Traffic Engineering

Sabtu malam Minggu saya ada janji dengan teman di Villa Mutiara Cikarang, tepatnya di Warung Ayam Bakar Monyet. Termasuk kategori orang rumahan dan tidak pernah hang out di malam hari, saya baru tahu ternyata Cifest Walk di depan Villa Mutiara Cikarang sangat ramai di malam Minggu.

Begitu ramainya sampai menimbulkan kemacetan luar biasa di Jl Raya Cikarang-Cibarusah. Kemacetan itu sudah terjadi ketika saya keluar dari arah kawan industri Hyundai ketika akan berbelok ke kiri.  Saya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk menerobos kemacetan tersebut.

Kosep Cifest memang bagus, sayangnya jalan-jalan di sekitarnya terlalu sempit untuk menampung luberan pengunjung. Tempat parkir juga kurang memadai. Dari sisi pengunjung dan pemakai jalan, banyak yang memarkir kendaraan di tepi jalan, angkot yang ngetem seenaknya dan klub-klub motor yang memajang kendaraannya di sepanjang tepi jalan ikut menambah kemacetan.

Dan akhirnya saya pun terlambat 20 menit akibat dari kemacetan tersebut.

Teringat dengan pameo “bukan seberapa dekat tetapi seberapa lama” Maksud dari pameo tersebut adalah seringkali yang dekat membutuhkan waktu tempuh yang lebih lama dibanding dengan yang jauh.

Jalan Lintas Selatan Bekasi

Tanpa harus manjadi pakar transportasi pasti kita tahu bahwa Jalan Inspeksi Kalimalang sudah overload dengan arus kendaraan yang melewatinya.  Jalan yang awalnya berfungsi untuk inspeksi saluran irigasi dan bahan baku air minum Jakarta yang berasal dari sunga Citarum itu, kini menjadi salah satu urat nadi transportasi Bekasi selain jalan raya Daendels yang terletak di sebelah utara.

Sebagai akses tercepat dan terdekat menuju kawasan industri di Bekasi, jalan ini dilewati oleh ribuan pekerja pabrik setiap harinya. Mereka yang tinggal di sekitar Bekasi Barat, Bekasi Timur, Tambun dan bekerja di 5 kawasan industri di Cikarang pasti menempuh jalan ini (dengan motor). Jangan heran jika di pagi dan sore hari ribuan motor nampak seperti laron. Jalan yang di beberapa bagian banyak lubang ini menjadi favorit (satu-satunya pilihan) para pengendara motor.

Dengan kondisi seperti itu pembangunan jalan lintas selatan Bekasi menjadi sangat mendesak. Dengan kemauan keras dan dukungan serta sinergi dari semua pihak sepertinya tidak terlalu sulit untuk mewujudkannya. Jika jalan itu terwujud maka orang-orang yang tinggal di sebelah selatan saluran irigasi Kalimalang seperti, Kota Legenda, Dukuh Bima, Jatimulya, Pondok Hijau, Podok Timur, Cikarang Baru dll tidak perlu lagi melalui Kalimalang untuk menuju kawasan industri yang sebagian besar berada di Cikarang bagian Selatan.

Jika kita perhatikan peta Bekasi sebenarnya untuk mewujudkan Jalan Lintas Selatan itu tinggal menggabungkan segmen-segmen jalan yang sudah ada di berbagai kawasan perumahan maupun industri seperti Lippo Cikarang, EJIP, MM2100, Grand Wisata, Dukuh Bima dan Jatimulya. Kondisi sekarang semua jalan raya dari arah selatan Bekasi bermuara ke Kalimalang dan jalan raya Daendels. Jika jalan itu terwujud maka dari Pondok Hijau sampai Delta Mas akan bisa ditempuh dengan aman dan nyaman. Apalagi untuk cyclist, pasti ini merupakan berkah bagi mereka karena saingan utama mereka ketika melintas Kalimalang adalah motorist.

Nasionalisme atau pelayanan?

Konsumen berhak mendapatkan pilihan (terbaik) dalam mendapatkan suatu produk karena itu monopoli semakin tidak populer. Setelah mendapatkan hak monopoli sangat lama kini Pertamina harus bersaing dengan perusahaan (asing) lain dalam bisnis distribusi bahan bakar kendaraan. Sebagai konsumen tentu ini berita baik bagi kita karena kita bisa memilih untuk mendapatkan produk yang serupa dan diharapkan para pemainnya akan saling bersaing sehingga konsumen akan semakin diuntungkan.

Kini persaingan itu ada di depan mata. Dalam satu wilayah yang sama di Cikarang terdapat dua SPBU, yaitu Pertamina dan Shell. Meski akhir-akhir ini SPBU Pertamina gencar mereformasi kinerja pelayanannya nampaknya itu hanya di awal-awal saja. Kini tidak pernah terdengar lagi frase “Dimulai dari angka nol ya.”. Mungkin jika anda mengisi bahan bakar mobil anda masih bisa mendengar ungkapan tersebut. Tapi jangan harap untuk sepeda motor.

SPBU Shell (Sumber: http://www.g2glive.com)

Itulah yang berbeda dengan SPBU Shell. Motor atau mobil mendapatkan perlakuan yang sama. ”Selamat pagi, Pak. Shell Super atau Super Extra? Full tank atau berapa liter? Uangnya 50 ribu ya, Pak. Kembaliannya 20 ribu. Ini receipt-nya. Ada lagi yang bisa dibantu? Terima kasih bapak. Hati-hati di jalan”.

Nampaknya Pertamina tidak cukup hanya dengan mengandalkan nasionalisme pembelinya dengan slogan “Kita untung bangsa untung” jika ingin mempertahankan pangsa pasarnya. Pertamina harus mengejar ketertinggalannya dari Shell dalam hal pelayanannya.