Rindu Ruang Terbuka Hijau – Central Park Meikarta

Sejak Central Park Meikarta dibuka untuk umum, taman seluas 100 hektar ini menjadi tujuan warga Cikarang di pagi dan sore hari. Di pagi hari beberapa orang yang sedang jogging maupun cycling tampak mengitari track sepanjang tepian danau seluas 25 hektar yang berada tepat di tengah taman.

Di sore hari kondisinya lebih ramai lagi. Arena permaianan gratis yang disediakan menjadi magnet bagi pengunjung yang memiliki anak-anak kecil. Selain itu pemandangan berlatar danau yang semakin indah di sore hari menjadi obyek selfie maupun fotografi. Beberapa orang nampak membawa kamera prosumer bahkan DSLR.

Cikarang (Kabupaten Bekasi) seharusnya memiliki lebih banyak taman seperti ini. Mayoritas warga yang merupakan buruh industri membutuhkan sarana pelepas penat seperti ini.

Antrian mobil hendak memasuki Central Park Meikarta

Jalan akses menuju Central Park Meikarta. Di kejauhan tampak beberapa area permainan gratis bagi pengujung

 

Iklan

Central Park Meikarta vs Central Park New York

Central Park Meikarta memang tidak seluas Central Park New York. Luas Central Park Meikarta adalah 100 hektar. Luas Central Park New York adalah 315 hektar. Sementara itu luas total Central Park Monas adalah 80 hektar.

Meski tidak seluas Central Park Newk York, Central Park Meikarta karena bentuknya yang tidak simetris dan berkelok-kelok terasa lebih panjang dan luas. Selain itu jika dibandingkan Central Park Monas yang merupakan milik pemerintah, Central Park Meikarta masih lebih luas meskipun dibangun oleh swasta.

Perbandingan Central Park: New York – Meikarta – Monas

Central Park Meikarta saat awal pembangunan

 

Salah satu sudut Central Park Meikarta pada awal pembangunan

Dari Bekasi ke Tangerang dengan KRL Commuter|Tidak lebih cepat tetapi bebas macet

Sudah tiga kali ini ke Tangerang dengan mode transportasi campuran, mobil pribadi dan KRL. Sebelumnya pernah juga dengan mode campuran shuttle bus dan KRL. Karena jalan tol sekarang menjadi semakin unpredictable maka shuttle bus tidak dipilih lagi.

Tujuan di Tangerang adalah Poris. Karena KRL belum menjangkau Cikarang maka perjalanan dengan KRL dimulai dari Bekasi Barat. Karena mencari tempat parkir mobil di dekat stasiun Bekasi Barat teramat sangat susah, maka mobil terpaksa diparkir di Giant Mega Bekasi. Ke Stasiun disambung dengan Opang (ojek pangkalan), tarifnya 20ribu.

Tidak ada kereta dari Bekasi yang langsung menuju ke Tangerang. Diperlukan dua kali transfer yaitu di Stasiun Manggarai dan Stasiun Duri. Proses transfer kereta ini yang menyebabkan perjalanan menjadi lebih lama karena jadwal kedatangan kita tidak selalu pas dengan jadwal keberangkatan di jalur berikutnya.

Jalur-jalur yang sepi penumpang

Di pagi hari, jalur Tanah Abang – Duri biasanya sepi karena sebagian besar penumpang turun di Stasiun Dukuh Atas dan Stasiun Tanah Abang. Bagitu juga jalur Duri – Tangerang di pagi hari selalu sepi karena sebagian besar penumpang di jalur Tangerang – Duri. Di jalur-jalur tadi kita bisa mendapatkan tempat duduk dengan mudah.

Biaya dan waktu

Rata-rata diperlukan waktu 1 jam 40 menit dari Poris menuju Bekasi Barat. Waktu tempuh ini bisa diperpendek jika frekuensi keberangkatan kereta diperbanyak. Tidak ada lagi proses antrian kereta masuk stasiun, biasanya menjelang Stasun Gambir kereta dari arah Duri mesti menunggu giliran masuk stasiun.

Ongkos kereta memang murah, tetapi yang mahal adalah biasa ojek dan parkir. Masing-masing ojek 40 ribu (pp), parkir 40 ribu (jam 7 pagi – jam 6 sore).

Di Stasiun Manggarai – Menanti kereta ke Bekasi

 

My ticket

Menyiasati kemacetan di GT Cikarang Utama dari arah Jakarta

Akhir-akhir di GT Cikarang Utama dari arah Jakarta selalu terjadi kemacetan di pagi dan sore hari. Penyebabnya adalah pembangunan tiang jembatan akses tol Jababeka yang memakan sebagian ruas jalan.

Kemacetan diGT Cikarang Utama dilihat melalui Google Maps (Panah kuning)

Kemacetan di GT Cikarang Utama dilihat melalui Google Maps (Panah kuning)

Setelah saya perhatikan beberapa kali, ternyata lajur paling kiri paling cepat bergerak dan melepaskan diri dari kemacetan. Kenapa bisa demikian? Karena ternyata gerbang tol paling kiri maju beberapa puluh meter ke depan dibanding deretan gerbang tol sebelah kanan. Selain itu gerbang tol paling kiri biasanya dilewati bus-bus dan truk-truk yang lebih bernyali untuk merangsek ke depan saat terjadi kemacetan.

