanah kemudian mendirikan rumah di atasnya.

Iklan

One response to “Oleh-oleh dari Sulawesi Selatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s