Majalah tanpa sampul

Bosan dengan buku-buku perpustakaan kampus yang sebagian besar isinya buku-buku serius aku mulai melirik majalah. Aku pernah melihat temanku membawa majalah Raders Digest edisiAsia. Isinya benar-benar menarik perhatianku. Namun ketika melihat harganya yang lumayan mahal aku hanya bisa menyimpan keinginanku untuk bisa membeli majalah tersebut secara rutin.

Ketika hendak mencari buku-buku bekas untuk pegangan kuliah aku mendapat ide. Kenapa tidak sekalian mencari majalah Reader’s Digest di pasar buku bekas?

Selesai kuliah langsung kukayuh sepedaku ke arah Blok M. Blok M merupakan plesetan dari Jalan Majapahit dikotaMalangdimana di sepanjang jalan ini terdapat kios-kios buku bekas. Jalan ini terbagi dua oleh aliran Sungai Brantas. Bagian selatan merupakan tempat dimana kios-kios buku bekas berada. Panjangnya kurang lebih 100 meter saja.

Dari deretan depan kios-kios aku langsung bertanya apakah mereka memiliki majalah Reader Digest bekas. Ternyata kios-kios di bagian depan tidak satupun yang memiliki majalah tersebut.  Rupanya susah juga untuk mendapatkan bekas majalah ini. Sampai tiga perempat deretan kios aku masih belum bisa mendapatkan majalah ini. Tetapi aku pantang menyerah karena masih ada beberapa kios lagi.

Akhirnya tepat di deretan kios terakhir, kios ketiga dari ujung, tepat di tepi jembatan Sungai Brantas aku mendapatkan majalah ini. Ketika aku bertanya tentang Reader’s Digest si pemilik kios langsung membongkar tumpukan buku-buku. Tepat di bagian tengah terdapat setumpuk majalah tanpa sampul. Lho kok?

Ternyata majalah-majalah tersebut adalah edisi lama yang tidak terjual dan oleh distributornya kemudin dijual sebagai majalah bekas tetapi dengan membuang sampulnya terlebih dahulu. Aku kecewa tetapi begitu diberi tahu harganya yang hanya dua ribulimaratus rupiah air liurku langsung menetes. Dengan uang sepuluh ribu rupiah yang ada di kantongku akan bisa mendapatkan empat buah majalah. Aku bersorak dalam hati. Ini namanya diskon 90% dari harga normal duapuluhlimaribu rupiah.

Sejak saat itu rute pulangku menjadi lebih jauh karena aku rajin menyambangi Blok M sekedar untuk mengecek apakah ada majalah bekas yang baru datang. Reader Digest edisiAsiamenjadi koleksi favoritku. Bahkan ketika aku harus pindah ke Jakarta karena diterima bekerja di sebuah perusahaaan elektronik, setumpuk majalah Reader Digest adalah salah satu barang yang kumasukkan ke dalam koperku bersama dengan pakaian, makanan dan beberapa dokumen.

Kini setelah aku bekerja dan mampu membeli majalah Reader Digest yang baru aku masih menyimpan sebagian koleksi majalah yang kubawa keJakartadulu.Adabanyak kenangan di dalamnya. Dan tiap kali aku memandangnya maka ingatanku langsung terbang ke Blok M yang rindang dipayungi pohon-pohon trembesi dan ramai oleh kicauan burung karena berdampingan dengan pasar burung.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s