Warteg dan Starbucks

Jumat, 10 April 2015 adalah hari pertama saya bergabung dengan sebuah perusahaan multinasional dari Amerika Serikat. I am hired as an application engineer.

Setelah turun dari bus AO Lippo Cikarang-Blok M di Carrefour Cawang, saya melanjutkan perjalanan dengan KRL sampai stasiun Tanjung Barat.

Jam masih menunjukkan angka 7:15 saat keluar dari stasiun Tanjung Barat. Di sebelah kiri tampak warteg yang baru buka dengan pengunjung hanya dua orang. Warteg terlihat bersih. Saya pun mampir. Nasi dengan sayur daun singkong, ditambah oseng kentang dan sebutir telur berharga 10.ooo rupiah. Cukup murah.

Siang hari, seorang rekan yang sudah bekerja terlebih dahulu di perusahaan yang baru saya masuki bercerita kepada saya. Pada saat menawarkan pekerjaan di tempatnya sering kali ditanya oleh calon pekerja apakah di kantornya ada outlet Starbucks? Di bergumam, memang gajimu berapa mau  nongkrong di Starbucks setiap hari?

Hidup di kota besar dan dikelilingi oleh berbagai kemudahan dan pilihan hiburan maupun tempat nongkrong merupakan godaan bagi para new employee. Mereka yang tidak pandai-pandai mengatur keuangan dan prioritas bisa terseret pada gaya hidup metroplis bahkan hedonis yang pada akhirnya tidak menyisakan enough money for savings.

Honestly, I am thrifty. I can not spend 40.000 to get a cup of coffee at Starbucks. With those money I can get four meals at Warteg.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s