CN-235-220M VIP versus Boeing Business Jet 2 (B-737-800)

Simak cuplikan berita dari Media Indonesia edisi 10 Februari 2012 berikut ini.

Media Indonesia, 10 Februari 2012

Ada kesan bahwa MI menggiring opini pembaca bahwa pembelian itu adalah pemborosan serta tidak mengutamakan produk dalam negeri. Yang tidak disebutkan oleh MI adalah, selain menggunakan CN-235, Korea Selatan dan Malaysia juga menggunakan Boeing dan Airbus A-319 sebagai pesawat kepresidenan.

Korea Selatan, Malaysia, Turki dan Uni Emirat ArabΒ  adalah negara-negara yang tidak seberapa luas/panjang wilayahnya jika dibandingkan dengan Indonesia. Korea Selatan panjangnya hanya separuh Pulau Jawa, sementara Malaysia hanya sepanjang Sumatera dan Kalimantan saja. Dengan pesawat Boeing 737-900 saja Jakarta-Makassar membutuhkan waktu 2 jam, Jakarta-Medan juga hampir sama 2 jam. Jadi untuk menempuh Medan-Makassa (Sumatera – Sulawesi) membutuhkan waktu 4 jam. Ini belum sampai Maluku apalagi Papua.

CN-235 VIP versus Boeing Business Jet (B-737-800) (CN-235 : courtesy of Bagoes20409 of Kaskus))

Membandingkan CN-235 dengan Boeing Business Jet (BBJ-2) ibarat membandingkan angkot dengan bus eksekutif AKAP. Bisa anda bayangkan seandainya presiden kita menghadiri KTT di Eropa dengan memakai pesawat CN-235. Berapa banyak waktu yang terbuang karena pesawatnya harus singgah di banyak bandara/negara untuk mengisi bahan bakar. Selain tidak efisien hal ini tentunya rumit dari sisi keamanan maupun konsuler. Begitu sampai di negara tujuan presiden kita sudah kelelahan.

Ferry flightΒ  ketika kita mengirim pesawat CN-235 MPA pesanan Korea Selatan bisa menggambarkan kondisi ini. Bandingkan dengan rute reguler Garuda, Jakarta-Incheon yang tidak memerlukan transit dan ditempuh selama 6 jam. Sementara CN-235 ini harus transit di Tarakan-Manila-Taipei-Incheon baru mendarat di Gimpo.

Ferry flight pengiriman pesawat CN-235 MPA pesanan Korea Selatan (courtesy wilapri of indoflyer)

MI menyampaikan fakta dengan menyembunyikan fakta lainnya πŸ™‚

Iklan

13 responses to “CN-235-220M VIP versus Boeing Business Jet 2 (B-737-800)

  1. sy setuju dgn pendapat pak ira mengenai penggiringan opini oleh MI. tp yg jadi pertanyaaan buat sy apakah tdk ada jenis lain dr pesawat kepresidenan yg memiliki spec yg hampir mirip dengan Pesawat B-373-800 yg harganya lebih murah. Sy pernah liat d tv budget cost yg harus dikeluarkan bila mebeli pesawat ini. Bila d compare dgn pengeluaran melalui penyewaan pesawat jatuhnya lebih murah tetapi aspek maintenance pesawat tdk diperhitungkan. Bila dihitung ulang jatuhnya bisa 3x lipat anggaran lebih besar dibanding ongkos penyewaan.

    • Untuk pesawat sekelas B-737-800 tidak banyak alternatifnya Pak. Hanya Airbus yang sekelas dengan Boeing, atau mungkin Tupolev dan Ilyushin dari Rusia (tetapi punya catatan keselamatan kurang baik) . Dibawah itu ada Embraer dari Brasil yang sebenarnya memasuki bisnis pesawat terbang hampir bersamaan dengan PT DI (IPTN) hanya saja nasibnya lebih baik.

