Gowes Lippo Cikarang – Curug Cigentis (84 km)

Cuaca yang sebelumnya sangat bersahabat (berawan, angin sepoi2) tiba2 saja berubah menjadi terik ketika kami berangkat. Tidak heran ketika sampai di tikum Gardu Induk Cibatu keringat kami sudah bercucuran. Setelah acara pembukaan di belakang gardu, sepeda langsung digowes menyusuri jalan beton dengan kecepatan konstan melewati perkampungan Sukamahi, Nagasari dan Pasir Kupang.

Setelah melahap beberapa tanjakan, di pertigaan Sukamukti kami berhenti. Cuaca yang terik sangat memeras keringat membuat kami harus mendinginkan diri dan mengisi ulang perbekalan. Sengatan matahari rupanya membuat salah seorang diantara kami harus mengeluarkan sunblock cream. Kami pun berlagak menjadi pria-pria metro seksual yang melakukan perawatan diri.

Ciri khas dari rute Bojongmangu adalah kombinasi dari turunan dan tanjakan yang banyak sekali. Hal ini tidak mengherankan mengingat jalan-jalannya di bangun di punggung perbukitan. Tidak heran jika teman-teman dari Cikarang menghindari rute yang lumayan berat ini. Mereka menyimpan energinya di awal dengan memilih rute yang lebih jauh.

Akhir setelah melahap beberapa tanjakan super kami sampai di persimpangan jalan ke arah Tamansari-Pangkalan. Melalui turunan curam kami sampai di Sungai Cibeet utuk menyeberang dengan rakit. Sempat terjadi insiden kecil ketika turun dimana salah satu rantai sepeda meloncat dan terselip di antara spoke dan sprocket.

Rakit penyeberangan Cibeet

Selepas penyeberangan sepeda pun digeber untuk mengejar target sampai curug sebelum jam 12. Di tanjakan Pangkalan kami menyalip dua orang leader dari rombongan Cikarang. Sepedanya cukup membuat keder, sebuah Kona dan Merida fullsus. Meski begitu performanya harus dibuktikan dulu apakah sesuai dengan sepedanya.

Menjelang Loji kami beristirahat lagi. Di tempat ini kami kembali disalip oleh si Kona dan Merida. Akhirnya kami pun berangkat menyusul mereka. Sepeda pun digeber dengan kecepatan lebih tinggi. Pemandangannya sawah di kanan dan kiri jalan sangat menyejukkan. Sementara perbukitan di pegunungan Sanggabuana dengan bentuk yang runcing-runcing mulai nampak di kejauhan.

Belum juga menyusul mereka kami sudah beristirahat lagi di sebuah batu besar selepas pasar Loji menjelang Mekarbuana. Dari tempat ini kami mengintip rute yang bakal kami tempuh menusuri punggung gunung Sanggabuana. Keasikan ngobrol dan ngemil kamipun tersusul rombongan Cikarang yang terdiri dari 15 orang dengan sweeper sebuah KLX150 yang sedang menarik salah satu anggota mereka.

Bermaksud mendapatkan teman sepejalanan kami segera menyusul mereka, full throtle. Hanya 10 menit menggowes kami sudah bertemu mereka lagi karena mereka berhenti di depan pintu masuk desa wisata Mekarbuana.

The real challenge is coming. Selepas jembatan Cigentis kami langsung disambut tanjakan panjang disamping taman wisata. Jalan beraspal mulus mempermudah kami menaklukannya. Lalu tanjakan Deore yang panjang itupun menyambut kami. Salah seorang yang terlambat shifting memilih untuk turun dan mengulangi tanjakan ini daripada harus TTB. Kamipun menyelesaikan tanjakan Deore dengan terengah-engah. Di sebuah warung kami berhenti untuk mendinginkan diri dengan segelas teh botol Sosro dingin. Selanjutnya hal ini menjadi pola gowes kami. Satu tanjakan sama dengan segelas teh botol.

