Buku dongeng terbaik|365 dongeng dunia sepanjang masa

Sudah lama aku ingin memiliki sebuah buku dongeng untuk anak-anakku. Pernah kutemukan buku dongeng bagus terbitan Gramedia tetapi harganya sangat mahal, 180.000. Buku “365 Dongeng Dunia Sepanjang Masa” ini menawarkan sebuah buku dongeng berkualitas dengan harga yang terjangkau, 95.000.

365 Dongeng Dunia Sepanjang Masa

Tiga ratus enam puluh lima dongeng di dalamnya dijamin akan membuat anda tidak akan kehabisan bahan dalam mendongeng. Bisa jadi suara kita yang akan habis karena anak-anak terus meminta dibacakan dongeng lainnya.

Dihimpun dari berbagai belahan dunia, buku dongeng ini menghimpun berbagai legenda, epos, fabel maupun mitos yang sudah dipilah kandungan cerita dan pesannya. Bahasanya lugas sehingga mudah dipahami anak-anak.

Pada akhir dari tiap cerita terdapat rangkuman pesan moral dari tiap dongeng sehingga akan mempermudah kita dalam menyampaikannya tanpa harus bersusah payah merumuskan sendiri. Ilustrasi dari tiap dongeng cukup detil dan sangat menarik walaupun ukurannya cukup kecil.

Masih merasa 95.000 terlalu mahal untuk buku ini? Segera ke toko buku dan cek fisik bukunya. Lalu anda akan berkata bahwa 95.000 adalah harga yang pantas.

Iklan

Liburan berkesan untuk anak-anak|fun and adventure

Pada dasarnya anak-anak tidak pilih-pilih obyek wisata dalam liburannya. Bahkan obyek wisata sekedarnya pun seringkali menghadirkan keceriaan.

Bermula dari penuh sesak dan panjangnya antrian di sebuah obyek wisata yang baru dibuka membuat kami harus mengalihkan acara wisata anak-anak ke sebuah kolam ikan yang memiliki sebuah saung di tengah kolam dan ke sebuah bendungan irigasi.

Berendam kaki di kolam ikan Baruku

Sebenarnya tidak banyak yang bisa dilakukan di tempat ini selain memberi makan ikan, berendam kaki  dan bermain rakit di tengah kolam dan bermain rakit kayu. Tetapi acara yang sederhana ini ternyata bisa mendatangkan kegembiraan bagi anak-anak karena mereka merasa fun dan tertantang untuk meniti jembatan kayu menuju saung di tengah kolam.

Melihat dan memberi makan ikan dari dekat sungguh menyenangkan. Bahkan kegembiraan menaiki rakit kayu melebihi kegembiraan menaiki bebek air yang biasa terdapat di arena wisata air. Anak-anak  merasa tertantang untuk mengatasi rasa takutnya akibat rakit yang mudah miring dan kurang stabil.

Bermain rakit kayu @ kolam ikan Baruku

Jangan kecewa jika anda tidak bisa ke waterboom atau ia terlalu sesak dengan pengunjung. Cari saja sebuah sungai besar yang berair jernih dan memiliki ceruk atau lubuk yang bisa menggantikan fungsi kolam renang.

Terbukti anak-anak tidak peduli apakah ia bermain di waterboom atau sungai biasa. Asalkan  mereka bisa berenang dan bermain air mereka pasti senang. Lagi-lagi unsur adventure dari bebatuan sungai yang runcing dan licin, tepian berpasir dan air yang agak deras membangkitkan kegembiraan anak-anak.

Berendam di sungai Bila

Indonesia merupakan tempat sampah terbesar di dunia

Salah satu kelakar terbaru adalah Indonesia merupakan tempat sampah terbesar di dunia. Mengapa demikian? Karena di Indonesia orang bisa membuang sampah semaunya di mana saja dan kapan saja, anywhere anytime. Tidak heran jika dari puncak gunung hingga tepi lautan (bahkan mungkin sudah ke tengah) sampah berserakan.

Tanpa rasa bersalah sedikitpun orang-orang tersebut membuang sampah seenaknya seolah-olah bumi hanya untuknya, seolah-olah tidak ada hari esok dimana anak cucunya akan menempati bumi yang sedang ia kotori. Atau bisa jadi mereka tidak berpikir panjang, tidak pernah berpikir bahwa yang ia lakukan jika terakumulasi sekian lama dan dilakukan oleh banyak orang akan membuat bumi ini sesak, tidak nyaman, tidak subur, berbau, beracun karena sampah dimana-mana.

Mungkin selama ini kita sudah mengajari anak-anak kita, murid-murid kita untuk membuang sampah pada tempatnya. Tetapi kita sering lupa untuk menyediakan tempat tersebut. Tidak heran jika halaman sekolah penuh dengan sampah berserakan, demikian juga sebuah lapangan di depan kantor kecamatan. Kalaupun ada tempat-tempat umum yang bersih seringkali itu setelah disapu oleh petugas kebersihan bukan akibat tersedianya tempat sampah dan hasil dari kesadaran dan disiplin membuang sampah.

