478 hari tanpa televisi

Hari pertama piala dunia 2010 di Afrika Selatan televisiku tiba-tiba ngadat. Tepat jam 8 malam tiba-tiba saja gambarnya hilang setelah sebelumnya ada bunyi tat..tiit..tat..tiit lalu ada garis putih mendatar.

Menurut analisa rekanku yang biasa menangani sirkuit televisi masalah tersebut disebabkan transistor horisonta yang rusak. Tidak mahal hanya 20.000 ribu saja harganya. Aku malas membawa televisi tersebut ke tukang servis. Akhirnya kubiarkan saja televisi itu teronggok di dapur sampai sekarang.

Hari ini tepat 478 hari aku hidup tanpa televisi. But I’m fine, safe and sound :). Masih waras dan tidak mengalami gangguan mental apapun.

Kunci hidup tanpa telelvisi adalah dengan mengandalkan sumber informasi lainnya yaitu koran dan internet. Dari dua media tersebut sebenarnya kita sudah cukup mendapatkan informasi/perkembangan dunia.

Kelebihan dari kedua media tersebut adalah fleksibilitas dalam mengaksesnya. Berbeda dengan televisi dimana kita didikte oleh jam tayang. Kecuali kita memiliki televisi dengan fasilitas perekam. Kelebihan lain dari media beraksara adalah memungkinkan kita untuk berhenti, mencerna dan merenungkan. Pada televisi kita serasa dicekoki tanpa kesempatan untuk mengunyah lebih lama.

Iklan

Komentar ditutup.