      Sepengetahuan saya pesawat yang disewa dari Garuda selama ini adalah pesawat komersial biasa (mungkin dengan sedikit modifikasi). Sedangkan Boeing Business Jet ini memang didesain untuk VIP transport dengan peningkatan kenyamanan dan keamanan.

      Saya rasa besaran 3x lipat dari biaya sewa terlalu besar Pak. Kecuali Garuda menyewakan dengan harga rugi. Kalaupun ini benar, tidak boleh seperti ini. Garuda tidak boleh dibebani oleh urusan yang bukan menjadi inti bisnisnya. Apakah dirawat oleh Garuda atau oleh TNI, saya rasa biaya perawatannya tidak jauh berbeda. Karena aspek perawatan itu ditentukan oleh produsen pesawat bukan user-nya.

  2. intinya om .. bukan banding membanding tapi liat ttuuu rakyat pinggiran kali yg di jakarta … sdh bangunannya amburadul, hidupnya amburadul joroook pula apa tdk maluu, kita didaerah liatnya saja malu. trus klo banding korea dll pendapatan riel rakyatnya brapa oooom. kan lbh irit klo sewa ke garuda duitnya balik lg ke apbn. klo soal interior n security kan bisa knock down, anak2 muda kita kan jago2 (ide utk buat paket knock down), manfaatkan itu. bisa2nya iztana bilang irit …. irit dari hongkong .. apa tdk dihitung tu duit bale lewat storan garuda (apa biaya iztana lepas dr apbn?)… apa iztana tdk pikir tuh .. pas turun dari pswt keren di negri org .. org2 sana membayangkan tukang sampah jakarta (yg di kunjungi n dikasihani tukang sampah london ya .. kl sy tdk keliru). sy pikir sebaiknya semua pejabat ri klo mau disumpah hrs disertai dgn/ dibudayakan budaya cuci kaki… cuci kaki pemulung, cuci kaki petani, cuci kaki nelayan … cuci kaki buruh n cuci kaki janda/yatim piatu miskin sebagai simbol melayani … kalo bisa mulai 2014 nnt. setujuu? kita tunggu …. salam

    • saya tidak setuju πŸ™‚

      fasilitas tersebut saya pikir masih wajar dibanding beban tugas yang diemban seorang presiden yang gajinya masih lebih kecil dibanding gaji Gubernur BI atau CEO Bank Mandiri (jangan-jangan anda tidak tahu fakta ini πŸ™‚ )

      jangan-jangan suatu saat anda akan berpikir Paspampres, Istana-istana kepresidenan, Sekretariat Negara dsb itu tidak perlu karena memboroskan uang negara. Presiden kita cukup berkantor dari kantor gubernur saja atau kalau bisa dari rumahnya saja. saya rasa tidak bisa seperti itu. semua fasilitas itu diberikan agar presiden leluasa dan nyaman menjalankan tugasnya.

      alasan anda bahwa karena rakyat Korsel pendapatannya lebih tinggi sehingga presidennya layak memakai Boeing/Airbus terbantahkan oleh fakta bahwa Pakistan, Nigeria dan beberapa negara lainnya yang pendapatan perkapita tidak jauh berbeda dengan Indonesia memiliki pesawat kepresidenan dari Airbus maupun Boeing.

      hitungannya tetap sama om. kalau beli sendiri biaya akuisisi memang besar. tetapi biaya operasi selanjutnya lebih kecil. kalau sewa ke garuda, tidak ada biaya akuisisi tetapi biaya sewa pasti lebih mahal dibanding biaya operasi ketika dimiliki sendiri. kecuali garuda mau merugi dan menanggung operasional cost-nya dari pendapatannya => kalau ini namanya menyelesaikan masalah dengan masalah πŸ™‚

      soal ide knock down, modifikasi pesawat besar tidak seperti karoseri mobil. sebelum kita berpikir soal kemampuan anak-anak muda kita tanya dulu pada PT DI dan GMF AeroAsia apakah mereka mampu melakukannya (karena merekalah pakarnya).

      tentang saudara-saudara kita yang belum beranjak dari kemiskinan, tidak sepenuhnya beban pemerintah. bisa jadi sebagian adalah salah kita juga. bisa saja kita kurang perduli dengan mereka dan malah menggunakan kondisi mereka untuk menyerang kebijakan pemerintah. sudahkah kita membayar pajak, kalaupun sudah apakah kita jujur dengan besaran pajak yang kita bayar? selain itu sudahkah kita mengeluarkan 2,5% dari penghasilan kita untuk mereka??

      saya pikir kita tidak bisa selalu memakai pola pikir yang menegasikan.

