Gowes Tour d’ Celebes|melibas trek Kalosi-Kalola-Bila

Xtrada 4.0 sudah kusiapkan sejak kemarin sore. Toolkit, botol air minum dan kamera sudah masuk ke dalam tas. Pagi yang sejuk setelah semalam sempat turun hujan.

Kukayuh sepedaku menyusuri Jl. Poros Pare-Sengkang yang masih sepi dari kendaraan. Hamparan sawah dengan padi yang sudah menguning berada di kanan-kiri jalan. Beberapa segmen jalan bergelombang dan berlubang akibat tanah labil tidak mampu menahan beban kendaraan yang lalu-lalang di Trans Sulawesi ini.

Sesampainya di pintu air sepeda kuarahkan ke kiri menyusuri saluran irigasi sekunder Kalola. Aku pernah terpesona oleh derasnya air irigasi Cipamingkis yang berada di sepanjang jalan Sukakmakmur yang ternyata jauh lebih kecil daripada debit irigasi Kalola ini. Padahal sekarang sedang musim kemarau.

Hamparan sawah berlatar belakang rumah tradisional Bugis

Jalanan bergelombang, campuran kerikil dan tanah dengan rintangan berupa ranting dan semak-semak di sepanjang jalan. Deretan akasia berdiameter besar menaungi trek sepanjang saluran irigasi ini. What a perfect XC track. Kenda Kharisma 2.1 terbukti cukup mumpuni melibas trek ini. Walaupun trek banyak yang berpasir dan berkerikil tetapi jarang sekali ia selip.

Trek sepanjang 6 km ini berkategori low-medium tergantung dari kecepatan kita. Jika kita memacu sepeda di trek ini maka ia akan naik tingkat menjadi medium karena butuh handling hati-hati agar tidak terperosok ke lubang—lubang atau menyasar semak dan perdu. Andai saja sebelumnya hujan deras turun maka trek ini akan memiliki banyak kubangan. Mereka yang gemar ber-offroad pasti akan menyukainya.

Lepas dari 6 km trek tanah maka kita akan menyusuri trek beraspal sepanjang 3 km sebelum tiba di kaki bendungan. Di sepanjang trek ini akan kita jumpai rumpun-rumpun pepohonan yang lebat sekali yang bersaing dengan berbagai macam liana dan epifit untuk mendapatkan sinar matahari. Mungkin ini sisa-sisa hutan yang belum ditebang dan dijadikan ladang.

Rute gowes Kalosi-Kalola-Bila

Setelah menanjak tidak terlalu tinggi maka kita akan sampai di puncak bendungan. Mungkin karena beda muka air yang tidak terlalu tinggi maka bendungan ini tidak digunakan sebagai pembangkit listrik. Meskipun demikian jika diinstall pembangkit mikrohidro pasti masih bisa.

Jerseyku mulai basah oleh keringat ketika aku sampai di puncak bendungan. Segar sekali udara di bendungan ini. Menghirup udara pagi sambil menatap hamparan air dan hijau pepohonan yang tumbuh rapat di sisi bendungan sungguh menyenangkan. Apalagi tidak ada lalu lalang kendaraan bermotor di tempat ini membuat udaranya bebas dari polusi.

Suasananya sangat cocok untuk mencuci mata ataupun menghilangkan kepenatannya akibat terlalu sering dipakai memelototi computer ataupun berkas-berkas. Bagi mereka yang tiap hari bekerja di sekitarnya mungkin pemandangan ini terasa biasa-biasa saja. Tetapi bagi mereka yang biasa bekerja di kantor ataupun pabrik, pemandangan seperti ini bagaikan oase di tengah padang pasir.

Sayang bendungan ini kurang terawat. Tidak ada fasilitas atau permainan yang bisa dinikmati pengunjung. Jika saja bendungan ini berada di Jawa pasti akan menjadi obyek menarik seperti halnya bendungan Selorejo atau Karangkates. Meski demikian bagi goweser hal ini tidak menjadi masalah karena tujuan utamanya adalah menaklukkan lintasan.

Meski memiliki curah hujan tinggi tetapi Sidenreng Rappang dan Wajo memiliki padang rumput yang cukup luas. Padang rumput ini justru terdapat pada perbukitan sehingga seringkali nampak seperti bukit Telettubbies. Ada dua peternakan yang memanfaatkan padang rumput tersebut yaitu PT Berdikari United Livestock dan Kalola Ranch. Mengingat elevasinya yang tidak terlalu tinggi udaranya terasa panas. Mirip dengan udara Cikarang.

Kawanan sapi di area PT Berdikari United Livestock

Aku mulai mencari jalan tembus menuju Bila melalui punggung-punggung bukit. Dan sesekali menerobos ladang penduduk. Musim kemarau membantuku melibas rute yang 100% berupa tanah. Andai saja dilibas saat musim hujan pasti akan memerlukan energi ekstra. Bisa-bisa malah terperangkap di tengah padang rumput atau ladang. Pemandangannya sungguh mempesona. Jika aku pernah terkagum-kagum dengan pemandangan saat melibas trek Cibening-Nawit maka pemandangan kali ini jauh lebih bagus daripada trek tersebut.

Akhirnya aku berhasil mendapatkan jalan poros Bila-Baruku. Langsung saja kuarahkan sepedaku menuju tujuan akhir yakni Bendungan Bila. Bendungan ini hanya membendung Salo Bila dan mengalihkan alirannya menuju 6000 hektar sawah yang berada di Sidenreng Rappang maupun Wajo. Sebuah celah sempit di tepi saluran irigasi menantangku untuk melewatinya. Sreett…! Xtrada berhasil melibas celah tersebut. Aku  semakin tergoda untuk melibas lintasan sempit tersebut. Dukk..!! Bongkahan batu yang tersembunyi di balik rumput membuat sepedaku oleng dan .. Byuuurr!! Aku terlempar ke saluran irigasi.

“Yah! Ayah! Sudah jam lima seperempat. Buruan sholat subuh.” Istriku membangunkan diriku yang tidak terbangun oleh adzan subuh.

Rupanya tiga minggu berhenti menggowes membuat aktivitas ini terbawa-bawa sampai mimpi. Aku berjanji akan melibasnya di dunia nyata suatu saat nanti. Bukan hanya dalam mimpi 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s