Konsistensi peta dan atlas sebagai manifestasi kedaulatan dan sikap politik negara kita

Sikap politik suatu negara dapat kita lihat dari bagaimana suatu negara menggambarkan peta negaranya dan negara-negara lain. Negara-negara Barat yang secara historis dan terkini merupakan sekutu Israel selalu mencantumkan apa yang dulunya merupakan negara Palestina sebagai Israel.

Klaim RRC atas Kepulauan Spratly seperti yang tampak pada peta RRC terbitan Chengdu Cartographic Publishing House

Begitu pula RRC yang tidak mengakui pemerintahan Nasionalis di Taiwan selalu memasukkan Taiwan sebagai salah satu propinsinya. RRC secara konsisten juga memasukkan wilayah sengketa di Laut Cina Selatan yakni Kepulauan Spratly (yang mereka anggap sebagai wilayahnya berdasarkan aspek historis walaupun secara geografis lebih dekat dengan negara-negara ASEAN) dalam peta-peta yang mereka keluarkan.

Jepang yang tidak pernah mengakui aneksasi Kepulauan Kuril oleh Rusia sejak Perang Dunia II juga selalu mencantumkannya dalam peta mereka. Padahal secara de facto kepulauan tersebut kini dalam penguasaan Rusia.

Bagaimana dengan Indonesia?

Peta-peta yang beredar di Indonesia yang sering dipakai sebagai bahan ajar di SD sampai SMA merupakan salah satu peta yang paling tidak konsisten dan tidak akurat. Peta-peta tersebut banyak mengabaikan pulau-pulau terdepan yang menjadi pangkal pengukuran batas wilayah teritorial maupun ZEE.

Coba kita tengok lagi berapa banyak diantara peta-peta tersebut yang mencantumkan Pulau Miangas di Sulawesi Utara ataupun Kepulauan Mapia di Papua?? Mungkin karena kecil banyak dari pulau-pulau terdepan itu yang diabaikan dalam peta-peta tersebut. Padahal dari pulau-pulau itu kita menarik garis laut territorial sejauh 12 mil.

Setali tiga uang dengan kondisi peta dalam negeri, ketidakkonsistenan peta-peta yang beredar juga terjadi ketika memetakan negara-negara lain. Beberapa peta masih memakai ejaan lama atau nama lama ketika mendeskripsikan nama kota-kota di negara-negara lain misalnya Syanghai vs Shanghai, Pusan vs Busan, Peking vs Beijing.

Terkait dengan sikap politik negara kita yang hanya mengakui negara Palestina maka sudah seharusnya jika peta-peta yang beredar di negara ini menunjukkan hal tersebut. Tapi apa lacur, bahkan dalam satu buku atlas yang beredar ada yang ditulis ditulis Palestina tetapi di bab lain ditulis Israel.

Peta dan atlas

Amburadulnya peta-peta yang beredar ini tentu menimbulkan pertanyaan dari mana mereka mengambil sumber petanya? Tidak adakah lembaga yang mengkoreksi dan mengontrol peta-peta tersebut?

Seperti halnya buku-buku kitab suci yang harus melalui pemeriksaan Departemen Agama sudah selayaknya kita menerapkan hal serupa untuk peta maupun atlas yang beredar di Indonesia. Departemen Dalam Negeri, Departemen Luar Negeri serta Departemen Pertahanan dan Keamanan harus bertanggungjawa terhadap hal ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s