Kemacetan gi GT Cikarang Utama dan pembangunan tiang jembatan

Kemacetan gi GT Cikarang Utama dan pembangunan tiang jembatan

Nahh fenomena ini bisa kita mafaatkan. Saya telah mencobanya sore tadi. Menjelang GT Cikarang Utama saya langsung ambil lajur paling kiri. Saya menguntit sebuah truk pengangkut mobil. Truk tersebut benar-benar menjadi pembuka jalan. Begitu keluar GT Cikarang Utama ia langsung merangsek ke depan. Ukurannya yang besar membuat kendaraan-kendaraan lain ciut nyali. Dengan mengekor di belakngnya saya pun segera terlepas dari kemacetan.

Silahkan mencoba!

Jembatan Siphone Cibeet ditutup selama dua bulan untuk perbaikan. Jalur Bekasi – Karawang via Kalimalang terputus.

Jembatan Siphone Cibeet yang menghubungkan Kabupaten Bekasi dengan Kabupaten Karawang via Kalimalang ditutup selama dua bulan untuk perbaikan. Penutpan dilakukan sejak tangal 2 April 2016 jam 00:00.

Selain untuk memperbaiki jembatan yang rusak parah (berlubang-lubang), penutupan ini juga dalam rangka pembuatan jalur pipa air dari Kalimalang yang memotong jalan.

Jembatan Cibeet ditutup selama dua bulan untuk perbaikan

Jembatan Cibeet ditutup selama dua bulan untuk perbaikan

Badan jalan yang tertutup alat berat menjelang Jjembatan Cibet dari arah Cikarang

Badan jalan yang tertutup alat berat menjelang Jjembatan Cibet dari arah Cikarang

Bagi anda dari Cikarang yang hendak ke KIIC atau Teluk Jambe ada dua aternatif. Pertama memutar melalui Karawang via Jalan Pantura. Kedua memutar melalui GIIC Delta Mas via Bendungan Cibeet kemudian masuk melalui Artha Industrial Hill/San Diego Hill.

jalur alternatf

Jalur alternatif Bekasi -Karawang

Dari 60 juta menjadi ratusan juta

“Tinggal di mana?”, tanya temanku.

“Di Taman Cibodas, Lippo Cikarang”, jawabku.

“Wahh, mengalami harga rumah dari 50 juta ke satu milyar, dong.”, ia menimpali sambil tertawa.

“Gak sampai satu milyar lah. Paling cuman 300 jutaan untuk yang belum renov.”

Meski kini sudah tinggal di Tangerang, teman kantorku yang pernah tinggal di Delta Mas dan Lembah Hijau ternyata masih mengikuti perkembangan harga rumah di Cikarang. Ia bercerita betapa susahnya dulu ketika ia akan menuju Delta Silicon 2 dari Delta Mas. Ada tiga pilihan semuanya tidak enak dan selalu macet, 1. Masuk tol keluar di GT Cikarang Barat, 2. Lewat Jl. Kalimalang, 3, Lewat kantor Pemda Bekasi via Pasar Serang.

Dulu, Taman Cibodas adalah lokasi paling terisolir di Lippo Cikarang. Tidak ada ruko dan minimart. Jika berbelanja harus ke Jl. Sisingamangaraja di dekat Waterboom Lippo Cikarang. Sejak kantor PT Lippo Cikarang berpindah ke Elysium, kemudian Delta Silicon 3-5 dibangun, lalu dibangun jalan tembus ke Delta Mas dan diikuti dengan pembukaan GT Cibatu KM34,7, semua berubah 180 derajad. Taman Cibodas justru menjadi lokasi terdepan di Lippo Cikarang. Konon sejak itu pula harga rumah di Taman Cibodas yang masuk kategori RSS langsung meroket.

Meski demikian Taman Cibodas tetap saja tidak terlalu ramai karena pusat keramaian berada di area komersial di luar komplek dan letaknya agak jauh. Taman Cibodas tetap menjadi sanctuary. Cocok bagi mereka yang saat pulang ke rumah ingin beristirahat dan tidak terganggu oleh hiruk pikuk.

 

Traffic Engineering

Sabtu malam Minggu saya ada janji dengan teman di Villa Mutiara Cikarang, tepatnya di Warung Ayam Bakar Monyet. Termasuk kategori orang rumahan dan tidak pernah hang out di malam hari, saya baru tahu ternyata Cifest Walk di depan Villa Mutiara Cikarang sangat ramai di malam Minggu.

Begitu ramainya sampai menimbulkan kemacetan luar biasa di Jl Raya Cikarang-Cibarusah. Kemacetan itu sudah terjadi ketika saya keluar dari arah kawan industri Hyundai ketika akan berbelok ke kiri.  Saya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk menerobos kemacetan tersebut.

Kosep Cifest memang bagus, sayangnya jalan-jalan di sekitarnya terlalu sempit untuk menampung luberan pengunjung. Tempat parkir juga kurang memadai. Dari sisi pengunjung dan pemakai jalan, banyak yang memarkir kendaraan di tepi jalan, angkot yang ngetem seenaknya dan klub-klub motor yang memajang kendaraannya di sepanjang tepi jalan ikut menambah kemacetan.

Dan akhirnya saya pun terlambat 20 menit akibat dari kemacetan tersebut.

Teringat dengan pameo “bukan seberapa dekat tetapi seberapa lama” Maksud dari pameo tersebut adalah seringkali yang dekat membutuhkan waktu tempuh yang lebih lama dibanding dengan yang jauh.