Gowes Cikarang-Pangkalan-Loji-Jatiluhur|126 km

Acara gowes ke Jatiluhur yang semula direncanakan 5 Maret akhirnya
harus dimajukan ke 26 Februari karena pada tanggal 5 Maret ada acara
gowes akbar ke Nawit. Menjelang detik2 terakhir tenyata ada perubahan
mendadak, dua orang goweser harus menyelesaikan tugas di pabrik
sehingga acara gowes dipindah ke hari Minggu, 27 Februari.

Karena di hari Minggu banyak yang berhalangan maka hanya dua orang
yang berangkat. Tikum mengambil tempat di AA Bike Cikarang. Seperti
biasa sejak pagi banyak member Cikarang MTB yang nongkrong di situ.
Sambil mengobrol dengan mereka kami bertanya tentang rute melalui
Jembatan Gantung.

Bermaksud mempersingkat jarak kami masuk melalui kampung ternyata hal
itu justru membuat kami bingung sehingga nyasar sampai sejauh Ā 4 km.
Disaat kami kebingungan apakah akan melewati Jembatan Gantung atau
Bojongmangu tiba-tiba hujan turun dengan derasnya seolah-olah menguji
komitmen kami untuk menuju TKP apapun kondisinya.

Becek dan licin

Dibawah guyuran hujan deras kami kembali menyusuri kampung dan
berusaha menemukan rute ke Jembatan Gantung. Berbekal MPS (Man Positioning System, alias bertanya di pinggir jalan) kami bisa
menemukannya. Rutenya berupa jalan berkerikil yang berubah menjadi
licin akibar air hujan. Seperti kebanyakan kontur tanah di Cikarang
bagian selatan rute kali inipun naik turun bukit kecil. Lalu menjelang
Jembatan Gantung rutenya berubah menjadi tanah becek yang mebuat ban
kami menjadi donat.

Jembatan Gantung

Rupanya tanah becek dan lengket berlanjut setelah jembatan gantung.
Kini lebih parah lagi, lumpur tersangkut di RD dan FD lalu ikut
terbawa rantai sehingga sangat menggangu drive train. Gowesan menjadi
berbunyi dan terasa berat. Beruntung di dekat kampung kami menemukan
sumur di tengah ladang. Kesempatan itu kami manfaatkan untuk membasuh
pakaian, celana dan sepeda.

Setelah membersihkan diri tidak berapa lama kami sampai di Cibeeet
Dam. Setelah narsis beberapa saat kami melanjutkan perjalanan
menyusuri Jl Raya Pangkalan. Rute yang sangat kami hafal karena ke
Cigentis dua kali.

Membersihkan celana dan sepeda yang belepotan lumpur

Sampai di Pangkalan kami bertanya ke bapak-bapak tentang rute jalan ke
Cintalanggeng, Ciawitemen. Beliau menyarankan agar kami lewat Loji
saja karen rute Cintalanggeng tersebut rusak berat dan sepi dari
perkampungan. Lewat Loji jalannya lebih bagus katanya.

Bermaksud mengikuti saran bapak tersebut kamipun menggowes menuju
Loji. Ternyata masih ada sisa-sisa lumpur yang menempel di rantai dan
membuat gowesan berbunyi. Rantai menjadi abrasif. Beruntung
di pasar Loji kami menemukan minyak Singer sehingga kami dapat
melumasi rantai.

Selepas pasar Loji kami senang bukan main karena jalannya menurun
lumayan panjang. Hinggga akhirnya, “Bujubuneng!” Ternyata rute ini
memiliki belasan tanjakan karena kami harus memotong punggung-punggung
bukit. Belum lagi jalannya yang sangat becek dan licin sehabis turun
hujan.

Tanjakan

Rute Loji – Kutalanggeng -Kutamaneuh benar-benar menguras semangat dan
energi kami. Tak terhitung banyaknya kami bertanya kepada orang-orang
di pinggir jalan berapa jauh lagi kami sampai di Jatiluhur dengan harapan
ada yang mengatakan sudah dekat. Tapi jawaban yang kami dapat,
“Jatiluhur mah masih jauh. 7 km lagi.” Perasaan dari tadi bilangnya
7 km kok tidak berkurang sampai sekarang. Jangan-jangan mereka hanya
mengenal angka 7 km untuk jarak jauh padahal jarak sebenarnya lebih
dari itu.

Lha bukannya bapak tadi bilang bahwa jalan dari Loji
bagus kok bisa separah ini. Jangan-jangan yang dari Pangkalan lebih
parah lagi.