Tempat sampah di sebuah halte

Well, jika kita ingin mengajarkan sesuatu maka alat praktek dan contohnya harus ada. Bagaimana mungkin kita mengajari mereka untuk membuang sampah pada tempatnya tetapi kita tidak menyediakan tempat sampah tersebut? Bagaimana mungkin mereka akan membuang sampah pada tempatnya sementara orangtua ataupun guru yang merupakan panutan mereka melakukan hal sebaliknya.

Leave nothing except your footprint. Aku sangat menghargai kredo ini. Kemanapun kita pergi hendaknya selalu ingat dengan kredo ini. Mulai dari diriku sendiri maka aku selalu membawa pulang (jika tidak ada tempat sampah di perjalanan) botol-botol minuman yang sudah kosong yang kukonsumsi selama bersepeda.

Pertanyaan kritis anak|Apa astronot sholat?

Si Emil seorang anak berusia 4 tahun 7 bulan. Dia suka sekali dengan segala hal yang berhubungan dengan pesawat terbang, roket, astronot dan planet. Dia mempunyai koleksi beberapa buku tentang pesawat, penerbangan ke bulan dan puluhan gambar-gambar pesawat maupun roket yang berada di komputer bundanya.

Astronot anak (sumber: vectorstock.com)

Usai sholat Mahgrib tiba-tiba si Emil mengajukan pertanyaan,
“Apa astronot sholat?”
Sebelum sempat dijawab dia sudah menjawab sendiri pertanyaannya,
“Pasti tidak. Karena tidak bisa wudlu, karena tidak ada air.”
“Trus tidak bawa sajadah sama peci.”
“Lalu, tidak bisa sujud karena melayang-layang.”

Pertanyaan anak-anak seringkali sangat kritis dan tidak terduga. Sudah siapkah kita memberikan jawaban yang sesuai dengan pemahaman dan pengetahuannya?

Mencerdaskan anak|Antara rantang, susu formula dan buku

Banyak orang berlomba-lomba memberikan makanan bergizi terbaik bagi anak-anaknya. Diantaranya dengan membelikan mereka susu formula yang mahal dengan harapan anaknya memiliki perkembangan otak yang bagus sehingga nantinya menjadi anak yang cerdas. Meski demikian banyak yang tidak menyadari bahwa hal itu belum cukup.

Seharusnya ketika kita berkeinginan memberikan gizi terbaik bagi anak kita pada saat itu juga seharusnya kita sudah berpikir untuk memberikan buku terbaik bagi mereka.

Membaca buku untuk anak (sumber: tlc.howstuffworks.com)

Sebagian besar dari kita lebih menyukai memelototi brosur/katalog produk-produk elektronik maupun perangkat rumah tangga daripada katalog buku. Bahkan ketika mendengar katalog buku pun bayangan kita adalah kartu katalog yang berwarna putih kusam yang berada di perpustakaan. Bisa jadi banyak diantara kita malah belum pernah melihat katalog buku kontemporer yang dikeluarkan oleh penerbit buku.

Bisa dimaklumi karena katalog ini biasanya dikeluarkan oleh penerbit buku pada saat pameran buku. Dan bisa dipastikan bahwa pameran buku peminatnya tidak akan sebanyak pameran lainnya apalagi jika dibandingkan pekan raya.

Misalkan kita berikan dua buah katalog, yang pertama adalah produk MLM dan yang kedua adalah buku bisa dipastikan orang-orang akan melirik produk-produk MLM daripada buku. Kita seringkali tidak merasa berat mengeluarkan uang ratusan ribu untuk membeli rantang plastik yang bergaransi seumur hidup, namun merasa berat sekali untuk mengeluarkan puluhan ribu untuk membeli buku yang akan menggaransi masa depan anak kita.

Ibarat membuat pisau. Jika kita ingin memiliki pisau yang tajam maka kita membutuhkan baja yang kuat dan batu asah. Gizi yang baik adalah baja yang kuat sementara buku adalah pengasahnya.. Jika kita ingin otak anak kita menjadi tajam maka kita memerlukan makanan bergizi dan buku-buku yang baik.

Buku untuk bayi – Baby Touch and Feel

Memperkenalkan buku kepada anak bisa dilakukan sedini mungkin bahkan ketika anak masih bayi.

Baby Touch and Feel merupakan seri buku yang didesain untuk diberikan kepada anak usia kurang dari dua tahun. Buku ini bertujuan untuk merangsang aktivitas motorik anak, meningkatkan kepekaan indera peraba, memperkenalkan buku sejak dini, dan memperkenalkan berbagai warna, bentuk dan tekstur binatang atau benda-benda yang lazim ditemui.