  3. Kok ane jadi terbawa-bawa OOT πŸ˜€
    Padahal maksud awal adalah mengkritisi pemberitaan Media Indonesia. Cara-cara pembentukan opini seperti itu tidaklah benar. Kenapa sekarang jadi melebar ke mana-mana.

    Komentar selanjutnya jika masih melebar akan ane delete. Jadi galak gini πŸ˜€

  4. Media saat ini dijadikan ajang propaganda bagi beberapa elit politik untuk membangun citra dan membunuh karakter lawan.. Ini bs dipahami karena MI yang merupakan media milik SP sedang gencar2nya membangun citra partai barunya, tidak ada jalan lain kecuali mencari sisi lemah dari pemerintah.. kalo dipikir2 lucu, toh nantinya pesawat itu jg ga akan dibawa pulang SBY ato dipake SBY secara pribadi.. Itu khan asset negara, yg bukan tidak mungkin akan menjadi alat transportasi SP bila dia bs jd RI1 kelak.. Jd sy kira opini2 yg negatif ini hanya akan menempatkan MI dan media Groupnya pada sisi antagonis.. rakyat sekarang sdh pintar,tdk perlu digiring dan diarahkan pd titik yg belum tentu benar.. Jadi klo nanti SP jd RI1, dia lbh baik jgn naik pesawat baru itu drpd ntar kemakan kritikan sendiri..wkwkwk…

    • Kita sebagai pembaca mesti kritis dan tidak menelan mentah-mentah apa yang disampaikan media. Andai SP terpilih menjadi RI1 kita bisa mengetes sejauh mana independensi MI dalam menyampaikan pemberitaan, apakah nantinya mereka masih se”garang” sekarang??

  5. trims untuk pencerahannya..
    pertanyaan yang kemudian muncul adalah penggunaan pesawat ini lebih dikhususkan untuk penerbangan dalam negeri atau luar negeri?
    ditambah pula dengan jarak dan bandara yang tersedia.
    tentunya menjadi tidak apple to apple jika membandingkan pesawat yang didesain untuk penerbangan antar pulau (dalam negeri) dengan penerbangan antar benua (luar negeri).

    • bisa jadi dipakai untuk penerbangan luar negeri dan dalam negeri mengingat negara kita yang sangat luas. jawaban pastinya saya tidak tahu πŸ™‚

      justru karena tidak apple to apple maka saya mengkritisi pemberitaan MI tersebut. BBJ-2 kenapa dibandingkan dengan CN-235?? dari segi kecepatan saja BBJ-2 828km/jam sedang CN-235 455km/jam. hampir separonya kan?

  6. Saya tidak percaya bahwa Media Indonesia bertujuan mulia untuk mengguggah intelektualitas rakyat. MI lebih suka mengguggah emosi rakyat.

    ” Power Tends to Corrupt ” itu berlaku bukan hanya di pemerintahan. Di swasta pun begitu termasuk pers. Media Indonesia & Metro TV dimiliki politisi. TV One & Viva News dimiliki poltisi. Sekarang grup Trans Corp yaitu Trans TV & cs-nya juga masuk Nasdem….. politisi lagi. Kuasailah pers maka anda akan menguasai bangsa. Nah disitulah korupnya. Banyak pers yang menggadang-gadang sebagai “suaranya rakyat”, “hati nurani rakyat”, itu semua hanya retorika komersial.