Bukit berselimut hutan hujan tropis

Lepas dari itu semua pemandangan di kanan-kiri jalan menjelang
Jatiluhur sangat menyejukkan. Bukit-bukit masih menghijau
berselimutkan hutan hujan tropis yang rapat. Dari kejauhan nampak
batang-batang pohon yang besar. Lahan yang dekat dengan jalan
biasanya dijadikan kebun coklat, pisang, rambutan dan biasanya
diselingi dengan palawija.

Dan akhirnya setelah 2x dihajar tanjakan ngehe kami pun sampai di sisi
barat Jatiluhur. Alhamdulillah. Cyclo sudah menunjukkan angka 56.
Lebih jauh daripada ke Cigentis yang hanya 41. Sayang volume bendungan
tidak penuh sehingga keindahannya sedikit berkurang. Sisi barat
bendungan ternyata tidak kalah indah dengan deretan perbukitan dengan
hutan yang masih perawan. Sayang akses jalan ke sini banyak yang rusak
berat.

Jatilihur

Dasar bendungan yang tidak terisi air

Keder dengan kondisi jalan (maksudnya tanjakan) yang menakutkan kami
memutuskan untuk pulang lewat Purwakarta saja. Kami berasumsi selepas
bendungan ini tidak akan tanjakan edan lagi.

Setelah sesi narsis kami bersepeda menyusuri bendungan. Lalu menemukan
sebuah tanah Ā  menjorok ke tengah bendungan. Di situ kami membilas
sepeda. mencuci sepatu, membasuh muka dan sholat di tengah bendungan.

Setelah sholat kami naik ke warung2 dan tempat parkir mobil. Selesai
makan kami bermaksud mencari mobi lyang bisa membawa kami ke Klari.
Jamsudah menunjukkan angka tiga dan kami sudah kecapekan. Ternyata
dari sekian banyak mobil tidak ada yang menuju Klari dan rata-rata
adalah mobil pemancing yang sudah penuh.

Dibawah guyuran hujan kami melanjutkan perjalanan sambil berharap ada
mobil yang bisa ditumpangi. Lagi pula pikir kami pasti jalannya rata.
We’re wrong! Ternyata ada tanjakan yang lebih kejam dan sadis
dibanding sebelumnya. Berkelok-kelok dan serasa tidak pernah habis.
Tanjakan ini memakan korban dengan bengkoknya salah satu RD kami karena
dihajar bongkahan bebatuan. Maaf, diujung bukit dimana menghadapi
Tanjakan Tak Berujung kami harus TTB. Energi dan nafas kami terkuras
habis (yang pernah ke Hambalang dan Gunung Pancar boleh mencicipi lalu
membandingkannya).

Salah satu tanjakan edan

Menjelang Bendungan Utama kami mendapat pelipur lara berupa Turunan Semriwing. Setelah itu kami mendapatkan Orange Bridge, salah satu hotspot untuk narsis. Setelah jembatan oranye ternyata kami masih mengalami N11 akibat lupa bertanya di pertigaan. Kami terpakasa membuang energi dan tenaga kami dengan mendaki bukit. Padahal seharusnya setelah jembatan oranye kami harus belok kiri untuk menyeberang Cikao dengan eretan yang akan mengantarkan kami ke Raya Curug.

Orange Bridge - Jembatan Oranye Jatiluhur

Jam 18:00 kami akhirnya sampai di Indo Bharat Rayon. Kami memutuskan untuk naik angkot sampai Klari dan menggowes lagi dari sana.

Total jarak yang kami tempuh hari itu 125,87 km dari jam 7:45 sampai 21:34.

Rute Gowes Cikarang-Loji-Jatiluhur

Simulasi rute Cikarang - Jatiluhur menggunakan bikemap.net

Iklan

13 responses to “Gowes Cikarang-Pangkalan-Loji-Jatiluhur|126 km

    • Pulogadung-Serang sepertinya lebih dari 40 km Om. Kalau digowes rutin bisa jadi modal untuk meningkatkan endurance dan melibas rute2 jarak jauh šŸ™‚

  1. mangtab deh hari gini ternyata masih banyak yg peduli dengan bersepeda dan cinta alam juga lingkungan…hehehe…
    setelah membaca kisah ini jadi kepengen juga yah berpergian dengan bersepeda…tapi kalo buat pemula kaya ane gak berani jauh kayak gitu….oke semoga sukses…..goes…goes…kring…kring….

    • Mulai saja dari jarak dekat, tingkatkan frekuensinya, kurangi pemakaian kendaraan bermotor :). Jika itu rutin dilakukan lama-lama kaki akan terbiasa dan semakin kuat mengayuh sepeda.

      Ane sekarang rutin gowes Selasa-Jumat ke tempat kerja. Lumayan 26 km pp.

  2. Bener juga sih om! Kemarin minggu dah coba offroad di deltamas, lumayan gak pengaruh saat nanjak. Tapi saat turunan itu baru pegalnya kerasa banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s