Gowes Jalur Ngehe Jatiluhur – 120+ km

Keinginan untuk menebus kegagalan di tanjakan dan mengantarkan beberapa teman yang belum pernah mencicipi JNR (Jatiluhur Ngehe Route) akhirnya mengantarkan kami kembali menyambangi bendungan terbesar di Indonesia ini. No rubber watch, jam 07:00 semua member tiba di AA Bike. Yang belum sempat sarapan segera mengisi bahan bakar dengan nasi uduk sebagian lainnya mengisi ulang perbekalan dan sambil melihat-lihat aksesori sepeda.

Melewati the legendary DM XC route sepeda digeber di perbukitan selatan Delta Mas. Sebelum jembatan gantung lintasan didominasi jalan berpasir dan berbatu yang membuat ban selip-selip sedikit. Selepas jembatan merupakan jalan tanah single track sempit dengan beberapa jebakan kubangan dan ranjau hijau. Benar-benar the real XC route yang cocok untuk digoset. Jembatan gantung dan bendungan Cibeet merupakan landmark dari rute ini. Tentu saja kami tidak melewatkan kesempatan ini untuk bernarsis ria. Sayang ada insiden dimana salah satu ponsel teman kami nyemplung ke dalam bendungan karena jerseynya bolong.

Jembatan gantung Cibeet

Selepas pertigaan Kaligandu rombongan terseleksi secara alami. Terdepan adalah kumpulan dengkul turbo dengan komandannya Om Freski dan Om Harun. Di tengah ada Om Praka. Dan paling belakang merupakan rombogan yang paling lambat dengkulnya menjadi panas, Om Agus dan Om Irawan. Bisa jadi karena menu sarapan yang kurang pas atau selang waktu yang terlalu pendek sehingga makanan belum sempat turun dari lambung, menjelang Pangkalan sebagian besar sudah merasa lemas. Di tikungan kami beristirahat sebelum melibas tanjakan selamat datang agak panjang.

Menjelang pasar Loji salah seorang member terserang kram di paha. Kesempatan untuk beristirahat. Counterpain menjadi penolong. Sampai di sini sebagian besar masih belum menemukan ritme gowes yang pas. Di pasar Loji menjadi lokasi regrouping dan mengisi ulang perbekalan berikutnya. Gorengan dan roti bolu menjadi penganjal perut. Pulpy orange, mizone, aqua, frestea dimasukkan ke dalam tas. Lumayan berat mengingat sebentar lagi kami harus menaklukan banyak tanjakan.

Selepas pasar Loji lintasan berupa turunan menjadi bonus. Satu lagi bonus yang selalu kami dapatkan di perjalanan adalah sorak sorai dari anak-anak yang mungkin menganggap rombongan kami sebagai rombongan Tour de Franc atau Giro d’Italia :P.

Narsis

JNR memiliki sekitar 19 tanjakan (sampai Bendungan Barat saja) dan yang cukup ngehe adalah tanjakan 8, 13 dan 17. Sebagian besar tanjakan merupakan jalan aspal yang terkelupas sehingga berubah menjadi jalan makadam. Beberapa bagian jalan yang tererosi membuat tanah terekspos dan ketika terkena air menjadi licin dan berlumpur.

Memerlukan kesabaran dan handling yang bagus untuk menaklukannya. Beberapa kali karena salah mengambil jalan membuat kami kehilangan momentum sehingga harus turun dari sepeda. Atau kesalahan memasang strategi dimana gigi terbesar sudah di-shift dari awal tetapi putaran crank tidak diturunkan (terlalu ngicik) sehingga sampai pertengahan tanjakan kehabisan nafas dan power. Yang harus diingat ketika kita memilih gigi terbesar adalah kecepatan gowes kita juga harus diturunkan. Banyak yang tertipu oleh ringannya gowesan dan bermain dengan putaran tinggi. Akhirnya energi pun banyak yang terbuang.

Cuaca yang agak mendung cukup menolong kami sehingga konsumsi air tidak terlalu banyak. Teriknya matahari bisa membuat kami menjadi keripik. Dengan ketinggian berkisar 100-an dpl memang suhu udara di daerah ini cukup panas. Penolong yang bisa diharapkan adalah pepohonan di pinggir jalan, awan yang menutupi matahari dan es cincau :P.