    Rakyat semakin cerdas??? Ya, tapi hanya sebagian kecil. Sebagian besar masih mudah digiring. Belum mampu menganalisa dan membentuk opini sendiri sehingga masih sebatas ‘follower’ atas opini orang lain. Inilah yang sangat disadari oleh politisi dan sangat diekploitasi oleh politisi terutama yang menguasai pers.

    Nah sekarang mengenai pesawat. BBJ itu pada dasarnya adalah pesawat B737-800 yang sudah dimodifikasi supaya bisa terbang sejauh A330 milik Garuda. Jadi kalo presiden (siapapun nanti) MISALNYA harus ke Tokyo, ia hanya butuh pesawat seukuran B737, karena memang delegasi yang ia bawa tidak besar. Sedangkan pesawat B737 milik Garuda nggak bisa terbang sejauh ke Tokyo. Yang bisa ke Tokyo dari Jakarta yang milik Garuda ya A330. Masak harus sewa pesawat Garuda A330 yang dua kali lebih besar? Kalau pesawat lebih besar otomatis sewanya lebih mahal. Biaya parkir pesawat dibandara asing juga tergantung dari ukuran pesawat. Makin besar makin mahal parkirnya. Seringkali pesawat yang ukurannya cocok untuk mengangkut presiden dan delegasinya tidak bisa menjangkau jarak tujuan. Jadi disewalah pesawat yang lebih besar. Dimana hematnya? Nah, dengan BBJ ini diperhitungkan, ukuran pesawatnya cocok untuk delegasi kepresidenan tapi jarak jangkauannya juga sejauh pesawat A330 milik Garuda.

    Mengenai perawatan, jangan disamakan dengan perawatan pesawat milik swasta atau jet pribadi. Kalau pesawat nggak terbang salah satu ongkos yang mahal adalah biaya parkir dan/atau simpan pesawat dihangar. Maskapai swasta atau jet-pribadi biasanya nggak punya lahan jadi sewa parkir dan hangar milik Angkasa Pura. Nah disitulah mahalnya. Pesawat nggak dipake tapi keluar uang terus buat ongkos sewa parkir. Tapi pemerintah punya tempat parkir sendiri yaitu Lanud TNI-AU yang tersebar diseluruh NKRI dan ada hangarnya pula. Biaya lain paling biaya bersih2x pesawat nggak mahal.

    Masih banyak lagi perbandingan biaya tapi saya bukan penulis buku. Mengenai CN235, itu pesawat bagus. Tapi saat ini TNI-AU masih punya pesawat Fokker-28 VVIP juga kadang dipake presiden untuk penerbangan jarak dekat. Kondisinya masih bagus, jadi mengganti pesawat yang masih bagus kondisinya hanya demi CN235, itu malah pemborosan bukan penghematan.

    • Terima kasih ulasan anda tajam dan cerdas.
      Memang begitulah kecenderungan media kita sekarang. Sayang banyak orang tidak menyadarinya. Mereka hanya menelan mentah-mentah apa yang disampaikan media.

  7. Ntar malah ada yang mikir, pesawat tempur yang harga per-unitnya 60 juta, terus kapal korvet yang harganya mencapai 200 jt, dsb jga ga perlu. Kemiskinan rakyat kita, bukan karena negara beli pesawat tempur, beli kapal perang, beli pesawat kepresidenan, dll. Kemiskian negara kita, tidak lebih karena salah urus. Itu mulainya tahun 1969 sampai dengan hari ini. Semua kebijakan, pronya kepada asing. Selain itu, ya faktor korup jga yang belum bisa dihentikan oleh pemimpin kita, baik itu karena terpaksa ataupun karena memang kemauannya.

    • Menurut pendapat saya, mulainya justru 1950 sampai sekarang. Era sebelum 1969 tidak lebih baik dari era setelahnya. Terbukti perekonomian kita sebelum 1969 morat marit dan inflasi membumbung tinggi. Masing-masing era kepemimpinan memiliki plus minus masing-masing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s