Ramalan Habibie yang menjadi kenyataan|Jembatan udara Nusantara

Indonesia negara kepulauan terbesar di dunia yang membentang sepanjang 5000 km membutuhkan angkutan udara dalam jumlah besar untuk menghubungkan antar pulau. Disaat mobilitas manusia tidak terlalu dinamis dan ekonomi belum terlalu berkembang angkutan laut menjadi tulang punggung penghubung antar pulau.

Memasuki milenium kedua mobilitas manusia semakin tinggi begitu juga arus barang semakin besar dan memerlukan waktu pengiriman yang semakin singkat. Angkutan laut tidak bisa memenuhi kebutuhan ini. Siapa yang bersedia menempuh Jakarta-Jayapura selama 8 hari dengan kapal laut?

Pesawat turboprop N-250 (sumber: id.wikipedia.org)

Satu dekade sebelum milenium kedua, Mr.Crack sudah memprediksi hal ini. Beliau memprediksikan bahwa angkutan udara antar pulau akan menjadi tulang punggung transpotasi Indonesia. Karakteristik Indonesia dengan gugusan pulau-pulau yang memiliki bandara kecil sangat cocok jika dilayani dengan pesawat turboprop berkapasitas 50-100 penumpang. Maka di akhir tahun 80-an dikembangkanlah proyek N-250 dalam rangka menyongsong era tersebut sekaligus menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Proyek visioner ini akhirnya kandas di tengah jalan ketika negara Indonesia terkena badai krisis moneter yang mengakibatkannya terkena radang tenggorokan. Untuk menyembuhkan diri Indonesia meminta pertolongan dari IMF. IMF memberikan pil pahit bagi Indonesia yang salah satu formulanya adalah industri-industri strategis yang dituding memboroskan anggaran negara harus dibonsai/diamputasi.

Pemerintah yang kalut dan ingin cepat sembuh menelan mentah-mentah pil pahit tersebut. Industri strategis pun dipangkas, proyek pengembangan yang sedang berjalan dihentikan. Sementara yang masih sehat dijual murah dalam rangka mendapatkan dana segar. Investor luar negeri bertepuk tangan karena ada obral perusahaan-perusahaan bagus. Sementara nun jauh di sana mereka cekikikan karena pesaingnya dari Indonesia tidak bergigi lagi.

Pangsa pasar N-250 pun diambil oleh negara lain. Kini pesawat-pesawat ATR 72-500 dan Xian XA-50 (yang kualitasnya agak meragukan) berseliweran di udara Indonesia. Sementara kita hanya menjadi penonton saja.

Pesawat ATR 72-500 milik Wings Air di Bandara Hasanuddin-Makassar (koleksi pribadi)

Iklan

9 responses to “Ramalan Habibie yang menjadi kenyataan|Jembatan udara Nusantara

  1. waahh.. wordpress kurang familiar pak ira, ntar lak belajar lagi malah gak jadi nulis..
    hehee….

    saran P.Ira kalau bisa yg tampil di halaman utama jangan hanya satu artikel kl bisa 3-4 artikel lainya jdi biar orang lain tertarik ma yg lain yg update dan ga usah nyari2 di arsip.. heheee… 🙂

  2. Hi irawan, I am not skilled enough to read your language (or understand what i read….;-) but you seem to cover your interests in aeroplanes and motor vehicles!
    Very nice blog with beautiful pictures!
    I am sure you will soon have a constant group of followers!
    compumatrixer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s