Energi dari es cincau membantu kami menaklukan tanjakan 8. Meski demikian kami harus berhenti dan beristirahat di ujung tanjakan untuk menurunkan denyut jantung yang sudah tinggi dan dengkul yang mulai ada gejala kram. Counterpain lagi.

Tanjakan #13 - Jatiluhur

Tanjakan 13 seringkali membuat goweser tertipu dan menganggapnya tidak terlalu tinggi. Beberapa orang pun merasakan tipuannya.

Tanjakan #17 (Jalur Ngehe Jatiluhur)

Tanjakan 17 walaupun tidak terlalu panjang tetapi yang paling curam dari 19 tanjakan yang ada. Beruntung setelah menggeber paru-paru dan jantung untuk menaklukan tanjakan ini kami dihibur oleh paduan suara owa & siamang yang berasal dari hutan lebat di sisi jalan. Jam 12 pun kami sampai di sisi barat bendungan. Istirahat beberapa saat sambil bernarsis ria.

Bendungan Barat Jatiluhur - hutan lebat riuh dengan suara owa dan siamang

Narsis @ Bendungan Barat Jatiluhur

Di ujung bendungan kami beristirahat lagi di sebuah bale-bale dari sebuah warung. Sambil menunggu mie telur kami tidur-tiduran dan akhirnya tidur beneran dengan diiringi oleh koleksi lagu-lagu audiophile dari Om Tjipto.

Keasikan membaringkan badan membuat kami melupakan waktu. Tak terasa sudah jam 2 siang ketika kami sholat Dhuhur sebelum melanjutkan perjalanan lagi.

Kelenger

Tepat jam 14:30 berbekal energi dari mie rebus+telor kami mulai menggowes untuk menaklukan tanjakan maskot. Tanjakan ini merupakan sebuah bukit yang menjadi bendungan alami bagi waduk Jatiluhur. Bukit ini membujur tegak lurus dengan aliran Citarum.

Tanjakan pertama semua lulus dan bisa melibas. Tapi yang baru pertama kali melibas jalur ngehe ini biasanya tertipu dan merasa tanjakan sudah berakhir padahal maskotnya masih ada dibalik beberapa tikungan lagi :D. Dan akhirnya secara spontan salah seorang berujar, โ€OMG, kok tidak ada habisnya tanjakan iniโ€. Satu persatu goweser rontok dan tercecer. Ada yang TTB, ada yang beristirahat dulu di tengah tanjakan. Akhirnya tanjakan ini meluluskan tiga goweser yang melibas secara non-stop dari bawah sampai puncak. Congratulation!

Begitu sampai di sisi utara bukit yang cukup tinggi kami bisa melihat pemandangan lembah Citarum. Lalu saatnya menikmati bonus turunan. Dan lagi-lagi masih ada beberapa tanjakan bonus sebelum dibayar dengan turunan semriwing yang panjang dan cukup curam. Merinding! Kecepatan dibatasi 50 km/jam saja demi keselamatan.

Jembatan Oranye (Orange Bridge)

Narsis di jembatan Oranye sambil melihat orang-orang memancing ikan patin. Gemas karena ikan-ikan sebesar paha pada nyembul ke permukaan tetapi kok umpannya belum ada yang termakan ikan. Ikan ST (selera tinggi).

PLTA Ir. H Juanda

Ujian belum berakhir karena kami masih harus menaklukan tanjakan WI sebelum mendapatkan es kelapa muda, ayam goreng maknyuss dan sambal terasi. Di tanjakan ini nampaknya semua sudah kehabisan energi. Gowes pelan2 tanpa ada suara. Hening. Dan akhirnya semua rebah di pinggir jalan.

Kecapekan di area Wisma Indosat - Jatiluhur

Jam 5 sore akhirnya kami baru bisa mendapatkan jatah makan siang. Es kelapa muda benar-benar terasa segar dan manis. Elektrolit alami mengalahkan elektrolit buatan semacam Mizone atau Pocari. Ayam goreng, tempe+tahu goreng dan sambal terasi maknyuss mengembalikan energi kami yang terkuras oleh + 25 tanjakan.

Setelah mandi dan sholat maghrib kami melanjutkan perjalanan pulang tepat jam 6:30. Beruntung kami tiba di eretan Cikao sebelum jam 8 malam. Tepat sebelum penyeberangan tersebut berhenti beroperasi.