Baby Touch and Feel - contoh sampul dan halaman buku

Buku ini memiliki beberapa seri a.l. Playtime (berisi berbagai mainan), Bathtime (berisi berbagai mainan dan benda-benda yang sering dijumpai saat mandi), Wild Animal (berisi berbagai jenis binatang liar, Farm (berisi berbagai hewan ternak). Semua buku tersebut memiliki bagian yang bertekstur. Misalnya ketika memperkenalkan ayam kita mengarahkan jari anak untuk meraba tekstur bulu ayam. Sehingga tidak hanya mengetahui bentuk dan warna benda-benda atau binatang anak-anak bisa merasakan bagaimana rasanya memegang obyek yang sebenarnya.

Tiap buku terdiri dari dua belas halaman dengan kertas yang tebalnya hingga 2 mm. Meskipun bayi belum bisa mengontrol gerakan tangan atau jarinya dengan benar, kertas yang tebal akan membuat buku menjadi awet dan lebih mudah dibuka. Halaman buku tidak mungkin terlipat-lipat atau robek meskipun anak membukanya dengan kasar.

Baby Touch and Feel - ketebalan halaman 2 mm

Faktor Ekonomi Pengaruhi Minat Baca (Lebih penting lagi kesadaran membaca)

Duta Baca Indonesia Tantowi Yahya mengatakan penyebab utama minat baca di kalangan masyarakat Indonesia masih rendah karena faktor ekonomi.

“Ternyata minat baca berkaitan dengan kemampuan ekonomi suatu keluarga untuk membeli buku atau koran,” katanya usai menghadiri pencanangan gerakan “Kalimantan Barat Membaca” di Pontianak, Kamis.

Tantowi mengatakan kebutuhan primer masyarakat Indonesia masih diprioritaskan untuk makan, biaya sekolah, buku pelajaran, sedangkan buku bacaan, bukan suatu prioritas.

Menurut dia, untuk menanamkan minat baca dari awal membutuhkan peran orang tua apalagi peran ibu.

“Karena itu sebagai Duta Baca Indonesia saya memiliki tugas untuk hadir dalam acara-acara yang terkait dalam minat baca. Namun yang paling penting adalah penyadaran dari ibu-ibu,” kata Tantowi.” PONTIANAK, KOMPAS.com–Jumat, 29 Oktober 2010 | 01:40 WIB

==================================================================

Selain faktor ekonomi, ada faktor kesadaran dan pemilihan prioritas. Contoh sederhana, berapa banyak orang yag memaksakan diri mengambil cicilan perabot rumah tangga seharga ratusan ribu atau jutaan rupiah. Sebaliknya, berapa banyak yang mau menyisihkan puluhan ribu untuk membeli buku bagi anak-anaknya? Lebih-lebih menginvestasikan jutaan rupiah bagi buku-buku yang mendukung pegembangan minat baca anak sejak dini?

Pengalaman dan pengamatan pribadiku membuktikan hal tersebut. Di sebuah perusahaan elektronik yang besar dengan standar gaji jauh diatas UMR ternyata hanya berapa orang yang rutin membeli buku atau majalah. Begitu juga obrolan/diskusi sehari-hari tentang buku tidak terlalu banyak. Bandingkan dengan berapa kali mereka gonta-ganti gadget. Bisa jadi mereka beganti ponsel sampai 2x setahun tetapi adakah sampai 2x dalam setahun mereka belanja buku-buku?

Orang-orang yang tidak memiliki kesadaran pentingnya aktivitas membaca, ketika tingkat ekonomi sudah membaik pun tidak akan terpikir untuk menjadikan/menaikkan buku dari kebutuhan tersier atau sekunder menjadi kebutuhan primer. Jadi peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat dalam meningkatkan minat baca harus diiringi pula oleh kampanye pentingnya kegiatan membaca bagi siapa saja.

Sinergi dengan Posyandu

Jika kini pemerintah hendak merevitalisasi Posyandu ada baiknya program peningkatan minat baca disisipkan dalam kegiatanPosyandu. Selain melayani kegiatan pengontrolan kesehatan fisik anak-anak dan ibu ditanamkan juga pentingnya memupuk minat baca anak-anak. Tidak cukup sampai di situ, perpustakaan keliling yang sudah ada bisa dimaksimalkan atau ditambah lagi unitnya untuk mengunjungi Posyandu.

Jadi tidak cukup hanya dengan kampanye tetapi ibu-ibu juga disuguhi buku-buku yang bisa mereka pinjam untuk mengaplikasikan kampanye minat baca tersebut. Ini adalah investasi awal. Setelahnya diharapkan mereka bisa menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli buku bagi anak-anak mereka.

Di mana membeli buku?

Harus disadari bahwa penyeberan toko buku diIndonesia amat sangat tidak merata. Toko-toko buku yang besar dan lengkap hanya berada di kota-kota besar saja (Pulau Jawa). Jangankan kota besar (kabupaten), ibu kota propinsi di luar Pulau Jawa yang memiliki toko buku besar saja bisa dihitung dengan jari.

Dengan demikian maka yang punya akses sampai ke daerah adalah pemerintah. Karena itu perpustakaan daerah yang bersinergi dengan Posyandu adalah solusi tersepat dan paling masuk akal untuk meningkatkan minat baca masyarakat di pelosok-pelosok.