Rute sepeda Cikarang-Curug Cigentis

Kami bermaksud mengintip kekuatan Genjot Gobyos dengan naik bersama-sama mereka. Tetapi setelah ditunggu-tunggu hanya si Kona dan Merida yang naik kami pun segera memberangkatkan diri. Tanjakan Selamat Datang yang disambung dengan Penipu segera menyambut. Makadam yang runcing sangat menyulitkan handling. Jika tidak pandai-pandai memilih bagian jalan yang agak rata bisa dipastikan akan hilang keseimbangan dan turun dari sepeda. Selamat Datang dan Penipu pun dilahap dengan nafas hampir putus. Warung lagi dan teh dingin lagi. Rombongan di belakang kami pun menyusul. Beberapa menyerah dan memilih TTB. 1-0 untuk LG Goweser!!!

Penipu 2 segera menyambut kami. Jalannya ternyata masih licin karena pepohonan yang sangat rindang menghalangi sinar matahari. Wuss..wuss.. Praka dan Freski melesat meninggalkan dua orang di belakang. Lagi-lagi tidak ada yang TTB walaupun sempat selip dan turun dari sepeda. Track datar yang agak panjang setelah tanjakan membantu kami mengembalikan nafas yang terengah-engah. Menjelang tanjakan Gila dan Putus Asa kami berhenti untuk mengumpulkan tenaga sambil mengamati lintasan. Kira-kira bagian jalan mana yang akan kami lewati agar kami dapat melahap tanjakan ini.

Tanjakan Putus Asa @ Cigentis

Ada pionir mendahulusi kami. Sreet…sreet…sreet.. berhasil, tapi…yahh hilang keseimbangan karena terantuk makadam. Sebenarnya begitu melewati makadam handling akan lebih mudah karena jalan dicor beton. Tinggal membuka throttle lebar-lebar karena kemiringan tanjakannya gila-gilaan (saat turun kami lebih memilih chicken way daripada melewatinya, ngerii).

Setelah itu masih dilanjut lagi dengan tanjakan Putus Asa yang panjangnya minta ampuun. Bukan aib jika harus TTB di sini. Dengan menguras energi dan memompa jantung dan paru-paru habis-habisan akhirnya bisa juga melewatinya. Begitu sampai atas kaki langsung gemetaran dan nafas tersengal-sengal lalu ambruk di bale-bale warung (honestly sempat berkunang-kunang πŸ˜› ).

Tidak banyak yang bisa menyelesaikan tanjakan ini dengan sempurna. Kemungkinan si Kona (karena dia sudah ngacir duluan, staminanya membuat geleng-geleng kepala), salah seorang LGEIN goweser dan Om Eko dari Genjot Gobyos. Meski begitu spirit LGEIN goweser memang patut diacungi jempol. Disaat goweser lain lebih memilih TTB mereka memilih berhenti lalu menggowes lagi. Two thumbs up! Selepas tanjakan ini maka tanjakan berikutnya menjadi kurang berarti lagi walaupun cukup panjang. Satu-satunya kendala melewatinya adalah karena energi kami sudah habis.

Begitu mencapai loket Curug Cigentis maka kami harus menyelesaikan soal terakhir. PGB sampai di air terjun. Orang-orang hanya geleng-geleng kepala melihat kami berpayah-payah memanggul sepeda melewati jalan setapak terjal berbatu. Selebrasi itu tidak afdol jika tunggangan kami tidak diajak berfoto bersama di bawah guyuran air terjun.

LGEIN Gowes @ Cigentis

Iklan

16 responses to “Gowes Lippo Cikarang – Curug Cigentis (84 km)

  1. Salut buat LGEIN.
    Stamina-nya mantapp.

    Kapan kita jalan bareng OM Ir.
    Ke Jatiluhur yuk!!

    kalau mau jalan boleh gabung donk.
    Eko : 0857.8085.9079

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s