Berbekal MPS kami bertanya persimpangan ke arah Kalimalang. Clue-nya adalah POJ (Perumahan Otorita Jatiluhur). Well, di tempat ini kami mendapatkan berkah. Salah seorang penghuni yang bersimpati memberi kami pisang hijau manis dan besar-besar. Cocok untuk mengganjal perut, mengembalikan kalori dan potassium yang keluar bersama keringat.

Selepas bendungan Curug treknya berupa jalan tanah yang penuh dengan kubangan bekas ban truk. Ban truk tersebut menciptakan semacam parit-parit kecil di tengah jalan. Parit-parit ini sering menjebak kami dan jika tidak hati-hati pasti terjatuh karena cukup dalam. Apalagi lampu depan merek abal-abal kurang bisa diandalkan. Jadilah kami gowes meraba-raba.

Begitu sampai di Tegaldanas kami memanfaatkan kesempatan ini untuk mengisi perut dengan semangkuk bubur kacang hijau hangat dan beberapa potong kue cucur. Ini kesempatan untuk memulihkan energi bareng-bareng sebelum rombongan berpisah ke rumah masing-masing. Benar-benar kacang hijau ternikmat yang pernah kami santap. Kondisi lelah membuat semua jenis makanan menjadi begitu nikmat.

Man of the tour:

1. Om Praka : gowes non-stop dari Bekasi Barat

2. Om Hanif : nubi yang langsung melibas trek berat

Jalur Ngehe Jatiluhur (JNR)

Iklan

16 responses to “Gowes Jalur Ngehe Jatiluhur – 120+ km

    • salah, om. dengkul sama terbuat dari kalsium. cuma perlu semangat dan kesabaran untuk menaklukan rute/trek seperti ini. tidak heran jika total waktu istirahat lebih lama dibanding waktu gowes ๐Ÿ™‚

  1. Perjalanan yang cukup menyenangkan kayanya.. salutt…. bikin pengin ngikut aja, cuman belum siap, baru tes dengkul, tes nafas, maklum terakhir nggowes 15tahun yg silam, sepeda blom ada yg memadai.
    Kayanya rombongan Mas Irawan yang ketemu di bengkel AA saat saya nuntun sepeda rusak, pagi pagi saat bengkel blom buka … dan saya yang menanyakan bengkelnya buka apa blom… bener ngga mas itu rombongannya ?

    • Memang kami berkumpul di AA Bike dulu. Tapi saya datang belakangan jadi ga ketemu dengan Om Hans.

      Sebenarnya untuk cross country tidak perlu sepeda yang terlalu mahal Om. Sekelas Polygon Premier/United Venus sudah cukup ๐Ÿ™‚

  2. Kemarin baru nyobain tahap awal Graha asri – Pasar festival cikarang baru – Cibatu – Lippo – Rencana jl tol – Cibatu – balik Graha asri….( kayanya treknya Mas Irawan ya? ) ….nafas dah ngos2an .. bagi bagi trik latihan awalnya mas ?
    trmkasih.

    • bener Om. itu trek seputaran rumah saya. saya tinggal di Taman Cibodas, Lippo Cikarang.

      tipsnya sederhana. rajin bersepeda dan ditambah terus mileage-nya. lebih bagus lagi jika rajin bike to work ๐Ÿ™‚

  3. Thanks a lot Om. Saya sudah lihat dan lagi cari cara untuk buka rute itu di peta google atau eksport ke gpx (file gps). So far belum ketemu caranya. Oya Om, kalau saya biasa pake everytrail.com, lumayan bisa diupload dari BB atau gps hp lain.

  4. Om Irwan, adakah teman2 yang tahu jalan yang akan ke Jatiluhur lagi? kita lagi rencana nih, siapa tahu bisa ketemu barengan. Rencana berangkat dari Pekayon Bekasi.

    • belum ada tuh Om. sebenarnya kalau mau gampang tinggal menyusuri Kalimalang saja. ga ada tanjakan sama sekali dan tinggal lurus-lurus saja sampai Bendungan Curug/POJ (Perumahan Otorita Jatiluhur). tapi membosankan.

      kalau ingin berpetualang memang harus via Pangkalan/Loji. rutenya onroad Om jadi kemungkinan tersesat sangat kecil. ane pas pertama ke sana hanya berbekal MPS (mouth positioning system) alias bertanya di pinggir jalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s