Gowes Sukamakmur-Curug Ciherang (part 2)

Begitu kembali ke rumah waktu sudah masuk waktu dhuhur. Selesai sholat dhuhur tibalah waktu makan siang dengan menu khas sunda. Banyak lalapan yang baru kami temui termasuk diantaranya daun kopi. Sebuah lalapan yang mirip lidah buaya tetapi tipis diklaim bisa meningkatkan stamina. Beberapa orang yang mengetahui khasiat tersebut langsung menambah porsinya. Tiba-tiba saja daun tersebut menjadi favorit kami semua.

Menu khas Sunda, aneka lalapan

Setelah makan siang, tepat jam 13:00 dibawah mentari yang sangat terik kami melanjutkan perjalanan ke Ciherang. Kali ini tanjakannya jauh lebih sadis. Super ngehe. Keringat benar-benar mengalir deras dari kepala melewati leher, dagu lalu berjatuhanke paha. Dari 13 orang, 3 orang sudah menyerah duluan karena faktor usia dan stamina. Lalu di tengah jalan 3 orang menyerah lagi. Sehinggal total goweser yang mencapai Curug Ciherang hanya tujuh orang.

Sadisnya tanjakan membuat kami sering berhenti untuk mengambil nafas, mengisi ulang cairan tubuh dan memulihkan stamina. Tidak heran jika jarak 9 km kami tempuh selama 3 jam. 1 jam adalah waktu gowes yang sebenarnya sedangkan 2 jam adalah waktu istirahat yang kami habiskan.

Ketika sampai di sebuah pertigaan kami sempat bertanya ke penduduk tentang rute ke Curug Ciherang. Mereka berkata tidak mungkin goweser kuat ke sana karena tanjakannya terlalu curam. Kata mereka ada beberapa bule yang mencoba tetapi menyerah dan TTB sepanjang jalan. Mungkin mereka berpikir bule lebih superior dibanding kami sehingga semakin tidak mungkin ā€“ menurut mereka ā€“ kami bisa menaklukkan rute ini.

Berhasil melibas tanjakan

Hal ini justru menjadi penyemangat kami. Kami ingin mengalahkan bule tersebut dan menunjukkan bahwa kami sanggup ke atas tanpa TTB. Memang kami tidak menggowesnya secara nonstop tetapi kami hanya berhenti disaat istirahat. Selebihnya kami melalui semua tanjakan dengan menggowes walaupun sampai ngap-ngapan.

Terjalnya tanjakan di rute ini membuat kami benar-benar harus merundukkan badan dengan muka hampir menyentuh setang untuk memindahkan titik berat ke depan sehingga ban depan sepeda tidak terangkat-angkat. Asap motor dan bau kanvas kopling dari motor atau mobil yang berlalu lalang menambah kendala menaklukan rute ini.

Menjelang tanjakan ngehe terakhir

Setelah melalui tanjakan super ngehe dari jalan yang berada di sebuah tebing bukit kami sampai di puncak dimana terdapat pertigaan. Ke kanan mengarah ke Curug Ciherang dan ke kiri ke arah ke Curug Cipamingkis dan Desa Sukawangi. Kami memutuskan untuk ke Curug Ciherang yang lebih dekat, hanya 300 meter dari pertigaan. Jalan menuju curug ini masih berupa makadam yang runcing dan di beberapa bagian menjadi sangat licin karena aliran air membawa tanah yang berubah menjadi lumpur akibat dilalui motor ataupun mobil. Seorang goweser yang memakai ban kecil 1,75, bannya sampai robek-robek terkena makadam runcing. Beruntung tidak sampai meletus.

Ciherang rupanya sangat populer sehingga banyak yang mengunjunginya. Bahkan sampai sore hari sekitar jam empatan masih banyak pengunjung. Beberapa klub motor juga nampak sebagai pengunjung curug ini.

@ Curug Ciherang

Setelah berfoto-foto sebentar kami langsung turun karena hari mulai gelap. Turunannya sungguh menyeramkan karena saking curamnya. Belum lagi lintasan yang berkelok-kelok sangat menyulitkan handling. Baru beberapa ratus meter meluncur salah seorang goweser harus keluar dari jalan aspal karena terlambat mengerem dan menikung. Tidak berapa lama ada seorang goweser lain yang kehilangan kendali menabrak sebuah lapak di pinggir jalan. Posisi sadelnya yang kurang rendah membuat ia terlempar dari sepeda karena pengereman yang ekstrim membuat roda depan terkunci. Badannya menabrak tiang lapak sampai roboh dan uniknya sepedanya terlempar lalu tersangkut di lapak tersebut.

Beberapa orang di pinggir jalan bergegas menolong. Beruntung dia hanya menderita lecet dan memar-memar karena jatuh di badan jalan yang tidak beraspal. Lebih untung lagi lapak tersebut menghalanginya sehingga tidak terjatuh ke jurang. Setelah memastikan bahwa tidak ada luka berat temannya langsung tertawa karena ada sepeda nangkring di bambu sementara pengendaranya ndlosor. Lol. Setelah insiden tersebut sadel pun dipendekkan sampai mentok sementara kecepatan tidak lebih dari 30 km/jam. Trauma.

Jika naik ke Curug membutuhkan waktu 3 jam maka turun hanya membutuhkan waktu 30 menit. Jam 17:30 kami sampai di basecamp. Lagi-lagi teh dan kopi hangat sudah menunggu lalu disusul dengan singkong goreng. Sambil menikmati hidangan tersebut semua orang membahas trek yang baru dilibas dan berbagai kejadian konyol dan lucu dengan gayeng.

*Terima kasih untuk teman-teman Ratec yang mengajak gowes seru ke Curug Ciherang*

Iklan

2 responses to “Gowes Sukamakmur-Curug Ciherang (part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s